Tuesday, December 20, 2005

Menentukan Produk


Studi Kasus #2
“MENENTUKAN PRODUK”

PENDIDIKAN/PELATIHAN
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”


Tingkat L2 - “Menyusun Sistem Bisnis”


Diselenggarakan oleh:


M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)

Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
Business Management Consultancy & Education/Training Services
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541 E-mail muchtid@cbn.net.id


***
Dilarang memperbanyak Studi Kasus ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari
“M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia).
***
Studi Kasus #2
MENENTUKAN PRODUK
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.


Mereka masih di pekarangan rumah Danang, di depan garasi mobil, selesai pertemuan dengan Danang sejak hari Minggu pagi itu. Chris memarkir mobil Mercy-nya di situ dan semua sudah masuk ke dalam mobil Chris. Posisi mereka dalam mobil sama seperti waktu mereka datang, Chris yang menyetir sendiri mobilnya, Boy duduk di jok depan, Anton dan Nina duduk di jok belakang.
“Kemana kita, nih?”, tanya Chris.
“Ngedrop Anton dan Nina dulu, lalu ke rumah ‘lu ngambil mobil gue”, jawab Boy.
“Lu mau kemana sih, Boy? Buru-buru amat, baru jam setengah dua belas. Anton sama Nina aja nggak pengen buru-buru pulang dari tadi, ya nggak Nin?”, tanya Chris lagi.
“Gini aja” potong Anton. “Kita drop aja si Boy di rumah ‘lu, biar dia ngambil mobilnya terus pulang, gue sama Nina aja yang nemenin ‘lu makan siang di restoran pilihan ‘lu”.
“Oh, maksud ‘lu mau traktir kita-kita ini makan siang. Bilang dong dari tadi . . .”, kata Boy menujukannya ke Chris. “Ya, terserah ‘lu mau ke restoran yang mana . . . .” lanjutnya.
“Gue nanya, maksud gue barangkali ‘lu-‘lu pada tahu restoran mana yang jadi favorit masing-masing, terus kita cari kesepakatan mau ke restoran yang mana, gitu . . . .”, jawab Chris.
“Udah, terserah sopir ajalah, ya nggak . . . .”, kata Boy kepada Anton dan Nina.
“Setuju . . . .”, kata Anton dan Nina serempak.
“Eh, eh, eh . . . . . . enak aja gue dibilang sopir, gue pulang nih ya . . . . . . ?!!”, jawab Chris memotong.
“Sorry . . . . . ”, pinta Boy, Anton dan Nina serempak.
***
“Nah, ini restoran favorit gue . . . .”, kata Chris sambil memarkir mobilnya di depan sebuah restoran Padang. Anton, Nina dan Boy masing-masing terdiam, sebentar melihat ke restoran, sebentar melihat ke mukanya Chris, seolah-olah bertanya dalam hati, “Nggak salah nih . . . ., seorang keturunan Tionghoa seperti si Chris ini makanan favoritnya masakan Padang . . . .”. Semula mereka sudah membayangkan bakal makan enak di sebuah Restoran Tionghoa yang mahal.
“Ayo,” kata Chris sambil tersenyum maklum. “Tadi gue tanya mau ke restoran mana, katanya terserah gue . . . . Sekarang kok bengong . . . Udah, mari masuk . . . .”, ajaknya. Chris lalu masuk duluan ke dalam restoran.
“Selamat siang, Bos.” sapa seorang pelayan sambil mengantar mereka menuju ke meja yang disukai Chris di sebuah ruangan yang ber-A/C. Para pelayan sudah hafal karena Chris sering mengajak tamu-tamunya makan di restoran ini, termasuk masakan-masakan yang Chris paling doyan.
“Hari ini ‘gajeboh’-nya bagus sekali, Bos. Begitu juga ‘tunjang’-nya. ‘Dendeng blado’-nya empuk-empuk . . . . Mau pesan minuman apa aja nih, Bos?”, tanya si pelayan.
“Gue pesan seperti biasa, teh telor . . . ., ‘lu Boy, Anton, Nina, mau pesen apa . . . ?”, tanya Chris.
“Gue sama deh . . .”, jawab Anton.
“Gue juga . . .”, sambung Boy.
“Hmmm, jeruk panas aja deh . . . . .”, kata Nina.
“Tiga teh telor . . . ., satu jeruk panas . . .”, kata si pelayan mengulangi sambil menuliskannya di bon pesanan. “OK . . ., terima kasih Bos . . .” lanjutnya, terus pergi.
Seorang pelayan kemudian datang membawa empat nampan kecil dari bambu, masing-masing berisi handuk kecil basah, putih bersih, digulung dan baru dikeluarkan dari lemari pendingin. “Si Chris ini, waktu masih mahasiswa dulu badannya ramping dan atletis”, kata Boy mengingat-ingat masa lalu sambil melap muka dan tangannya. “Nggak heran kalau sekarang awaknya gembrot begini, doyannya masakan Padang yang pakai santan melulu . . .” Semua ketawa, juga sambil menyegarkan diri masing-masing dengan handuk dingin.
Tidak lama kemudian seorang pelayan lain datang membawa piring-piring kecil yang tersusun penuh di kedua belah tangannya berisi segala jenis makanan yang tersedia. Jrengngngngn. . ., dengan piawainya dia meletakkan semua piring yang tersusun di tangan kanannya di meja dengan sekali gerakan tanpa ada isinya yang tumpah. ‘Life show’ yang mengagumkan. Lalu giliran piring-piring yang ada di tangan kiri disusunnya satu per satu di atas meja sambil menata rapi semuanya.
Dua orang pelayan yang lain lagi menyusul, pelayan yang satu laki-laki dan pelayan yang satu lagi perempuan. Pelayan yang laki-laki membawa sebakul nasi yang masih panas mengepul dan empat gelas minum berisi teh tawar. Pelayan yang perempuan membawa piring kosong dan kemudian meletakkan satu per satu di depan Chris, Boy, Anton dan Nina. Lalu bakul bambu yang berisi nasi diterimanya dari pelayan yang laki-laki dan diletakkannya di depan Chris. Terakhir gelas berisi teh tawar diletakkannya satu per satu di samping piring kosong di depan masing-masing tamunya. “Selamat makan . . . . . .”, katanya sambil tersenyum manis.
Setelah pelayan menjauh dari mereka, Chris menjelaskan, “Pelayanan mereka ini yang menyebabkan restoran ini menjadi favorit gue. Bukannya hanya masakannya yang memang gue suka, tapi mereka benar-benar menyediakan ‘suasana makan yang enak’ dengan pelayanan yang hampir nggak ada celanya.”
Setelah mengambil nasi secukupnya dan mempersilahkan Boy, Anton dan Nina melakukan hal yang sama, kemudian Chris melanjutkan, “Sekarang gue baru sadar, kenapa selama ini gue harus menyediakan pelayanan yang baik di toko gue. Tidak lain karena pelayanan itu merupakan bagian dari produk barang elektronik yang gue jual, yang dalam buku yang kita pelajari ini dinamakan komponen produk. Sebelum dapat menyediakan pelayanan yang baik, segala produk yang ada di toko gue belum lengkap, artinya belum siap untuk dijual. Gue sekarang paham kenapa dalam buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha’ ini dikatakan kalau ingin menjalankan suatu usaha (bisnis) itu harus dimulai dengan menentukan terlebih dahulu dengan jelas produk yang akan disediakan”.
“Nah, itu yang Boy sama gue masih bingung, harus menentukan produk apa kalau mau menjalankan usaha (bisnis)?”, kata Anton memotong pembicaraan Chris.
Semua kemudian terdiam. Bukan karena tidak berminat membicarakan topik tentang menentukan produk yang ditanyakan Anton, akan tetapi karena masing-masing asyik menikmati makanan yang disajikan, didukung oleh kursi yang nyaman serta meja yang sesuai dengan dekorasi ruangan, ditambah dengan hembusan udara sejuk dari A/C serta alunan musik yang lembut. Benar-benar menyuguhkan ‘suasana makan yang enak’.
***
“Pak Danang saja, yang di antara kita paling menguasai ‘Sistematika Menjalankan Usaha’ ini, gue dengar katanya masih mengalami kesulitan menerapkannya. Apalagi kita, ya?”, kata Chris mencoba memulai kembali pembicaraan, masih di ruangan Restoran Padang tempat mereka santap siang, sambil menikmati teh telor yang telah dipesan sebelumnya.
“Iya, memang”, kata Boy mengiyakan. “Sebagaimana dikatakan oleh penulisnya pada halaman terakhir dalam ‘Bab Penutup’, bahwa isi buku ini adalah tentang suatu sistematika yang tidak mungkin dapat dipahami hanya dengan membacanya. Katanya kita perlu mengikuti pelatihan (workshop) dalam bentuk kelompok belajar yang dibimbing oleh instruktur-instruktur dengan menggunakan suatu studi kasus (case study)”.
“‘Ntar dulu, ‘ntar dulu”, Anton memotong lagi. “Ini apa hubungannya dengan kebingungan kita, terutama gue, tentang menentukan produk.”
“Alaa..., Anton . . .Anton . . .” jawab Boy. “Baru pagi tadi Pak Danang bilang sama kita-kita bahwa yang ‘lu tanya itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’.
“Dan gue ingat benar yang dikatakan Pak Danang, sambung Chris. “Bahwa sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut dengan ‘Teknis Berbisnis’ itu”.
“Memang gue akui, sampai sekarang gue masih belum mudeng dengan istilah ‘Teknis Berbisnis’ itu”, kata Anton mengaku terus terang.
“Lagian, ‘lu tuh kayak belum baca buku deh,” Boy mengomentari omongan Anton sambil mengeluarkan buku. “Kan ada tuntunan tentang ‘Rencana Produk’ dalam Sub Bab ‘Rencana Pemasaran’, nih lihat . . .. yang dalam Bab Rencana Bisnis merupakan Sub Bab yang pertama.”
“Udah . . ., gue udah baca. Malah makin gue baca, gue makin bingung karena penulisnya tidak mengupas lebih lanjut. Malah kata penulisnya ada ilmunya yang dapat dipelajari tersendiri”, jawab Anton.
“Maksudnya ‘Ilmu Pemasaran (Marketing)’,” sambung Chris. “Yang waktu gue kuliah barengan sama Boy dulu, gue sempat dapat dasar-dasarnya. Tapi ilmu itu baru dapat diaplikasikan setelah produk ditentukan, jadi tentang teori memasarkannya. Masalah ‘Rencana Produk’ yang jadi pikiran ‘lu itu adalah tentang menentukan produk, belum tentang memasarkannya, jadi nggak ada hubungannya dengan ilmu itu.”
“Terus terang,” Chris menambahkan, “setelah membaca buku ini, yang baru gue beli dan gue baca dari minggu lalu, ditambah penjelasan dari Pak Danang pagi tadi, kreatifitas dan daya inovasi gue tentang produk terasa mulai terpancing. Nantilah kita omongin . . .”
“Ngomongin sekarang aja deh . . .” Anton mendesak.
“Anton,” jawab Chris, “Lu tuh kudu sabar, ‘nape? Gue liat ‘lu masih garuk-garuk kepala waktu Pak Danang nerangin tentang “Teknis Berbisnis” dan “Sistematika Menjalankan Usaha” yang diibaratkannya seperti dua sisi yang berbeda dari sebuah coin. ‘Lu kudu endapin dululah barang satu-dua minggu ini. Atau kayak semacam tablet yang sama dokter dibilang jangan langsung ditelan, tapi diemut pelan-pelan sampai habis.” katanya dengan logat betawi-nya yang medok.
“Gini aja deh . . .” Nina menyela, “Dalam buku ini memang penulis bilang kalau mau mempelajari dan kemudian menggunakan sistematika, tidak cukup dengan hanya membaca buku ini. Dia menyarankan untuk mengikuti pendidikan/pelatihan yang diselenggarakannya secara reguler untuk umum. Jadi, gimana kalau saya minta dulu informasi selengkapnya tentang penyelenggaraan pendidikan/pelatihan reguler itu, terutama tentang waktu dan biayanya?”
“Betul, betul, . . .” jawab Anton, Boy dan Chris serempak tanda setuju. “‘Ntar sampai di rumah langsung telpon aja, siapa tahu hari Minggu mereka juga buka.” sambung Anton bersemangat dengan harapan agar dengan demikian ‘gatal di kepalanya’ segera hilang.
“Kalau sudah tahu jadwal penyelenggaraannya, maksud gue harinya, kita cari kesepakatan di antara kita hari apa yang kita sama-sama bisa menyediakan waktu.” kata Anton menjelaskan lagi.
“Kalau gue, jelas bisanya cuma hari Sabtu atau Minggu. Walaupun udah bosan, pengen brenti aja, tapi gue masih masuk kerja.” Boy mengkomfirmasikan hari-hari yang dia bisa ikut.
“Nina juga begitu. Kalau gue sih, hari apa aja terserah. Kalau ‘lu, Chris?” tanya Anton.
“Gue paling bisanya seperti hari ini, hari Minggu. Biasanya pembeli sepi dibandingkan hari-hari lain, walaupun suka-suka ada juga yang beli. Tapi nggak apa-apalah setiap hari Minggu toko gue tutup dulu, karyawan gue liburin seperti sekarang ini.” jawab Chris.
“Nah, jadi kita sudah sepakat harinya hari Minggu, ya? ‘Ntar kalau Nina sampe di rumah nelpon, dia tinggal nanya jam dan tanggal mulainya.” kata Anton menyimpulkan.
“Tapi, Nina,” kata Boy menyela, “Dari omongan Pak Danang, kayaknya dia juga pengen ikut deh. Tolong besok di kantor ditanyain juga, Nin, ya?.”
“Beres . . . .”, jawab Nina.
“Ada yang mau nambah minumannya?” tanya Chris.
“Udah, cukup, cukup . . . . .” Anton, Boy dan Nina menjawab serempak lagi.
“Kalau gitu,” kata Chris sambil memberi aba-aba minta bon kepada pelayan dengan gerakan tangannya, “Acara pertemuan kita hari ini sudah selesai. Selanjutnya sesuai rencana Boy tadi, ngedrop Anton dan Nina dulu, lalu Boy sama gue ke rumah gue ngambil mobilnya.”
“OK, Bos . . .” kata Boy meniru pelayan restoran, lalu diikuti Anton dan Nina.
***
Seperti biasa, Anton duduk-duduk di ruang tamu rumahnya sambil menunggu telpon, barang kali ada perusahaan, terutama bank yang telah dikiriminya surat lamaran bekerja, memanggil dia untuk wawancara. Tapi setelah dia mengikuti beberapa kali pertemuan dengan Pak Danang, pikirannya mulai terusik. Dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri kenapa dia masih berharap untuk diterima menjadi pegawai lagi?
“Jadi menentukan produk itu termasuk ‘Teknis Berbisnis’?” katanya dalam hati mulai memahaminya, “Nggak heran kalau gue nggak bisa atau nggak punya ide sama sekali tentang menentukan produk yang akan dijadikan objek menjalankan usaha, lha wong selama menjadi pegawai nggak pernah mikir ke situ. Yang dipikirin hanya kerjaan yang harus diberesin hari ini, besok dan seterusnya . . .” katanya menyesali diri.
Tiba-tiba telpon berdering, “Aduh, jangan-jangan . . . .” katanya dalam hati lagi sambil mengangkat gagang telpon.
“Hallo,” jawab Anton..
“Bang, . . .” kata Nina di ujung telpon sebelah sana.
“Oh, kamu Neng, kirain . . . . .” kata Anton memotong.
“Kirain cewek yang tempo hari ya . . . . .” jawab Nina bercanda.
“Kamu tuh, cemburuannya makin hari makin kelewatan, deh.” jawab Anton lagi dengan nada kesal.
“Yang jelas, Nina makin hari makin sayang sama Abang kok . . .” kata Nina manja, lalu lanjutnya, “Nggak, gini Bang . . . Nina udah bicara sama Pak Danang. Memang Pak Danang sangat berminat ikutan. Selama ini masalahnya beliau risih kalau ikut sendirian. Jadi beliau mendukung sekali rencana ini. Nina telah sampaikan bahwa yang menjawab telpon waktu itu di ‘M. A. Dani & Associates’ bilang bahwa pendidikan/pelatihan diselenggarakan dalam pertemuan sekali seminggu @ 2 jam, pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga ada 4 kelas, yaitu kelas K1 yaitu Sabtu pagi jam 9.00 sampai jam 11.00, kelas K2 yaitu Sabtu siang jam 14.00 sampai jam 16.00, kelas K3 yaitu Minggu pagi jam 9.00 sampai jam 11.00 dan kelas K4 yaitu Minggu siang jam 14.00 sampai jam 16.00. Nina udah sampaikan juga bahwa untuk tingkat pertama atau L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ diperlukan 4 kali pertemuan. Kelas yang belum terisi adalah kelas K3 dan kelas K4, sedangkan kelas K1 dan kelas K2 sudah terisi. Cuman beliau minta kita mendaftar untuk kelas yang masih kosong supaya seolah-olah menjadi kelas khusus untuk kita berlima aja. Dari 2 kelas yang masih dibuka pendaftarannya itu beliau memilih kelas K4.
“Bagus, beres kalau gitu.” kata Anton “Kamu langsung aja konfirmasi ke ‘M. A. Dani & Associate’, nggak usah nanya lagi deh sama Boy dan Chris. ‘Ntar biar Abang aja yang nelpon mereka untuk ngasih tahu kalau pendaftaran kita sudah diterima . . .”
***
“Selamat datang di ‘M. A.Dani & Associates’”, kata Direktur PT. Tatabisnis Usaha Globalisia sebagaimana biasa setiap kali membuka kelas baru. Kemudian sambil menampilkan slide ‘Company Profile’ di layar monitor komputer, dia juga menjelaskan tentang jasa ‘pendidikan/pelatihan’ yang dijadikannya sebagai objek bisnis dan bahwa di perusahaannya ini, dalam setiap kali melakukan kegiatan bisnis selalu menggunakan nama ‘M. A. Dani & Associates’ di samping nama badan hukum tersebut, dengan maksud untuk mengekspresikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan ini tidak tergantung hanya pada dia pribadi, akan tetapi sangat tergantung dari kesamaan cara berpikir (close in mind) antara dia dengan para associate-nya.
“Dengan demikian,” dia menegaskan, “Siapapun di antara associate yang bertugas menjadi fasilitator dan di kelas yang manapun, selalu mengutamakan agar tidak ada perbedaan dalam segala hal yang menyangkut materi yang diberikan dalam pendidikan/pelatihan ini.”
“Pak Danang pernah saya kenal, tapi hanya suaranya saja lewat telpon. Baru kali ini ketemu muka,” sambungnya, “sehingga pada waktu Ibu Nina mendaftarkan nama-nama yang akan ikut dalam kelas ini, saya sebetulnya telah mengetahui tujuan Pak Danang dan kawan-kawan mengikuti pendidikan/pelatihan yang kami selenggarakan ini. Namun demikian kepada Ibu Nina tetap saya tanyakan, untuk memastikan bahwa tujuan kelompok ini mengikuti pendidikan/pelatihan bukan hanya sekadar ingin mendapatkan/menguasai ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ sebagai pengetahuan, akan tetapi betul-betul akan menggunakannya dalam menjalankan usaha (bisnis), baik yang sedang berjalan maupun yang masih akan atau sedang direncanakan.”
Kemudian lanjutnya, “Kami mengutamakan penyelenggaraan pendidikan/pelatihan ini untuk kelompok peserta yang demikian, karena kami yakin bila kelompok peserta yang seperti itu menggunakan sistematika ini di samping penguasaan ‘teknis berbisnis’ yang sudah dipunyai, akan menjadi kelompok pengusaha yang tangguh dalam menghadapi era globalisasi yang sudah di ambang pintu ini dan itulah sebabnya menjadi Visi perusahaan seperti kami uraikan tadi.”
Sebagai kata penutup ditambahkannya bahwa associate yang akan bertugas menyelenggarakan kelas ini akan lebih tepat bila disebut ‘fasilitator’ oleh karena dia hanya menyediakan fasilitas berupa uraian/penjelasan atau presentasi tentang materi-materi yang menyangkut sistematika berdasarkan sudut pandang tertentu, serta menyediakan waktu untuk tanya-jawab dan diskusi.
“Walaupun menguasai materi, akan tetapi seorang associate tidak bermaksud menggurui. Kemungkinan di antara peserta ada yang lebih menguasai materi yang mempunyai judul yang sama, akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Bila perbedaan sudut pandang ini tidak disadari, maka yang terjadi adalah ‘pembicaraan yang tidak nyambung’. Sesuatu yang wajar-wajar saja dan harus kita sikapi dengan wajar pula.” katanya. Akhirnya dia mempersilahkan associate yang akan bertugas untuk memperkenalkan diri dan kemudian memulai tugasnya sebagai fasilitator.
***
Anton seperti tidak sabar menunggu dari sejak selesainya satu pertemuan sampai dimulainya lagi pertemuan berikutnya. Menunggu 1 minggu baginya terasa lama sekali, maklum dia belum mempunyai kegiatan apa-apa yang lain. Namun dengan tekun dipejarinya lagi materi yang ada dalam buku dan membandingkannya dengan penjelasan tentang materi yang sama yang diperolehnya di kelas, sehingga pemahamannya makin hari makin bertambah.
“Akhirnya sekarang kita sudah sampai di pertemuan ke-empat.” kata Anton berbisik kepada Boy. “Tapi gue masih belum ada ide tentang produk.”
“Ya, sebentar lagi bakal gue bilangin.” kata Chris yang duduk di sebelah Boy dan mendengar bisik-bisik Anton. Dia yakin sebentar lagi akan dibicarakan tentang tingkat-tingkat selanjutnya yang memerlukan ‘Studi Kasus’.
Di akhir pertemuan ke-empat dari pendidikan/pelatihan Tingkat L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ Direktur ‘M. A. Dani & Associate’ kembali hadir untuk menyerahkan sertifikat sebagai tanda selesainya penyelenggaraan kelas ini.
Sebelum acara penyerahan sertifikat, ditegaskannya bahwa di Tingkat L1 ini peserta baru mendapatkan ‘konsep’ dari sistematika. Masih jauh dari menguasai sistematika itu sendiri. Masih perlu diperdalam dengan menggunakan ‘Studi Kasus’ di Tingkat L2 - ‘Menyusun Sistem Bisnis’ dalam 8 kali pertemuan, dan demikian juga di Tingkat L3 - ‘Menjalankan Sistem Bisnis’ juga dalam 8 kali pertemuan. Setelah itu masih perlu ‘diasah’ lagi di luar kelas dengan kasus yang sebenarnya yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis).
“Untuk itu nanti, di luar kelas, kami selalu siap membantu bila masih mengalami kesulitan dalam menggunakan sistematika ini sehari-harinya.” katanya, “Sedangkan tentang masalah ‘teknis berbisnis’, kami tetap meyakini bahwa hal itu adalah lebih merupakan kompetensi dari pebisnis yang bersangkutan, bukan kompetensi kami.” tegasnya lagi.
“Mengenai ‘Studi Kasus’ yang diperlukan dalam rangka untuk lebih memahami konsep sistematika di tingkat L2 ini, bila memungkinkan, sebaiknya menggunakan kasus yang sebenarnya yang sedang dihadapi, karena menurut kami itulah yang terbaik. Namun kami dapat memaklumi bila ternyata para peserta pendidikan/pelatihan keberatan kasus yang sebenarnya tersebut dibahas di kelas, karena merupakan ‘rahasia dapur’ yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Walaupun tidak ada peserta lain yang di luar kelompok Pak Danang ini, akan tetapi setidak-tidaknya oleh fasilitator. Jadi bila sekiranya Pak Danang dan kawan-kawan tidak berkeberatan untuk menyediakanya, kami akan menggunakannya. Bila tidak, maka akan kami gunakan‘studi kasus’ yang telah kami sediakan.” katanya menawarkan.
“Ya, tidak berkeberatan.” Chris langsung menjawab sambil mengacungkan tangan. “Dapat saya sediakan karena belum menjadi ‘rahasia dapur’ dan memang baru merupakan angan-angan atau harapan. Saya bersedia menjadi nara sumber, akan tetapi sudah barang tentu saya hanya menyediakan secukupnya saja untuk keperluan kelas, sedangkan yang selebihnya masih akan saya simpan dulu karena merupakan rahasia ‘teknis berbisnis’ saya, yang orang lain di luar kelompok kami ini belum tentu mempunyainya. Pada saatnya nanti kami akan membahas lebih lanjut di luar kelas.” katanya menjelaskan. Danang tertawa mendengarkan penjelasan Chris karena dia memang sudah mengira sebelumnya bahwa Chris tidak akan keberatan bila diminta menyediakan ‘Studi Kasus’.
“Terima kasih Pak Chris.” kata Direktur ‘M. A. Dani & Associates’ “Nah, itulah juga sebabnya kami mengutamakan penyelenggaraan pendidikan/pelatihan ini untuk sekelompok pengusaha atau calon pengusaha seperti Pak Danang dan kawan-kawan ini,” lanjutnya, “Yaitu dengan perkiraan atau asumsi bahwa sekurang-kurangnya, salah seorang anggota kelompok mempunyai ide yang menyangkut tentang ‘teknis berbisnis’, antara lain tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anggota kelompok yang lain yang belum punya ide, akan dapat berpartisipasi sebagai eksekutif atau mungkin sebagai pegawai yang melaksanakan kegiatan dalam fungsi bisnis tertentu. Syukur-syukur lebih dari satu orang yang punya ide, sehingga akan ada lebih dari satu produk. Semakin banyak produk semakin bagus, sehingga dalam menjalankan usaha (bisnis) nantinya produk yang ‘kuat’ akan membantu produk yang ‘lemah’.”
“Baiklah Bapak-bapak sekalian dan Ibu Nina,’ katanya melanjutkan, “sebagaimana lazimnya setiap penyelenggaraan pendidikan/pelatihan, terimalah dari kami ‘Sertifikat Tanda Keikutsertaan’ dalam pendidikan/-pelatihan tingkat L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ yang telah selesai kami selenggarakan ini. Sampai bertemu kembali di L2 - ‘Menyusun Sistem Bisnis’ hari Minggu depan di kelas yang sama, yaitu K4.” lanjutnya sambil menyerahkan sertifikat masing-masing dan kemudian menyalami Danang, Anton, Boy, Chris dan Nina satu per satu.
Di luar ruangan kelas, Danang minta Anton, Boy, Chris dan Nina berkumpul sebentar, lalu katanya, “Hari ini kita masing-masing pulang saja dulu, akan tetapi Minggu depan kita adakan pertemuan lagi di rumah saya seperti biasa, ya? Maksud saya untuk membicarakan terlebih dahulu rencana produk yang menjadi idenya Chris, sehingga kita semua telah siap untuk membahasnya sebagai ‘studi kasus’ sebelum ke sini.”
Semua melihat ke Anton, mengira Anton akan protes lagi karena Chris masih belum menjelaskan produk apa yang akan dimasukkan ke dalam ‘studi kasus’. Ternyata Anton mengatakan, “Sekarang saya sudah merasa konsep ‘Rencana Bisnis’ sudah berada dalam kepala saya, sehingga saya sudah merasa siap untuk menyusunnya, tidak peduli apapun produknya asal informasi yang saya perlukan disediakan.”
Masing-masing kemudian berangkat pulang dengan cara yang sama seperti pada waktu datangnya. Danang pulang naik mobil yang dibawa oleh sopirnya. Chris dengan mobil yang disetirnya sendiri. Anton dan Nina ikut mobil Boy yang juga disetir sendiri seperti biasa, sehingga Boy harus mengantar mereka pulang dulu.
***
“Saya melihat Anton yang paling pesat kemajuannya selama mengikuti pendidikan/pelatihan.” kata Danang membuka pembicaraan setelah semua ‘anggota kelompok’ lengkap hadir dalam pertemuan di rumahnya. “Dari semula bingung mau usaha apa, kemudian bingung lagi dalam menentukan produk, sampai kemudian merasa telah siap untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’, apapun yang akan ditetapkan sebagai produk yang akan menjadi objek bisnis.” katanya memuji Anton.
“Saya hanya makin merasa yakin setelah mengikuti pendidikan/pelatihan selama 4 kali pertemuan ini, bahwa ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini pada akhirnya akan menuntun saya untuk menemukan sendiri ‘teknis berbisnis’ saya, sehingga untuk sementara ini tidak ada pilihan bagi saya selain akan mengikuti atau menerima saja dulu rencana produk yang ada. Walaupun ada kemungkinan saya tidak mempunyai kompetensi apa-apa dengan produk yang bersangkutan, akan tetapi saya yakin, sekurang-kurangnya saya dapat berkontribusi dalam menyusun ‘Rencana Bisnis’ nantinya” kata Anton.
“Baiklah, kalau begitu kita dengarkan saja terlebih dahulu ide dari Chris tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis, sambil masing-masing juga memikirkan tentang kontribusi yang akan diberikan nanti, baik di kelas maupun di luar kelas.” kata Danang mempersilahkan Chris.
“Sebenarnya ide tentang produk ini, seperti pernah saya katakan, mulai timbul dalam pikiran sejak saya membaca buku ‘Sistematika menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.” kata Chris memulai.
“Sebagaimana telah dijelaskan juga oleh fasilitator, bahwa dalam buku terdapat tuntunan dalam bentuk pertanyaan ‘Apa yang akan diperoleh pembeli setelah terjadi transaksi penjualan?’. Suatu pertanyaan yang sangat sederhana, akan tetapi memerlukan pemikiran yang mendalam. Dengan sendirinya pemikiran saya mengarah ke bisnis yang sedang saya jalankan. Jawaban saya dalam hal ini juga pada dasarnya sederhana, yaitu ‘pelayanan’ sebab walaupun saya menjual barang-barang peralatan elektronik, akan tetapi barang-barang itu adalah barang siap pakai yang dibuat oleh orang lain dan dijual juga di toko-toko lain yang berjejer di kiri-kanan toko saya. Lalu kenapa pembeli lebih suka membelinya di toko saya? Nah, pemikiran inilah yang saya katakan telah memancing daya kreatifitas dan inovasi saya.” katanya. Chris berhenti sebentar sambil menghirup teh yang sudah dihidangkan sejak tadi di depannya.
“Oh iya, silahkan diminum. Aduh saya sampai lupa menawarkan, saking seriusnya pertemuan kita kali ini.” kata Danang berbasa-basi.
“Bila saya bermaksud akan mengembangkan perusahaan saya, maka saya mau tidak mau harus kembali ke pertanyaan dasar tadi: ‘Apa yang akan diperoleh pembeli setelah terjadi transaksi penjualan?’ dan jawaban dari saya adalah tetap, yaitu ‘pelayanan’. Dengan kata lain bila saya bermaksud akan mengembangkan perusahaan saya, maka saya mau tidak mau harus mengembangkan bentuk ‘pelayanan’ yang selama ini saya berikan kepada pembeli, baik jenisnya, kualitasnya, maupun kuantitasnya.” kata Chris serius, melebihi seriusnya fasilitator waktu menerangkan hal yang sama.
“Iya, tapi dikembangkan menjadi bagaimana?” tanya Anton.
“Anton!” kata Boy memotong, “Gue ngeliat masalah ‘lu tuh sebenarnya masalah memfokuskan pemikiran. Gue nggak tahu ‘lu lagi mikiran apa sebenarnya, tapi yang jelas tidak atau belum menggunakan sistematika seperti yang sedang dilakukan Chris sekarang ini.”
“Iya, sih.” Anton mengaku. Danang dan Nina tersenyum-senyum.
“Sekarang gini,” lanjut Chris, “Ingat waktu fasilitator menerangkan tentang ‘prosumer’.”
“Ingat be-eng” jawab Boy, “Yaitu pembeli dan/atau pemakai produk atau ‘consumer’ yang bersedia dimintai pendapatnya tentang produk agar dapat atau lebih mampu memenuhi kebutuhan atau keinginannya.”
“Angka seratus buat Boy.” kata Chris diiringi tepuk tangan Danang, Anton dan Nina.
“Nah, saya yakin Anda-anda sekalian pernah membeli alat atau barang elektronik seperti radio, tv, kulkas, blender dan lain-lain. Sekarang coba Anda-anda sekalian bertindak seolah-olah menjadi ‘prosumer’ saya.”
“Saya berpendapat sebaiknya toko Anda itu menjadi tempat ‘one stop shopping’.” kata Boy yang telah pernah datang melihat sendiri toko Chris.
“Maksud ‘lu, segala macam barang elektronik ada, gitu?” tanya Anton.
“Kalau bisa, terutama yang banyak dicari pembeli. Tapi maksud gue dalam segala urusan yang menyangkut pemakaian produk. Ya membelinya. . ., ya kerusakannya . . ., ya alat-alat tambahan atau ‘accessories’-nya . . ., atau suku-cadang atau ‘sparepart’-nya . . ., antar-jemput ke tempat produk akan atau sedang digunakan, dan lain-lain sebagainya.” kata Boy menjelaskan.
“Boy, kamu itu dari dulu seharusnya sudah jadi pengusaha. Kenapa milih jadi pegawai, sih?” tanya Danang.
“Pak, walaupun sama-sama jadi pegawai tapi saya beda dengan Anton. Tugas Anton sebagai pegawai bank lebih banyak ‘di dalam’, sedangkan saya lebih banyak ‘di luar’. Tugas saya adalah membujuk-bujuk orang supaya mau jadi investor atau tetap jadi investor di perusahaan agrobisnis tempat saya bekerja. Istilahnya‘Account Executive’ atau disingkat AE. Jadi saya lebih banyak melihat ‘dunia luar’ dibandingkan dengan Anton.” jawab Boy.
“Dan setelah melihat ‘dunia usaha’, akhirnya kamu tertarik.” sambung Danang.
“Yang jelas, saya sudah bosan jadi pegawai, Pak.” sahut Boy tegas.
“Oke, deh. Sekarang saya kira alur pikir tentang rencana produk yang dikemukakan Chris telah sama-sama dapat kita ikuti. Tinggal mengembangkannya nanti siang di kelas.” kata Danang menyimpulkan.
“Tapi yang dikemukakan Chris adalah tentang mengembangkan produk yang sudah ada, Pak.” Anton menyela lagi, “Bagaimana kalau seperti saya dan Boy, yang sampai sekarang masih belum dapat ide sama sekali.”
“Ya, itu masalah kompetensi” jawab Danang, “Yang seperti telah pernah kita bahas dan telah dijelaskan juga di kelas oleh fasilitator tempo hari bahwa setiap orang punya kompetensi yang menyangkut suatu produk tertentu. Masalahnya hanya kapan waktu munculnya kompetensi itu. Kadang-kadang muncul sendiri karena ada peluang atau ‘opportunity’. Dalam hal yang demikian berarti dari suatu peluang dapat dipancing munculnya suatu kompetensi, sehingga peluang itu disebut juga sebagai ‘trigger’. Malah sering kita dengar atau baca bahwa sejarah berdirinya suatu perusahaan dimulai dari hasil ngobrol-ngobrol santai seperti ini oleh para pendiri atau founder-nya. Saya yakin suatu saat kalian berdua akan menemukannya sendiri dan selanjutnya menyusun suatu Rencana Bisnis. Atau tidak tertutup kemungkinan bahwa kita-kita ini semua sebetulnya atau pada akhirnya adalah founder suatu perusahaan . . . .”
“Pak.” kata Anton, “Kalau iya, saya jadi pegawai saja dulu pak, jadi pegawai dalam perusahaan yang kita dirikan sendiri. Saya belum mau jadi Pengusaha, Pak . . .” sahut Anton diiringi ketawa Boy, Chris dan Nina.
“Aduh, Anton . . . Anton . . .” jawab Boy, “Jiwa pegawai lu kok kental banget, sih . . .”
***
TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1. Apa sebetulnya yang menjadi penyebab Anton ‘garuk-garuk kepala’? Dari pembicaraan-pembicaraan yang mana dalam studi kasus ini yang mendukung pendapat Anda tersebut?
2. Berdasarkan ide atau jalur berpikir dari Chris, produk-produk apa kira-kira yang akan dikembangkannya di kelas nanti sebagai objek bisnis?
3. Bila kelompok Anda ini masih belum menemukan ide tentang ‘usaha apa’, dengan cara bagaimana kelompok Anda akan mengatasinya?
4. Apakah cukup ditentukan satu produk saja dulu, atau sebaiknya lebih dari satu macam produk? Jelaskan alasan Anda bila dilihat dari sudut pandang ‘kompetensi’.

***

Menjadi Pengusaha

“MENJADI PENGUSAHA”

PENDIDIKAN/PELATIHAN
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”

Tingkat L2 - “Menyusun Sistem Bisnis”

Diselenggarakan oleh:

M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)

Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
Business Management Consultancy & Education/Training Services
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541 E-mail muchtid@cbn.net.id






***
Dilarang memperbanyak Studi Kasus ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari :
“M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
***
Studi Kasus #1
MENJADI PENGUSAHA
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.


Anton terkena PHK dari tempatnya bekerja di sebuah bank. Dari dulu dia memiliki cita-cita untuk menjadi pegawai bank. Sekarang, setelah 15 tahun bekerja, dia tidak menyangka menemukan dirinya menjadi seorang pengangguran. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa bank juga bisa bankrut. Walaupun pesangon yang diperolehnya cukup lumayan, Rp.25,000,000.- tapi menjadi pengangguran terasa sangat tidak menyenangkan, terutama melihat tetangga-tetangga yang pagi-pagi sudah berangkat ke kantor seperti biasa.
Hari ini hari libur, sehingga terlihat beberapa tetangga sedang bercengkrama dengan anak-anak mereka di depan rumah. Tapi ia merasa sangat iri sehingga malas menemui mereka. Sudah pasti mereka akan menanyakan, “Pak Anton sekarang kerja dimana?”.
Surat Undangan Reuni SMA yang sudah diterimanya seminggu yang lalu dipegangnya dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Diambil, dilihat dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Demikian sampai diulangnya beberapa kali. Sudah jam 9.00 tapi dia belum dapat memutuskan mau ikut reuni atau tidak.
Tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata Boy, temannya sekelas waktu di kelas III/6 di SMA dulu. “Hallo Anton, ini Boy. Kita ketemu di reuni, ya? Jangan sampe nggak dateng lho! Tini yang demen sama ‘lu dulu, pasti dateng”, berbicara Anton di ujung saluran telepon.
“Aduh Boy, dari tadi rasanya males banget gue mau pergi. ‘Lu tahu sendiri, gue nggak punya kendaraan. Malu ‘kan, kalau gue turun dari bajaj di depan gedung pertemuan?”.
“Lu, sih, dulu waktu masih kerja, gue ajak nyicil beli mobil kayak gue, ‘lu nggak mau. Lihat sekarang, cicilan gue sudah lunas, mau dijual terserah gue. Udah, gini aja, ‘lu gue jemput”, kata Boy. ”Kita pergi sama-sama. ‘Lu sekarang dandan aja dulu sambil nungguin gue dateng, oke?”.
Anton terdiam, tidak bisa bicara apa-apa lagi karena tidak punya alasan lagi yang tepat. Akhirnya dia menjawab, “Iya deh”.
“Nah, gitu dong”, kata si Boy sambil menutup telepon.
“Siapa bang?”, tanya Nina istri Anton.
“Si Boy ngajakin ke reuni. Abang rasanya malas banget mau pergi”, jawab Anton.
“Sudah, pergi saja, siapa tahu ada yang bisa bantu nyariin lowongan pekerjaan”, kata Nina memberi semangat.
***
Cukup ramai yang datang di acara reuni. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang satu-angkatan, apalagi yang sekelas. Sayang Tini tidak muncul, jadi kurang seru. Teman-teman yang seangkatan dengan Anton dan Boy juga tidak kelihatan. Yang ramai datang adalah angkatan yang muda-muda. Jadi mereka mojok saja berdua. Ada acara pidato-pidato, sambutan-sambutan, tapi masing-masing juga “pidato” ke teman-teman yang lain dalam kelompok masing-masing. Jadinya, yang pidato...pidato.... Yang ngobrol kangen-kangenan, terus saja ngobrol.
“Gue heran,” kata Anton, “Sampai dengan minggu lalu, ada 50 lebih surat lamaran yang sudah gue tebarin, satu juga nggak ada yang nyahutin”.
“Anton! Gue heran. ‘Lu tuh udah di-PHK, udah dapet pesangon, kok...malah ingin balik lagi jadi pegawai, sih? Gue nih, lagi ngarepin di-PHK banget, tau nggak. ‘Lu ‘kan tahu, Perusahaan tempat gue kerja adalah perusahaan agro-bisnis. Nah, gara-gara salah satu perusahaan agro-bisnis lain bikin kacau, akibatnya para nasabah/investor pada dateng ke kantor gue minta duitnya dikembaliin. Untung saja masih ada beberapa investor yang masih bisa diyakinin sama bos gue. ‘Lu bisa ngebayangin, gimana keadaan di kantor gue sekarang. Teman-teman gue sekantor udah pada was-was bakal di-PHK. Gue cuman kuatir aja mengingat kondisi keuangan perusahaan sekarang, kalau seandainya gue di-PHK, gue bakal dapat pesangon berapa, ya?”.
Setelah sama-sama terdiam sejenak, Anton menjawab lirih, ”Bukannya gue ingin jadi pegawai lagi, Boy. Hanya saja, kalau nggak jadi pegawai, mau jadi apa? Wiraswasta? Usaha apa?”.
“Udah, gini aja”, jawab si Boy. “Dari sekarang kita pasang tekad aja, bahwa kita, ‘lu sama gue harus, sekali lagi harus jadi pengusaha. Paling tidak, pesangon ‘lu itu ‘kan bisa dijadiin modal permulaan. Soal usaha apa yang akan kita lakukan, nanti kita cari pembimbing untuk ngedapatin ide”.
“Siapa yang akan membimbing kita?”
“Ya, gue bilang ‘kan dicari dulu”. Tiba-tiba lanjutnya. ”Aaa... gue ingat sekarang. Si Chris, teman kuliah gue di Ekonomi dulu, dia nggak nerusin kuliah gara-gara babenya meninggal mendadak. Dan dari 6 bersaudara, cuma dia yang bisa melanjutkan usaha babenya. Gue lihat dia telah menjadi pengusaha sukses. Gue akan nemuin dia dulu. Nanti elu gue kasih khabar, kalo gue sudah dapat ide dari dia”.
***
Si Chris tersenyum kecut saja mendengar puji-pujian Boy bahwa ia telah menjadi seorang pengusaha sukses walaupun dia drop-out kuliah. “Sukses itu relatif, Boy,” kata si Chris mencoba memulai untuk menjelaskan kondisinya sekarang. “Terus terang aja, sekarang ini, boleh dibilang gue sudah tidak memiliki sisa waktu untuk ngurusin diri sendiri, apalagi ngurusin anak bini. Apa ini yang ‘lu bilang gue sukses ?”.
Tiba-tiba seorang karyawannya nyelonong masuk, “Bos, itu yang beli TV home theatre kemarin nanya, kapan barangnya akan diantar ?”.
“Ya, bilang aja akan diusahakan hari ini, paling lambat besok sore”.
“Ya, Bos,” kata si karyawan nyelonong lagi ke luar.
“Tuh, ‘lu lihat sendiri, kerjaan yang kayak gitu aja nanya dulu sama gue. Gimana gue bisa ninggalin. Pada hal sudah tahu kalau barangnya sudah bisa diambil di gudang distributor hari ini. Masalahnya memang mobilnya sedang dipake untuk nganterin yang lain dulu”.
Chris menarik napas panjang. Jelas terlihat bahwa dia sudah terlalu lelah mengurusi usahanya. Lalu lanjutnya, “Kalau hari ini gue nggak ada di sini, toko ini nggak ada yang ngurusin, harus tutup. Begitu juga besok, lusa dan seterusnya. Kalau tutup satu hari saja, gue kehilangan omzet rata-rata puluhan juta per hari”.
“Tapi keuntungannya ‘kan lumayan gede juga, Chris,” si Boy mengomentari.
“Iya, betul, tapi resikonya juga gede. Kalau gue sebutin apa resikonya, gue khawatir ‘lu nggak akan paham sebelum ngerti seluk-beluk dagang barang elektronik ini.” Lalu, “Sebentar ya ...”, Chris ke luar ruangan kantornya karena mendengar suara ramai di ruangan toko. Ternyata ada tamu yang ingin membeli TV yang menggunakan teknologi digital, tapi karyawannya menunjukkan TV yang bukan digital sehingga timbul pertengkaran.
Chris kembali duduk di kursinya sambil mempersilahkan Boy meminum minuman dingin yang sejak dari tadi sudah dikeluarkannya dari kulkas. “Lu sih enak,” kata si Chris melanjutkan. “Jadi pegawai, tinggal ngerjain apa yang disuruh. Akhir bulan terima gaji. Nggak ada resiko.”
”Itu yang ingin gue katakan Chris,” jawab si Boy, “Ternyata jadi pegawai juga berisiko.”
“Ah, yang bener,” kata si Chris.
“Nyatanya gue sekarang sedang dibayang-bayangin PHK, karena perusahaan tempat gue kerja kelihatannya udah mau bangkrut.” Lalu lanjutnya, “Tapi gue sih maunya di-PHK beneran, bosen gue jadi pegawai, Chris. Begini-begini terus dari dulu.”
***
“Kok, datang-datang kelihatan loyo begitu, jalanan macet, ya?” kata Anton menyambut kedatangan si Boy.
“Gue sih udah biasa dengan jalanan macet. Mau lewat mana juga pasti kena macet,” kata Boy sambil menutup pintu mobilnya. “Yang bikin gue loyo, ternyata si Chris cuma ngasi gue dilemma!”, lanjutnya.
“Oh, jadi ‘lu udah ketemu si Chris teman ‘lu itu. Ceritain dong....” kata Anton sambil mempersilahkan Boy duduk di ruang tamunya.
“Iya, udah. Sengaja gue datang ke tokonya. Tapi boro-boro dia ngasi gue ide tentang mau usaha apa, malah dia bilang... apa coba. Dia bilang, sebaiknya gue jadi pegawai aja karena nggak ada resiko.”
“Terus ?”, tanya Anton.
“Ya, akhirnya dia cuma melongo setelah gua bilang bahwa sekarang gue sedang menghadapi resiko bakal di-PHK.”
Dua-duanya lalu menarik napas panjang. Boy lalu meneruskan ceritanya tentang si Chris, “Gue sama teman-teman yang lain menyangka bahwa si Chris itu sudah jadi seorang pengusaha yang berhasil. Waktu itu pernah ada teman yang tahu alamat rumahnya. Teman gue ini mula-mula datang ke kantor mau minjam duit sama gue untuk suatu keperluan yang mendesak. Gue bilang, gue nggak punya duit, gaji gue pas-pasan, jadi nggak pernah bisa nabung. Beli mobil aja, nyicil potong gaji. Akhirnya teman ini minta diantarin ke rumah si Chris habis jam kantor. ‘Lu sendiri kalau melihat rumahnya pasti berdecak kagum. Bayangin aja, rumahnya di real-estate. Tapi dia nggak ada di rumah, belum pulang. Biasanya kalau pulang udah larut malam, kata bininya. Itu sebabnya kalau gue pengen nemuin dia, mendingan ke tokonya aja. Eh, tau-taunya dia malah mengatakan bahwa jika kita-kita ini kalau pengen jadi pengusaha jangan jadi pengusaha kayak dia.”
“Kalau gitu, yang namanya pengusaha yang berhasil itu yang kayak gimana ya, Boy?” tanya Anton menimpali.
Nina, istri Anton, membawa nampan dari dapur berisi 1 ceret teh lengkap dengan 3 set cangkir, 1 mangkok kecil gula pasir dan 2 stoples berisi kue kering. Dia tahu kalau 2 orang sahabat lama ini ketemu biasanya akan ngobrol lama.
Sambil menuangkan teh ke cangkir masing-masing, Nina yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, menambahkan, “Pak Danang aja, katanya sampai sekarang masih belum merasa jadi pengusaha, pada hal dia menjabat sebagai Direktur di perusahaan tempat saya bekerja. Dia malah menyarankan agar saya jangan selamanya menjadi pegawai. Suatu saat katanya, saya harus mulai merintis menjadi seorang pengusaha, walaupun sebenarnya dia sadar kalau sarannya itu akan menyebabkan dia sendiri akan kehilangan seorang sekretaris yang piawai dalam membantu dia menjalankan tugas sehari-hari sebagai eksekutif. Pernah dia menerangkan pengertian tentang pengusaha, atau istilah dia kalau nggak salah yaitu “Business-Owner”, atau apa, ya.... saya lupa-lupa ingat... Sedangkan tentang apa bedanya antara direktur atau eksekutif seperti dia dengan pengusaha, saya juga masih belum begitu paham.”
“Nah, kalau gitu kenapa kita nggak ke Pak Danang aja ngobrol-ngobrol untuk cari ide atau minta bimbingan.” kata si Boy. “Nina, bisa nggak minta waktu beliau untuk kita temui, tapi di rumah, biar pembicaraan kita nggak diganggu oleh urusan kantor”, lanjutnya.
“Saya akan coba, mudah-mudahan beliau bersedia”, kata Nina seraya melanjutkan. “Saya yakin Pak Danang pasti juga menginginkan Bang Anton supaya merintis jadi pengusaha aja ketimbang jadi pegawai lagi, dan beliau pasti bersedia membimbing. Bagi saya yang penting agar Bang Anton segera punya kesibukan. Bayangin kalau saya kerja, Bang Anton ‘kan sendirian di rumah, karena kami belum dikaruniai anak. Gosip tetangga-tetangga selalu ada aja dari hari ke hari. Walaupun saya percaya terhadap kesetiaan Bang Anton kepada saya, sama seperti percayanya Bang Anton terhadap kesetiaan saya kepadanya, tapi kalo dengerin gosip-gosip yang nggak karuan itu nyebelin juga.”
Anton hanya senyum mesem-mesem saja mendengarkan celoteh istrinya.
***
“Kalian sudah beli buku yang diterbitkan oleh M. A. Dani & Associates belum?” tanya Danang membuka pembicaraan.
“Buku tentang apa itu Pak?” Anton balik bertanya.
“Buku tentang menjalankan suatu usaha (bisnis). Sebentar, akan saya ambil dulu. Buku itu selalu saya simpan di rak buku saya, agar mudah dan cepat menemukannya. Saya selalu menggunakannya sebagai buku petunjuk (manual) untuk menemukan permasalahan yang terjadi sehari-hari dalam perusahaan yang saya pimpin.”
Tidak lama kemudian Danang sudah kembali dengan membawa buku yang dimaksud sambil berkata, “Ini bukunya, dan ini judulnya kalian dapat baca sendiri ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’. Bagi seorang ilmuwan mungkin melihat buku ini isinya tidak ada apa-apanya. Akan tetapi bagi seorang praktisi bisnis seperti saya, isinya sangat praktis dan mudah dipelajari, namun memerlukan pemahaman yang sungguh-sungguh sebelum dapat mempraktekkannya dengan benar, terutama tentang batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’ dalam kerangka kerja yang dinamakan ‘Kerangka Proses Bisnis’.”
“Nyari buku itu dimana Pak?”, tanya si Boy.
“Di toko buku Gramedia atau Gunung Agung ada. Tanya aja kepada pelayan tokonya.” kata Danang dan kemudian melanjutkan, “Buku ini akan menuntun mereka yang baru ingin memulai menjalankan suatu usaha (bisnis) seperti kalian, atau mereka yang ingin meningkatkan kinerja usaha (bisnis) yang sedang berjalan. Terus terang setelah membaca buku ini saya baru dapat membedakan antara ‘Pengusaha (Business Owner)’ dengan ‘Pelaksana (Eksekutif)’.
Selama ini rupanya para pemegang saham yang telah menunjuk saya sebagai direktur eksekutif tanpa sadar telah menyuruh saya merangkap kedua peranan itu. Pada hal sebetulnya masing-masing peranan itu dapat dilaksanakan oleh orang yang berbeda, sehingga peranan seorang Pengusaha betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Menyusun Sistem Bisnis’, dan peranan seorang Pelaksana/Eksekutif betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Memimpin Jalannya Sistem Bisnis’.”
Nina kemudian menambahkan, “Terus terang Pak, sampai sekarang saya masih belum paham tentang perbedaan antara kedua peranan itu.”
“Sekarang begini saja,” lanjut Danang, “Kalian dapatkan dan kemudian pelajari dulu isi buku ini. Kalau tidak, saya kuatir pembicaraan kita ini ‘tidak nyambung’. Setelah kalian merasa sudah cukup siap, kasih tahu Nina agar dia mengatur pertemuan kita lagi, Oke?”
***
Hari Minggu pagi yang sangat cerah. Taman di belakang rumah Danang yang cukup luas dan terawat membuat suasana pagi yang tenang dan santai, sehingga sangat menunjang pembicaraan yang memerlukan pemahaman yang serius tentang ‘menjadi pengusaha’. Mereka, Anton, Nina, Boy dan Danang, duduk mengelilingi sebuah meja bundar di teras yang menghadap ke taman itu. Istri Danang muncul sebentar sambil mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi kue-kue serta minuman teh yang telah terhidang, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Seperti telah kalian baca dalam buku”, kata Danang memulai pembicaraan. “Seorang pengusaha (business owner) bisa saja merangkap sebagai pemilik perusahaan (company owner), akan tetapi pemilik perusahaan belum tentu adalah pengusaha. Kemungkinan pemilik perusahaan hanyalah seorang investor yang kebetulan memiliki saham lebih dari 50%, sehingga harus ada orang lain yang berperan sebagai pengusaha, yaitu memikirkan tentang usaha (bisnis) yang akan dijalankan dan menyusunnya ke dalam bentuk ‘Rencana Bisnis’. Untuk menjaga agar Rencana Bisnis terlaksana dengan sebaik-baiknya, seorang pengusaha masih perlu menyusun suatu ‘Prosedur Operasional’, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan ‘Sistem Bisnis’. Sebagaimana definisi ‘Pengusaha’ yang kalian baca dalam buku, maka seorang pengusaha perlu mencari dan menugaskan/membayar seseorang untuk menjalankan Sistem Bisnis itu, dan orang itulah yang disebut pelaksana atau eksekutif”. Danang kemudian berhenti sejenak sambil meminum teh dan memakan kue yang ada.
“Kalau begitu seharusnya Bapak berperan sebagai pengusaha saja, karena hanya Bapak-lah yang paling menguasai seluk-beluk bisnis yang dijalankan oleh perusahaan kita sehingga hanya Bapak-lah yang berkompeten untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’ dan ‘Prosedur Operasional’. Untuk menjalankan ‘Sistem Bisnis’ Bapak harus menunjuk seseorang yang Bapak anggap cocok.” kata Nina mengomentari.
“Itu memang yang menjadi tujuan saya sekarang”, kata Danang. “Tapi belum dapat saya capai dalam waktu yang singkat. Pertama, oleh karena seperti kamu lihat, saya sehari-hari sibuk sebagai eksekutif, sehingga waktu yang tersisa untuk menyusun Rencana Bisnis sangat terbatas. Kedua, saya belum menemukan seseorang di dalam perusahaan, yang saya anggap cocok sebagai calon eksekutif yang untuk sementara waktu calon tersebut dapat membantu saya menyelesaikan penyusunan Sistem Bisnis. Maksud saya kalau dari sekarang dia ikut membantu saya menyusun Sistem Bisnis, maka dengan sendirinya kelak dia tidak akan menemui kesulitan dalam menjalankannya.Saya merasa sangat berterima kasih kepada ‘M. A. Dani & Associates’ yang telah menyusun dan menerbitkan buku ini sehingga dapat dipakai sebagai penuntun. Saya tidak dapat membayangkan berapa lama waktu yang akan saya habiskan untuk menyelesaikannya seandainya tidak ada buku ini. Namun demikian masalah ketiga adalah bahwa walaupun sudah ada buku ini yang dapat saya gunakan sebagai tuntunan sehingga mempercepat saya dalam menyusun Sistem Bisnis, akan tetapi dalam beberapa hal saya masih menemui kesulitan pada waktu menguraikan ‘Kerangka Proses Bisnis’ ke dalam bisnis yang sedang saya jalankan. Saya hanya berharap ‘M. A. Dani & Associates’ dapat membantu saya mengatasinya.
“Sekarang saya baru paham,” kata Nina. “Kenapa Bapak bilang kalau sampai sekarang ini Bapak belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pengusaha.”
“Pak...” kata Anton. “Semula Boy dan saya mempertanyakan yang disebut pengusaha yang sukses itu yang kayak bagaimana, kemudian setelah membeli buku ini dan membacanya sebagaimana yang Bapak anjurkan, ditambah lagi dengan uraian dari Bapak tentang “pengusaha yang belum merasa jadi pengusaha”, maka yang memenuhi benak kami sekarang ini bukan lagi tentang menjadi pengusaha Pak, apalagi tentang “pengusaha yang sukses”, akan tetapi tentang usaha apa yang akan kami jalankan.”
“Iya Pak,” kata Boy menambahkan. “Masalahnya dalam buku ini tidak kami temukan petunjuk tentang usaha apa yang sebaiknya kami jalankan”. Danang tersenyum lebar mendengar pertanyaan Anton dan Boy, lalu mempersilahkan lagi tamu-tamunya untuk menikmati minuman dan kue-kue yang masih ada.
“Begini,” Danang melanjutkan. “Dari judulnya saja sudah jelas bahwa isi buku ini tidak menyangkut tentang usaha (bisnis) tertentu, akan tetapi tentang menjalankan usaha (bisnis) secara sistematis, tidak tergantung jenis, besar, kecil, baru memulai atau sedang berjalan. Kalau kalian ingin mencari ide tentang usaha apa yang sebaiknya kalian jalankan, harus kalian cari di luar buku ini. Namun demikian ada sesuatu yang menyangkut hal itu yang saya dapatkan selama saya menggunakan buku ini sebagai tuntunan. Sudut pandang dan alur berpikir yang menjadi dasar sistematika ini menuntun saya dalam menemukan ide tentang produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada, yang berarti akhirnya saya menemukan ide tentang merintis suatu usaha baru atau mengembangkan usaha yang sedang saya jalankan. Saya juga pernah menanyakan lewat telpon kepada penulis buku ini barang kali dia punya contoh ‘Sistem Bisnis’ di bidang usaha yang sama seperti bidang usaha yang saya jalankan sekarang ini. Dia menjawab bahwa sebagaimana halnya sebuah coin mempunyai dua buah sisi, begitu juga halnya menjalankan usaha (bisnis). Sisi yang satu adalah ‘Teknis Berbisnis’ dan sisi lainnya adalah ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)’. Pertanyaan saya, katanya menjelaskan, menyangkut sisi Teknis Berbisnis yang sangat tergantung kemampuan pengusaha/pebisnis yang bersangkutan. Kalaupun dia punya dan pernah sukses menjalankannya, katanya melanjutkan, belum tentu saya bisa sukses menjalankannya seperti dia. Teknis berbisnis dia bisa saya tiru, katanya lagi, akan tetapi tidak akan bisa saya kuasai. Namun demikian Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) yang baik akan menuntun kita untuk menemukannya, bahkan sekaligus menjadi kerangka kerja dalam menjalankan/menggunakan kemampuan ‘teknis berbisnis’ kita. Begitu katanya.”
Setelah meneguk minuman sedikit karena merasa tenggorokannya kering, Danang melanjutkan, “Pada waktu itu saya belum paham betul tentang ‘teknis berbisnis’ yang dia maksud dan saya hanya mengucapkan terima kasih saja dan kemudian menutup telpon. Tapi saya terus berusaha memahaminya sehingga lama-lama baru saya paham kenapa dia mengibaratkan seperti dua sisi dari sebuah coin, karena memang secara alamiah, begitulah sebuah coin. Kedua sisi itu harus ada.”
Anton, Nina dan Boy sama-sama terdiam. Mungkin juga sedang berusaha memahami apa yang dimaksud dengan ‘Teknis Berbisnis” itu. Melihat mereka terdiam Danang mengusulkan, “Bagaimana kalau kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya, hari dan waktu yang sama. Nina, ingatkan saya, ya?”
“Saya catat Pak, pertemuan berikutnya berarti hari Minggu depan, jam 9:00 - 11:00.” kata Nina.
“Pak,” kata Boy memotong, “Saya memiliki teman sewaktu kuliah dulu di Ekonomi, tapi dia drop-out dan sekarang telah menjadi pengusaha toko barang elektronik. Bagaimana kalau dia saya ajak ikut dalam pertemuan kita yang akan datang, Pak? Maksudnya sih, saya ingin denger juga komentar dari seorang pengusaha seperti dia tentang hal-hal yang akan kita bicarakan nanti.”
“Hmmm, boleh . . ., boleh aja. Sekarang kita akhiri dulu pertemuan kita hari ini, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus pergi karena ada janji menemui seseorang.”
***
“Kenalkan Pak, ini teman yang saya ceritakan kepada Bapak minggu lalu”, kata Boy mengenalkan Chris kepada Danang.
“Chris,” kata Chris mengenalkan namanya sambil bersalaman dengan Danang. Setelah basa-basi seperlunya Chris melanjutkan, “Saya sengaja tidak membuka toko hari ini Pak, dan sengaja meliburkan karyawan saya karena saya sangat tertarik dengan ajakan Boy untuk ikut dalam pertemuan dengan Bapak”, katanya melanjutkan.
“Apa cerita Boy kepada Anda tentang pertemuan ini. Kami hanya berbincang-bincang atau diskusi tentang isi buku ini. Dengan kata lain, kami ini sama-sama belajar untuk menjadi pengusaha.” kata Danang menunjukkan buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.
“Persis, itu yang diceritakannya kepada saya, Pak” kata Chris. “Dia datang ke rumah saya malam-malam, hari Minggu yang lalu. Katanya waktu itu, paginya ada pertemuan yang kedua dengan Bapak di sini membicarakan topik tentang ‘menjadi pengusaha’, dan akan ada pertemuan yang ketiga, masih untuk membicarakan topik yang sama. Topik itu yang menyebabkan saya tertarik ikut dalam pertemuan ini, Pak.” Lalu lanjutnya, “Pernah saya bilang sama si Boy, kalau ingin jadi pengusaha - jangan menjadi pengusaha seperti saya, capek. Mendingan jadi pegawai aja. Malam itu dia bilang sama saya bahwa dalam buku itu saya akan menemukan sebabnya saya capek, yaitu karena saya tidak pakai sistematika dalam menjalankan usaha saya. Besoknya saya langsung cari buku itu di Toko Gunung Agung dan mempelajari isinya sesempat saya, sambil menjalankan usaha toko saya.” kata Chris.
“Jadi Anda sekarang sudah paham yang namanya pengusaha?” tanya Danang.
“Paham betul sih, belum.” jawab Chris. “Terutama tentang yang dimaksud dengan batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’. Saya hubungi si Boy di kantornya lewat telpon. Katanya itu mudah dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Lalu dia menyebut istilah ‘teknis berbisnis’. Katanya yang satu ini tidak begitu saja dapat dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Dia mengambil contoh teknis berbisnis dalam perdagangan barang-barang elektronik yang saya jalankan. Nah, tentang hal ini saya sangat ingin berkomentar.”
“Baik, terima kasih” kata Danang, “Tapi sebelum Chris melanjutkan dengan komentarnya, ada baiknya kita rehat sebentar dengan menikmati hidangan ala kadarnya ini. Ayo, silahkan.”
Karena merasakan pembicaraan makin serius, mereka berusaha menyegarkan fisik masing-masing dengan cara berjalan-jalan di taman, serta ada juga yang ke toilet terlebih dahulu. Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Danang membuka pembicaraan kembali, “Jadi Anda dan Boy telah pernah membahas tentang apa yang dinamakan ‘Teknis Berbisnis’ itu?.”
“Ya, Pak” jawab Boy dan Chris hampir bersamaan.
Boy lalu menambahkan, “Semula saya menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha. Setelah pertemuan kita minggu yang lalu, lama-lama dapat saya pahami bahwa memang seperti yang Bapak katakan, ternyata kedua hal tersebut merupakan dua sisi yang berbeda dalam menjalankan usaha (bisnis).”
“Ya, dalam hal ini kita sudah sepaham. Sekarang mari kita simak komentar Chris yang dari tadi sudah tidak sabar ingin mengeluarkannya.” kata Danang mempersilahkan.
Danang, Anton dan Nina tidak tahu pembicaraan tentang hal apa saja yang telah dilakukan oleh Boy dan Chris, sehingga mereka merasa agak tegang juga dan dengan serius siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan Chris.
“Kalau si Boy menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha, maka saya berpikir sebaliknya.” kata Chris memulai komentarnya.
Semua terdiam seolah-olah berkata dalam hati, “Nah, ini baru komentar.”
“Saya malah berpikir atau berpendapat bahwa sistematika menjalankan usaha itu termasuk dalam teknis berbisnis. Kalau si Boy mengambil contoh bisnis yang sedang saya jalankan sekarang ini, maka dapat saya katakan bahwa saya mempunyai sistematika tersendiri dalam menjalankan bisnis saya. Hanya saja memang tidak seperti sistematika yang diuraikan dalam buku ini.” kata Chris menjelaskan.
“Dapatkah Anda jelaskan kepada kami sekarang ini tentang sistematika yang Anda gunakan itu?” tanya Danang.
“Agak sulit juga saya menjelaskannya, Pak.” kata Chris menjawab, “masalahnya menyangkut liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik yang hampir berubah setiap hari.” tambahnya.
“Kalau begitu,” kata Danang, “Anda bukan membicarakan tentang sistematika, akan tetapi sedang membicarakan ‘teknis berbisnis’ itu sendiri, yaitu tentang cara-cara yang Anda lakukan dalam menghadapi liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik itu. Apa lagi kalau cara-cara yang Anda lakukan akan selalu berubah-ubah sesuai perubahan situasi dan kondisi bisnis, atau yang Anda sebut sebagai liku-liku dan seluk-beluk bisnis itu sendiri, tidak heran kalau Anda kesulitan menjelaskannya apalagi bagi orang lain akan lebih sulit lagi untuk memahaminya. Kesimpulannya adalah bahwa hanya Andalah yang paling mengetahui tentang ‘teknis berbisnis’ yang Anda gunakan. Orang lain paling-paling dapat meniru, tetapi tidak akan dapat menguasainya.”
Danang meraih cangkirnya, minum seteguk, lalu melanjutkan, “Itulah sebabnya sistematika disebut sebagai sisi lain dalam menjalankan usaha (bisnis), yaitu oleh karena sifatnya yang tetap, tidak tergantung jenis dan bentuk usaha (bisnis) yang dijalankan, bahkan tidak tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis), sehingga dapat dipelajari dengan mudah oleh pebisnis pemula yang belum berpengalaman dalam menjalankan usaha (bisnis) sekalipun. Bahkan sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut ‘teknis berbisnis’ itu.”
“Oooo, jadi itu yang dimaksud teknis berbisnis . . .” Chris mengekspresikan kesalah-pahamannya. “Kalau begitu selama ini saya hanya mengikuti naluri bisnis saya saja tanpa sistematika tertentu.” katanya.
“Persis.” Danang menegaskan.
Semua terdiam, merenung. Anton dan Nina kelihatan memikirkan sesuatu yang menandakan kalau mereka masih berusaha memahaminya. Boy terlihat senyum-senyum menandakan kalau dia telah merasa makin mantap dengan pemahaman yang telah dicapainya.
Chris temannya yang baru kali ini ikut pertemuan dengan Pak Danang terlihat geleng-geleng kepala menandakan ada sesuatu yang disesalkannya, terbukti dari ucapannya, “Kenapa baru sekarang ada sistematika menjalankan usaha seperti dalam buku ini, Pak. Kenapa tidak sebelum ayah saya meninggal, sehingga saya dapat mempelajarinya dulu. Diantara kami bersaudara, hanya saya yang dianggap atau diharapkan bisa menjalankannya sehingga akhirnya saya terpaksa meneruskan usaha ayah saya sebisa-bisa saya.”
Boy nyeletuk, “Babe ‘lu sih, nggak ngomong-ngomong dulu sama penulis buku ini kalau mau meninggal. Kalau ngomong dulu, pasti buku ini buru-buru ditulis lalu diterbitkan.” Semua tertawa mendengar seloroh si Boy.
“Yang jelas, kalau dibaca dari resume penulis, dia memerlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun sampai menemukan ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini, sehingga barulah akhir-akhir ini dia bisa menyusunnya menjadi buku dan menerbitkannya.” kata Danang sambil mempersilahkan lagi tamu-tamunya minum dan makan kue-kue yang masih ada.
“Pak, jadi bagaimana tentang kebingungan kami mengenai usaha apa yang sebaiknya kami jalankan?” tanya Anton lebih serius lagi.
“Anton, dari pertanyaan yang Anda ajukan menandakan bahwa Anda masih belum paham betul tentang ‘Teknis Berbisnis’ itu.” jawab Danang.
“Iya, memang rasa-rasanya masih belum mantap, Pak.” Anton mengiyakan sambil garuk-garuk kepalanya.
“Bila Anda menanyakan usaha apa yang akan dijalankan, berarti Anda menanyakan tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’. Temukan jawabannya dengan menggalinya dari dalam diri Anda sendiri. Kalau Anda tidak menemukannya dalam diri Anda sendiri, bukan berarti Anda tidak punya ide apapun tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anda hanya belum menemukannya saja. Dalam ‘Teknis Berbisnis’ diperlukan daya kreatif dan inovatif. Masalahnya mungkin daya kreatif dan inovatif Anda selama menjadi pegawai tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Hal ini biasanya terjadi pada pegawai yang pekerjaannya monoton, yang banyak terdapat di lingkungan seperti bank tempat Anda pernah bekerja. Pegawai yang demikian umumnya mengerjakan apa-apa yang disuruh/ditugaskan saja, dan biasanya awet bekerja sampai pensiun. Sebaliknya pegawai yang bekerja di lingkungan yang memungkinkan daya kreatif dan inovatifnya berkembang biasanya tidak lama menjadi pegawai. Umumnya kemudian menjadi pekerja lepas atau berwira-swasta. Dalam hal Anda belum menemukan jawaban tentang ‘usaha apa sebaiknya yang akan Anda jalankan’, bicarakanlah dengan teman-teman Anda yang sudah sepakat dengan Anda untuk menjalankan suatu usaha (bisnis). Mungkin salah seorang telah menemukannya, dan untuk sementara tetapkanlah itu dulu sebagai objek bisnis, atau dengan kata lain produk yang akan disediakan dalam menjalankan usaha (bisnis). Setelah itu ikutilah sistematika yang ada dalam buku ini seperti yang sekarang saya kerjakan untuk mengembangkan usaha yang sedang saya pimpin.” kata Danang menjelaskan panjang lebar meniru penjelasan yang pernah diperolehnya via telepon dari ‘M. A. Dani & Associates’. “Saya sangat berkeinginan menyelesaikannya sampai saya berhasil menyusun sebuah ‘Sistem Bisnis’ dengan tujuan agar saya dapat menyerahkannya kepada seorang eksekutif. Terus terang saya juga sudah capek rasanya merangkap menjadi eksekutif.” lanjutnya.
Anton masih terlihat garuk-garuk kepala sehingga akhirnya kata Danang, “Begini, minggu depan mungkin saya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengadakan pertemuan berikutnya. Saya melihat di antara kalian berempat sudah ada yang telah memahami tentang ‘menjadi pengusaha’ dan tentang ‘dua sisi dalam menjalankan usaha’, tinggal menyamakan tingkat pemahamannya. Jadi teruskan saja mengadakan pertemuan untuk membahas segala sesuatunya tentang sistematika ini, terserah kalian kapan dan dimana yang kalian bisa menyelenggarakannya, Oke?”
“Oke deh, Pak.” kata Anton, Nina, Boy dan Chris hampir serempak
“Kalau begitu pertemuan kita hari ini saya tutup sampai disini. Nina beritahukan kalau saya nanti masih diperlukan.” kata Danang menutup pertemuan.
“Kayaknya Bapak pasti masih diperlukan, Pak.” jawab Nina yakin.
***

TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1) Apa yang menjadi tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepadanya untuk mempercepat pencapaian tujuan?
2) Apa yang menjadi tujuan Anton dan Boy, apa bedanya dengan tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepada mereka untuk mempercepat pencapaian tujuan?
3) Siapa di antara Anton, Boy, Chris dan Nina yang dianggap paling siap untuk menjadi pengusaha dan indikasi apa yang mendukung anggapan itu?
4) Bila mereka, termasuk Danang, membentuk kelompok yang akan mendirikan dan kemudian menjalankan sebuah perusahaan, siapa-siapa di antara mereka yang akan menjadi anggota kelompok dan apa peranan atau kontrribusi masing-masing dari sejak mendirikan perusahaan sampai dengan menjalankannya nanti.
***

Friday, December 16, 2005

"POLA-PIKIR “ANALITIS-OBJEKTIF”

MENYUSUN RENCANA KEGIATAN
"ALAM KEHIDUPAN NYATA" adalah "alam pemikiran" tentang "sesuatu yang terjadi" dalam menjalani hidup dan kehidupan ini SECARA NYATA, yaitu tentang "fakta", bukan "opini".
Alam pemikiran ini akan MENGHARUSKAN SETIAP ORANG dalam melakukan SETIAP KEGIATAN untuk MENETAPKAN TUJUAN (OBJEKTIF) yang akan dicapai TERLEBIH DAHULU.

Pedomannya adalah sebagai berikut:
Bila suatu OBJEK dilihat dari SUDUT PANDANG TERTENTU ("angle of view"), akan diketahui FUNGSI TERTENTU dari OBJEK yang bersangkutan ("point of view") untuk menyimpulkan "SESUATU YANG DIHARAPKAN ATAU YANG SEHARUSNYA TERJADI" pada OBJEK dan kemudian dapat dijadikan TUJUAN (OBJEKTIF) dari setiap KEGIATAN yang akan dilakukan dalam rangka untuk mencapai TUJUAN tersebut., sedangkan
OBJEK = YANG DIPERLAKUKAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN.
FUNGSI = MELAKUKAN SESUATU TERHADAP OBJEK. (Penulisan nama/judul FUNGSI dimulai dengan "KATA KERJA")
TUJUAN = "SESUATU YANG DIHARAPKAN ATAU YANG SEHARUSNYA TERJADI" PADA OBJEK. (Penulisan nama/judul TUJUAN dimulai dengan "KATA BENDA".)
FUNGSI tersebut di atas PERLU dibagi menjadi SUBFUNGSI-SUBFUNGSI (sekurang-kurangnya 2 SUB-FUNGSI) yang masing-masingnya bisa SANGAT MENENTUKAN PENCAPAIAN TUJUAN (PRIMER) atau hanya MENUNJANG PENCAPAIAN TUJUAN (SEKUNDER), tergantung jawaban dari pertanyaan: "Apa yang akan terjadi pada OBJEK bila Subfungsi ini tidak berjalan dengan baik?".
Setiap SUBFUNGSI akan menjadi SUBTUJUAN, yang bilamana perlu, masing-masingnya dibagi lagi menjadi SUBSUBFUNGSI-SUBSUBFUNGSI (sekurang-kurangnya 2 SUBSUBFUNGSI) yang masing-masingnya bisa SANGAT MENENTUKAN PENCAPAIAN SUBTUJUAN (PRIMER) atau hanya MENUNJANG PENCAPAIAN SUBTUJUAN (SEKUNDER), tergantung jawaban dari pertanyaan: "Apa yang akan terjadi pada OBJEK bila Subsubfungsi ini tidak berjalan dengan baik?".
Setiap SUBSUBFUNGSI akan menjadi SUBSUBTUJUAN, yang bilamana perlu, masing-masingnya dibagi lagi menjadi SUSUBSUBFUNGSI-SUBSUBSUBFUNGSI (sekurang-kurangnya 2 SUBSUBSUBFUNGSI) yang masing-masingnya bisa SANGAT MENENTUKAN PENCAPAIAN SUBSUBTUJUAN (PRIMER) atau hanya MENUNJANG PENCAPAIAN SUBSUBTUJUAN (SEKUNDER), tergantung jawaban dari pertanyaan: "Apa yang akan terjadi pada OBJEK bila Subsubsubfungsi ini tidak berjalan dengan baik?" dan seterusnya . . .
Level terakhir = KEGIATAN-KEGIATAN YANG PERLU DILAKUKAN ("WHAT TO DO") UNTUK MENCAPAI TUJUAN.

MELAKSANAKAN KEGIATAN
Pada waktu melaksanakan "Rencana Kegiatan" PERLU TERLEBIH DAHULU MENEMUKAN MASALAH YANG SEBENARNYA, SEBELUM MENETAPKAN SOLUSI ("HOW TO DO").
Yang dinamakan MASALAH dalam POLA-PIKIR "ANALITIS-OBJEKTIF" adalah PENYIMPANGAN dari TUJUAN yang telah ditetapkan dalam "Rencana Kegiatan".
Pedomannya adalah sebagai berikut:
MENGIDENTIFIKASI MASALAH yang sedang dan/atau akan terjadi pada waktu MELAKSANAKAN (IMPLEMENTASI) PROGRAM KEGIATAN ("WHAT TO DO"), yaitu menemukan FUNGSI-FUNGSI yang TIDAK/BELUM menghasilkan atau MENYIMPANG dari "SESUATU YANG DIHARAPKAN ATAU YANG SEHARUSNYA TERJADI",.
MENENTUKAN RENCANA TINDAKAN ("ACTION PLAN") yaitu menentukan CARA ("HOW TO DO") untuk memperbaiki suatu FUNGSI yang BERMASALAH atau MENYIMPANG berdasarkan:
SITUASI DAN KONDISI yang ada;
ASUMSI dan STRATEGI tertentu;
TAKTIK tertentu yang akan dipakai.
MELAKSANAKAN RENCANA TINDAKAN yaitu melaksanakan SEGALA KEGIATAN YANG SESUAI dengan RENCANA TINDAKAN, suka atau tidak suka.
Mencoba ALTERNATIF RENCANA TINDAKAN YANG LAIN sekiranya masalah masih BELUM TERATASI, atau bilamana perlu meninjau kembali "Rencana Kegiatan" yang bersangkutan dan merubahnya.
***

MENJADI PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER) = MENINGKATKAN PEREKONOMIAN NEGARA

MENJADI PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER) = MENINGKATKAN PEREKONOMIAN NEGARA

"Menjadi Pegawai (Employee)" atau "Mempekerjakan Diri Sendiri (Self-employed)" atau "Menjadi Pengusaha (Business Owner) adalah PILIHAN dalam memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan finansial.

"Menjadi Pegawai (Employee)" berarti "bekerja" untuk seseorang/-badan-hukum dengan harapan untuk mendapatkan penghasilan dari sese-orang/badan-hukum yang bersangkutan sesuai ketentuan yang belaku. Adalah SAH-SAH SAJA bila seseorang SELALU berupaya untuk MENGEJAR PRESTASI sebagai Pegawai, dengan harapan agar DIAKUI oleh seseorang/-badan-hukum yang telah mempekerjakannya bahwa "telah berhak menaiki jenjang KARIR ke tingkat yang lebih tinggi sehingga berhak mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi pula".
"Mempekerjakan Diri Sendiri (Self-employed)" berarti mendaya-gunakan kemampuan (keahlian/keterampilan/profesi) yang ada pada diri sendiri untuk melaksanakan "tugas tertentu" dari seseorang/badan-hukum dengan harapan untuk mendapatkan penghasilan dari seseorang/badan-hukum yang bersangkutan sesuai perjanjian. Adalah SAH-SAH SAJA bila seorang PEDAGANG, WIRASWATA (enterpreneur), PROFESIONAL (DOKTER, PENGACARA, NOTARIS, EKSEKUTIF PERUSAHAAN dan para perofesional lainnya) selalu berupaya untuk MENINGKATKAN KEMAMPUAN sebagai pelaksana, dengan harapan agar DIAKUI oleh seseorang/badan-hukum yang memberikan tugas kepadanya bahwa "telah mempunyai keahlian/-keterampilan/profesi yang lebih tinggi sehingga berhak mendapatkan penghasilan berupa pembayaran (upah) yang lebih tinggi pula".
Namun demikian, jumlah pengangguran selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya jumlah calon tenaga kerja yang telah menamatkan sekolah/perguruan-tinggi setiap tahun, serta ditambah lagi dengan pengangguran sebagai akibat terjadinya pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dalam mempekerjakan tenaga yang ada.

Disisi lain, mereka yang telah berhasil meningkatkan PRESTASI atau KEMAMPUAN PROFESIONAL "dipungut" oleh daerah lain atau bahkan negara lain (brain drain), sehingga daerah/negara lain itulah yang beruntung dengan memanfaatkan tenaga mereka.
Jadilah seorang PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) yang akan menyerap tenaga kerja, yaitu seseorang yang membangun/menyusun suatu "Sistem Bisnis" berdasarkan potensi ekonomi yang terlihat disekitarnya dan menugaskan/membayar seorang eksekutif untuk menjalankannya, sambil selalu menyempurnakannya agar menghasilkan pendapatan dengan lebih lancar.
Seseorang BELUM dapat disebut Pengusaha (Business Owner), bila:
1) Belum menemukan potensi ekonomi yang akan dijadikan objek usaha.
2) Belum mampu menyusun "Sistem Bisnis".
3) Belum menemukan seorang eksekutif yang akan menjalankan "Sistem Bisnis", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri.
4) Sistem Bisnis yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan pendapatan/uang.
Dengan kata lain oleh karena Pengusaha (Business Owner) berperan dalam "MENGGALI POTENSI EKONOMI YANG ADA", maka Pengusaha (Business Owner) merupakan TULANG PUNGGUNG PEREKONOMIAN NEGARA yang diperlukan sebagai sumber kekuatan utama untuk meningkatkan perekonomian negara umumnya serta untuk mengurangi jumlah pengangguran serta "brain drain" khususnya.
KUALIFIKASI MENJADI PENGUSAHA
Seseorang dapat dikatakan mampu menjadi PENGUSAHA (BUSINES OWNER), bilamana telah mempunyai KEMAUAN (WILLINGNESS) UNTUK BERSIKAP/BERPERILAKU (BEHAVIOUR) OBJEKTIF, yaitu memegang teguh PRINSIP bahwa suatu PENDAPAT (OPINI) itu BELUM TENTU BENAR (SUBJEKTIF) serta mempunyai KEMAUAN (WILLINGNESS) untuk MENGUJI SETIAP PENDAPAT (OPINI) sebagai berikut:
1) Terlebih dahulu MEMAHAMI segala sesuatu yang DIPERLAKUKAN (OBJEK) oleh seseorang yang diharapkan menjadi PELAKU (SUBJEK) dari suatu CARA ("How to do"), sebagaimana yang dinyatakan dalam PENDAPAT (OPINI) yang bersangkutan.
2) Menentukan TUJUAN (OBJEKTIF) yang sebenarnya yang akan dicapai, berupa "SESUATU YANG DIHARAPKAN ATAU SEHARUSNYA TERJADI" berdasarkan SUDUT-PANDANG tertentu terhadap OBJEK.
3) Memahami HUBUNGAN LOGIKA antara FUNGSI dari masing-masing OBJEK dengan TUJUAN (OBJEKTIF), yaitu dengan MENGUJINYA melalui pertanyaan: "Apakah TUJUAN dapat dicapai tanpa FUNGSI yang bersangkutan", sehingga diperoleh FAKTA-FAKTA berupa hubungan yang bersifat PRIMER (sangat menentukan pencapaian TUJUAN) atau hanya bersifat SEKUNDER (hanya bersifat menunjang pencapaian TUJUAN).
4) Mengabaikan FUNGSI yang dianggap TIDAK/BELUM diperlukan untuk mencapai TUJUAN (OBJEKTIF) dan menambahkan FUNGSI lainnya yang masih diperlukan sesuai PENALARAN (LOGIKA).
5) Menguraikan setiap FUNGSI menjadi KEGIATAN (ACTIVITY) YANG PERLU DILAKUKAN ("What to do") untuk menghasilkan "SESUATU YANG DIHARAPKAN ATAU SEHARUSNYA TERJADI" dan selanjutnya SEDAPAT MUNGKIN akan BERSIKAP/BERPERILAKU dalam rangka HANYA untuk MELAKSANAKAN KEGIATAN TERSEBUT.
6) CARA (How to do") yang akan digunakan SANGAT TERGANTUNG SITUASI DAN KONDISI pada waktu melaksanakan KEGIATAN ("What to do") yang bersangkutan.
Kegagalan/kerugian dalam menjalankan usaha (bisnis) terutama disebabkan oleh SIKAP/PERILAKU SUBJEKTIF, yaitu HANYA berdasarkan KEINGINAN UNTUK MELAKUKAN SUATU KEGIATAN (ACTIVITY) DENGAN CARA ("How to do") YANG DIINGINKAN PULA, pada hal BELUM TENTU SESUAI DENGAN TUJUAN YANG AKAN DICAPAI.
Dengan KEMAUAN (WILLINGNESS) UNTUK BERSIKAP/BERPERILAKU OBJEKTIF, Anda akan mampu membedakan antara FAKTA dengan OPINI, sehingga Anda sebagai Pengusaha akan terhindar dari PENYEBAB UTAMA kegagalan/kerugian tersebut.
KEMAUAN hanya dapat timbul dari dalam diri sendiri, sehingga TIDAK MUNGKIN DAPAT DIPAKSAKAN oleh orang lain. Bilamana KEMAUAN sudah ada, berarti Anda SUDAH MEMENUHI KUALIFIKASI sebagai Pengusaha. Selanjutnya Anda hanya perlu dilengkapi dengan Sudut-pandang/Pola-pikir yang terkandung dalam "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis" agar lebih mampu membedakan antara FAKTA dengan OPINI dalam menjalankan usaha (bisnis).
LANGKAH AWAL MENJADI PENGUSAHA (BUSINESS OWNER)
Bilamana Anda telah merasa punya KEMAUAN (WILLINGNESS) UNTUK BERSIKAP/BERPERILAKU (BEHAVIOUR) OBJEKTIF, maka langkah-langkah permulaan yang HARUS Anda lakukan adalah sebagai berikut:
1) Mendaftarkan diri menjadi peserta Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis"
Ajaklah sekurang-kurangnya satu atau dua orang teman yang mau/bersedia "seiring-sejalan" dengan Anda dalam menjalankan suatu usaha (bisnis) untuk mendaftar manjadi peserta Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis" di Kantor "M. A. Dani & Associate", Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
2) Menyediakan waktu untuk mengikuti Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis"
Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis" diselenggarakan sekali seminggu @ 2 jam dalam bentuk pertemuan di kelas dalam 3 tingkatan, seluruhnya sebanyak 20X pertemuan, yaitu:
L1 - "Dasar-dasar Menjalankan Usaha" 4X pertemuan, dengan biaya Rp. 600,000 per peserta.
L2 - "Menyusun Sistem Bisnis" 8X pertemuan, dengan biaya Rp. 1,000,000 per peserta.
L3 - "Menjalankan Sistem Bisnis" 8X pertemuan, biaya Rp.1,000,000 per peserta.
Biaya paket L1+L2+L3 = Rp. 2,340,000.- per peserta (discount 10%). Akan diberikan discount tambahan 10% untuk pendapaftaran 2 peserta atau lebih.
Jadwal pertemuan yang tersedia sebagai berikut:
K1 (Sabtu, jam 09:00-11:00),
K2 (Sabtu, jam 14:00-16:00),
K3 (Minggu, jam 09:00-11:00) dan
K4 (Minggu, jam 14:00-16:00).
3) Merencanakan suatu usaha (bisnis)
Di tingkat L2 dan L3 ada semacam "Studi Kasus", serta contoh "RENCANA BISNIS (BUSINESS PLAN)", "PROSEDUR OPERASIONAL (OPERATIONAL PROCEDURE)" dan "RENCANA OPERASI (OPERATING PLAN)" yang dipakai sebagai bahan diskusi di kelas tentang "Menyusun Sistem Bisnis" dan "Menjalankan Sistem Bisnis".
Hasil pembahasan/diskusi tersebut dapat langsung diaplikasikan DILUAR KELAS kedalam "real business", yaitu "potensi ekonomi" yang telah kelihatan dan dapat dijadikan objek dalam menjalankan usaha.
4) Menyelesaikan penyusunan "Sistem Bisnis"
Sesudah pertemuan yang ke-20, menyelesaikan sendiri penyusunan "Sistem Bisnis" yang akan dijalankan.
5) Menjalankan "Sistem Bisnis"
Menjalankan "Sistem Bisnis" yang walaupun belum sempurna akan tetapi telah dapat dicoba untuk dijalankan.
PERBEDAAN "PENDIDIKAN BISNIS" DENGAN PENDIDIKAN UMUM/NASIONAL
Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis", adalah "PENDIDIKAN BISNIS" yang TIDAK DAPAT DISAMAKAN DENGAN SEKOLAH/KURSUS PENGETAHUAN/-KETERAMPILAN yang terdapat dalam Sistem Pendidikan Umum/Nasional.
Pendidikan & Pelatihan "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis" diselenggarakan dalam bentuk perte-muan-pertemuan yang diadakan di kelas untuk membahas/membicarakan tentang SUDUT-PANDANG/POLA-PIKIR yang menjadi dasar "Sistematika Menjalankan Usaha (bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis".
Kursus/sekolah Pengetahuan/Keterampilan yang mengikuti sistem Diknas, sengaja atau tidak sengaja, bertujuan untuk meningkatkan PRESTASI PRIBADI, sehingga peserta/anak-didik kemudian PERLU MENCARI LAPANGAN KERJA untuk TEMPAT BERPRESTASI. Dengan kata lain Kursus/sekolah Pengetahuan/Keterampilan yang mengikuti sistem Diknas, sengaja atau tidak sengaja, bertujuan untuk menghasilkan calon pega-wai/pekerja yang akan BERHASIL SENDIRI-SENDIRI. Sedangkan sebaliknya, "Pendidikan Bisnis" bertujuan agar peserta pendidikan menjadi seorang Pengusaha (Business Owner) yang akan MENYEDIAKAN LAPANGAN KERJA, sehingga tujuannya adalah untuk BERHASIL BERSAMA-SAMA.
Pendidikan Umum/Nasional yang berhasil ditandai oleh PENGUASAAN PENGETAHUAN/KETERAMPILAN pada peserta pendidikan (anak-didik), yang dinyatakan dengan NILAI RAPOR/IJAZAH. Sedangkan "Pendidikan Bisnis" yang berhasil ditandai oleh PERUBAHAN POLA-PIKIR/SUDUT-PANDANG oleh peserta yang dinyatakan dengan PERUBAHAN SIKAP/-PERILAKU peserta sehari-hari menjadi SIKAP/PERILAKU PENGUSAHA yang "SELALU MENGARAH KE TUJUAN (OBJEKTIF)", yaitu memegang teguh PRINSIP bahwa suatu PENDAPAT (OPINI) itu BELUM TENTU BENAR (SUBJEKTIF) dan mempunyai KEMAUAN (WILLINGNESS) untuk MENGUJI SETIAP PENDAPAT (OPINI), baik YANG TIMBUL DARI DALAM DIRI SENDIRI maupun yang BERASAL DARI ORANG LAIN.
***

Tuesday, December 13, 2005

Memulai Entreprenuer

Menurut saya yang paling utama modalnya adalah, berurutan:
- Sudut Pandang pengusaha
- Pola Pikir pengusaha
- Perilaku pengusaha Baru nanti:
- Berfikir objektif
- Berfikir logis dan sistimatis

Perlu diketahui, bahwa Sudut pandang dan Pola Pikir pengusaha (B) adalah berlawanan dengan employee (E). Boleh dikata mereka berada didunia berlainan dalam berfikir. Kasarnya B adalah seperti pak tani yang menanam dan menjaga pohon dan si E adalah unsur didalam pohon tersebut. Si B memikirkan si pohon bukan memikirkan dirinya sendiri. Sedang si E memikirkan pekerjaan dirinya sendiri. Kemudian, si B memikirkan rangkaian "what to do" untuk menjalankan usahanya, yang kemudian akan diserahkan kepada ahlinya, yaitu si E yang mengusai "howto do". Si B selalu memikirkan dan memproduksi The Plan dan si E selalu meminta "where is the plan".

Tahukah anda bahwa di bisnis school di dunia, mereka selalu menyuarakan atau berfikir "we need a plan". Mereka tidak mau pusing dari mana datangnya the plan. Jadi Biz Ownerlah yang menyusun the plan, yang berupa rangkaian what to do dari umum sampai detail, dari awal sampai akhir. Wiraswasta adalah Self Employed, yang masih terbatas kemampuan produksinya, karena masih mengadalkan tenaga yang dimiliki, sudah tentu terbatas. Tapi siB atau pengusaha adalah lain, hasil yang didapatnya bisa tidak terbatas dan bisa beraneka jenis pula lagi. Kalau ditulis akan panjang sekali, dan harus dimulai dari beberapa bagian, selain yang diatas banyak lagi nanti yang harus diketahui. Sebab mau jadi pengusaha dari E harus melompati tembok Berlin (masih ada nggak ya?), sedikit orang yang sanggup, bisa bisa diagram pareto dipakai dua kali. Harus bertekad untuk merubah sudut pandang, pola pikir dan perilaku.

Salam
Parapatiah

Membangun wawasan internet di kampung

Assalaamu'alaikum W W.

Mungkin untuk IT ini dapat mengembangkan apa yang telah kami rintis di MUS(Miftahul 'Ulumi Syariah) V Suku Canduang, Agam. Kalau dapat dijadikan pilotprojectnya, mungkin akan lebih bagus. Yang kami rintis memang kecil dan mungil, tapi merakyat dan dapat self finance.

Tadinya di MUS ada kerjasama membuka kursus komputer dengan salah satu pusat kursus kumputer (di Bukittinggi atau Padang?). Tapi ternyata macet dan komputernya ditarik semua. Kemudian terbit ide di keyboard komputer saya ini. Di Minangnet, orangnya yang terkenal keras dan kadang membelakang kelangit, saya coba menjojokan galeh. Banyak hambatan memang, sehinggadiskusi jadi melebar, apa lagi yang akan dibantu adalah berupa pesantren, yang dimata mereka pendidikannya tertinggal dan mempelajari yang kurang perlu, budaya padang pasir. Tapi dengan kemauan yang agak ulet dan bertahan dengan logika mereka, saya berhasil menggaet sumbangan untuk membeli beberapa komputer. Ditambah lagi oleh sumbangan dari rekan yang tergabung di ekonomiRN dan rantaunet. Alhamdulillah kami dapat mengumpulkan 10 komputer. Karena kursus komputer biasanya terkendala dana, karena pengikut kurang, kami diskusikan ide baru yang merakyat, dan berhasil berjalan dengan baik sampai saat ini. Yang belajar malah ada orang tua segala. Caranya, kursus dipimpin oleh instruktur yang siap setiap saat, bergantian dua atau tiga tenaga pengajar.

Prinsip kursus adalah menekan idle capacity,atau memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Biasa kursus komputer membayar per paket (lk Rp. 250.000), tapi kami memperkenalkan yang lain, setiap pengikut membayar Rp. 1.500 perjam, dan waktu ikut kursus terserah mereka, selama PC/seat masih ada. Kursus berjalan dari jam 08:00 - 21:00, termasuk Sabtu Minggu. Sehingga jam belajar tersedia 10 komputer x 13 jam = 130 jamPC/hari atau 3900 jam perbulan atau mungkin menghasilkan Rp. 5,850,000 perbulan. Ambil akupansi cuma 60%, maka penghasilan dapat Rp. 3,510,000. Sehingga dapat membayar 2 orang pengajar full time. Karena, waktu belajar bebas, anak SD disekitar yang masuk siang dapat belajar pagi dan yang masuk pagi dapat belajar siang atau malam hari. Mereka belajar juga setiap memiliki uang Rp. 1.500 atau dengan kata lainnya, setiap orang tua mereka mau mengurangi rokok 2 batang sehari. Atau mamak (om)-nya yang merantau dapat mensubsidi mereka belajar komputer. Beberapa dari mereka telah berhasil mengirim email kesaya di Jakarta, sayang mereka tersandung biaya pulsa telkom yang tak sanggup mereka bayar. Seandainya ada bantuan line internet kesekolah tersebut, insyaAllah kemajuan berkomunikasi dapat meningkat dengan pesat. Dan sesuai harapan, banyakkesempatan berbisnis yang akan terbuka, terutama antara kampung dan perantau. Mungkinkah Gebu Minang mau menyumbang line internet dan biaya bulanannya ya?

Wassalaamu'alaikum W W
St. Parapatiah