Liukan ‘Mak Itam’ di Lembah Anai
Bernostalgia dengan kereta wisata dari Padang ke Lembah Anai
Tut....! Tut....! Peluit kereta api melengking keras memecah keheningan pagi yang cerah pukul 08.30 WIB di Stasiun Simpang Haru Padang akhir tahun lalu. Para pencinta kereta api dengan tentengan kamera, handycam dan ransel bergegas masuk ke gerbong dan duduk dengan nyaman.
‘Mak Itam’ begitu orang Minag menyebutkan, sudah datang!
Lokomotif kereta berwarna merah dengan suara desis mesinnya yang khas perlahan mulai bergerak menyeret tiga gerbong serta satu loko bergigi menyusuri rel meninggalkan stasiun yang sepi itu.
Pagi itu saya bersama rombongan pencinta kereta api dari Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat dan Indonesian Railway Preservation Society mencoba rute Kereta Api Wisata dari Padang ke kawasan wisata Lembah Anai yang eksotis itu.
Ini juga untuk pertama kalinya rute ini digunakan untuk wisata, sejak zaman Kolonial Belanda dulunya hanya digunakan untuk rute kereta pengangkut batubara dari Sawahlunto ke Padang.
“Tak ada yang lebih indah dari hari ini, saya sangat bahagia bisa melihat lagi kereta api lewat di Sumatera Barat, tidak hanya menjadi besi tua,“ kata Chaidir Nien Latif, 79 tahun, bekas pejabat PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang kini menjadi “aktivis kereta api”.
Senyumnya tak henti mengembang. Semasa jadi pejabat PJKA dulunya ia sukses menghidupkan loko uap di Ambarawa. Obsesinya paling besar saat ini adalah menghidupkan kembali kereta api di Sumatera Barat yang telah mati suri sejak empat tahun lalu.
Bersama perantau Minang yang ada di Jakarta dan Bandung, Chaidir Latif membentuk komunitas pencinta kereta api yang dinamai Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat.
“Ranah Minang lebih indah dari tempat lain, bayangkan di sini kita bisa berkeliling Danau Singkarak naik kereta api, ke Lembah Anai dan Bukittinggi dengan kereta api, sungguh luar biasa," ujarnya lagi.
Dengan kecepatan hanya 40 kilometer per jam, setelah keluar dari kota Padang, kereta api mulai melewati pemandangan khas pedesaan. Burung-burung gelatik putih tampak beterbangan di atas hijaunya hamparan sawah.
Kereta juga melewati ladang rambutan, durian, serta barisan pohon kelapa di pinggir jalan. Wah, sungguh menyejukkan mata. Rasanya kereta api wisata memang lebih pas di Ranah Minang, karena pemandangan alam yang indah terhampar sepanjang jalan.
Dua jam dari Padang, menjelang Stasius Kayutanam, kereta melewati kompleks Ruang Pendidik INS Kayutanam yang luas dengan pohon-pohon tuanya yang rindang. INS (Indonesich Nederlandsche School) adalah sekolah kreatif yang didirikan oleh Engku Moehammad Sjafei pada 31 Oktober 1926 yang kini menjadi SMA Plus. Salah satu murid INS adalah A. A. Navis, sastrawan nasional yang terkenal dengan cerpennya “Robohnya Surau Kami”.
Kereta api yang kami tumpangi kemudian berhenti di Stasiun Kayu Tanam untuk ganti lokomotif. Lokomotifnya diganti dengan loko bergigi yang dari tadi ditarik di gerbong paling belakang.
Lokomotif khusus untuk rel bergigi ini diperlukan untuk rel yang menanjak tajam seperti melewati kawasan Lembah Anai yang tinggi dan terjal sepanjang 33,8 Km yang akan dilewati.
Tak lama Lokomotif bergigi yang tetap di posisi belakang gerbong mulai dihidupkan untuk mendorong empat rangkaian gerbong ke Lembah Anai. Dengan cengkeraman gigi besinya pada tengah bantalan rel, perlahan kereta mulai bergerak mendaki melewati tanjakan-tanjakan yang tinggi. Gesekan gigi besi lokomotif dengan bantalan rel kereta membuat getarannya lebih terasa.
Kereta akan melewati Lembah Anai yang terkenal dengan bukit dan jurangnya yang terjal, serta air terjun dan sungainya yang jernih. Menurut Rusli Amran dalam bukunya Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, pada tahun 1833 semasa Kolonial Belanda Gubernur Jenderal Van den Bosch, sewaktu berkunjung ke Sumatera Barat terpesona melihat alam Lembah Anai dengan Batang
(sungai) Anai yang berhasil menerobos Bukit Barisan.
Van den Bosch orang pertama yang memerintahkan membuat jalan raya mengikuti alur Batang Anai berikut jalur kereta api.
Jalur kereta api yang melewati Lembah Anai selesai dibangun 1881. Jalur kereta api ini menghubungkan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. Rel kereta ini melewati Lembah Anai, Padang Panjang, tepian Danau Singkarak dan terus ke Kota Sawahlunto.
Kereta mulai masuk ke dalam hutan bukit barisan yang masih rapat. Samping kiri kanan pemandangannya bertukar dari sawah ke perdu dan pohon hutan tropis yang khas. Udara juga mulai terasa dingin dalam gerimis yang tipis. Kereta melaju perlahan di atas jembatan plat baja sepanjang 50 meter. Cukup mendebarkan melihat Batang Anai jauh di bawah. Namun pemandangannya sungguh eksotis. Lembah, Batang Anai yang kecil namun cantik, serta air terjunnya yang mengucur deras dari dinding bukit yang terjal.
Kereta berhenti di ujung jembatan di seberang air terjun Lembah Anai yang amat cantik. Seperti yang lain, saya langsung turun dan menikmati panorama Lembah Anai. Tak lupa merendam tangan dan cuci muka di air terjunnya. Duh, segarnya.
Lembah Anai dengan air terjunnya yang terkenal sudah lama dijadikan kawasan wisata. Udaranya dingin dengan pohon-pohon yang menutupi Bukit Barisan yang tinggi di sekelilingnya.
Air terjun Lembah Anai dan air Batang Anai di bawahnya di antaranya berasal dari Gunung Singgalang yang terletak di bagian utara dan anak-anak sungai dari Gunung Merapi yang mengalir melalui Kota Padang Panjang. Airnya mererobos Bukit Barisan yang menjadi air terjun Lembah Anai persis di sebelah jalan raya .
Batang Anai juga menampung hampir semua air yang datang dari lereng bagian barat bukit barisan. Untuk mencari jalan ke daratan rendah sebelum mencapai laut bebas, Batang Anai memaksakan diri di celah-celah bukit barisan dengan dinding yang terjal.
Perjalanan wisata kereta api ini dilanjutkan ke Stasiun Kereta Api Padang Panjang. Kereta melaju melintasi jembatan Lembah Anai menyusuri tepian sungai. Tak berapa lama, kereta melintasi jembatan Silaing yang amat tinggi dan curam.
Bayangkan saja, jembatan kereta api ini menghubungkan antara puncak bukit ke bukit satunya lagi. Panjang jembatannya 101 meter dengan ketinggian 50 meter, ini membuat perjalanan serasa melayang di udara. Luar biasa mendebarkan hati.
Kereta berhenti di Stasiun Padang Panjang. Saat kembali ke Kayu Tanam, kali ini loko bergigi tidak lagi mendorong dari belakang, tetapi dengan gagah melaju di depan menyeret sambil menahan gerbong melintasi Lembah Anai. Tut... tut... tut....!
(Febrianti)
Ragam:
Tiga Pilihan Berwisata Kereta Api
Tertarik berwisata dengan kereta api di Ranah Minang?
Saat ini ada tiga pilihan. Pertama, wisata kereta api ke Lembah Anai dengan lokomotif bergigi melintasi panorama Lembah Anai yang sangat cantik.
Manajer Kereta Api Wisata PT KAI Sumatera Barat Busrizal mengatakan, kereta api bisa disewa dari Padang ke Padangpanjang yang melewati Lembah Anai dengan tarif Rp10 juta per hari dengan kapasitas 190 orang.
Pilihan kedua, naik kereta api dari Padang ke pantai Pariaman. Naik kereta api wisata adalah pilihan terbaik jika Anda ingin berwisata ke Pariaman. Kereta api ini hanya beroperasi setiap Minggu dengan tiket pulang-pergi Rp25.000 untuk kelas eksekutif dan biasa Rp15.000. Berangkat pukul 8.00 WIB dari Stasiun Kereta Api Simpang Haru, Padang dan kembali lagi pukul 14.00 WIB dari Stasiun Pariaman.
Selain itu bisa juga menyewa kereta pada hari biasa dengan tarif Rp5 juta dengan kapasitas 300 orang.
Kereta api ini kecepatannya hanya 20 km per jam, sehingga jarak kurang dari 70 km ditempuh selama hampir 2,5 jam. Meski begitu, pemandangan hamparan sawah dan deretan kelapa menyejukkan mata dan membuat kita rileks.
Pilihan ketiga, naik kereta api ke Sawahlunto. Naik dari Stasiun Muaro Kalaban yang hanya berjarak 5 km dari Kota Sawahlunto. Sebenarnya ini bukan kereta api beneran, cuma lori wisata yang ditarik mesin mitsubishi L-300 di atas bekas rel kereta api. Tapi cukup menarik untuk menelusuri jejak kereta api Zaman Kolonial Belanda. Tiketnya amat murah, hanya Rp3.000.
Dengan lori wisata ini kita dibawa melewati terowongan kereta api sepanjang 900 meter. Terowongan ini dilengkapi dengan kamar-kamar kecil di kiri kanan.
Dulunya tempat orang atau pekerja tambang menghindar jika kereta api lewat. Lori ini berhenti di Stasiun Sawahlunto yang sekarang disulap menjadi Museum Kereta Api Sawahlunto.
Di museum ini dipajang benda-benda kereta api pada masa lampau seperti gerbong-gerbong dan lokomotif kereta api zaman lalu. Termasuk lampu sinyal dan timbangan barang dan brankas zaman belanda dengan kuncinya yang sebesar tangan.
Sejarah kereta api di Sumatera Barat memang dimulai dari ditemukannya cadangan batubara di Sawahlunto akhir abad-19 lalu. Belanda membangun jalur kereta api dari Pelabuhan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk
Bayur) dari Padang ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km.
Tidak hanya ke Sawahlunto, beberapa jalur kereta api juga dibangun sebagai sarana angkutan umum ke berbagai kota di Sumatera Barat seperti Lubuk Alung--Pariaman
(20,9 km), Padang--Padangpanjang (68,3 km), dan Bukittinggi--Payakumbuh (33 km). Bahkan jalur kereta api sampai ke Muara Padang. Totalnya ada 240 km jalur kereta di Sumatera Barat.
Menipisnya cadangan tambang batu bara pula yang mengakhiri masa kejayaan kereta api di Sumatera Barat sejak 2003. Sayang bila kini aset peninggalan Belanda yang amat bersejarah ini dibiarkan menjadi besi tua, seharusnya dilestarikan, seperti dikelola untuk kereta api wisata. (Febrianti)
Monday, January 22, 2007
Sunday, January 21, 2007
"Belanda Kecil" di Sumatera Barat
SUARA PEMBARUAN DAILY
Sawahlunto "Belanda Kecil" di Sumatera Barat Sawahlunto di Sumatera Barat bukan lagi daerah penghasil tambang batubara terbesar di Indonesia. Dahulu memang daerah penghasil batubara terbesar yang dimulai tahun 1891. Areal penambangan ini ditemukan oleh seorang geolog Belanda, William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Tambang terbuka saat ini sudah menipis setelah ditambang 110 tahun. Yang ada penambangan dalam. da 100 bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai sejarah. Demikian pula bekas penambangan, stasiun kereta api, terowongan kereta api. Memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dijadikan objek wisata.
Dengan aset seperti itu, Kota Sawahlunto saat ini berbenah "Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya pada Tahun 2010". "Dengan aset peninggalan itu, kita lebih menghayati arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Apalagi yang bekerja di tambang batubara waktu itu adalah orang- orang hukuman (orang-orang rantai) dari pelbagai suku di Indonesia. Sisa-sisa kebudayaan masih ada di sini. Sawahlunto sepertinya itu Miniatur Indonesia," kata Wali Kota Sawahlunto Ir H Amran Nur kepada pers beberapa waktu lalu. Beberapa bangunan kuno yang sudah direnovasi antara lain Museum Kereta Api. Ternyata Ambarawa bukan satu-satunya Museum Kereta Api di Indonesia. Stasiun Sawahlunto juga menjadi Museum Kereta Api. Jalur KA dibangun oleh Belanda pada tahun 1892 dari Sawahlunto menuju ke Pelabuhan Teluk Bayur (dahulu bernama Emmahaven) Padang untuk mengangkut batubara. Orang-orang Belanda yang pernah bekerja di Sawahlunto ataupun ahli warisnya sering datang mengunjungi daerah itu.
Nostalgia. Para ahli waris ingin menapaktilasi cerita orangtua atau kakek neneknya dahulu. Wisatawan mancanegara yang paling banyak datang memang dari Belanda. Paket wisata memang banyak dijual ke Belanda. Mereka tinggal beberapa hari di sana. Sayangnya hanya ada satu penginapan yang tersedia, Wisma Ombilin. Sebagian tinggal di rumah-rumah penduduk (home stay). "Dengan peninggalan seperti itu kita ingin menciptakan Sawahlunto sebagai "Belanda Kecil" (Small Nederland), kata Walikota H Amran Nur. Dahulu Belanda membangun Proyek Tiga Serangkai, yakni Tambang Batubara Ombilin, jalur KA, dan pelabuhan Teluk Bayur. Pembangunan jalur KA pertama dilakukan dari Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang (71 km) selesai 12 Juli 1891. Dari Padang Panjang - Bukittinggi (19 km) selesai November 1891. Padang Panjang - Solok ( 53 km) selesai Juli 1892. Solok - Muara Kalaban (23 km) dan Padang - Teluk Bayur (7 km) selesai Oktober 1892. Yang terakhir ialah Muara Kalaban ke Sawahlunto (2
km) yang harus menembus sebuah bukit dengan membuat terowongan sepanjang 835 meter yang selesai Januari 1894. Terowongan ini dikerjakan oleh orang hukuman (orang rantai). Karena angkutan batubara menurun maka sejak 2002, jalur KA dan Stasiun KA Sawahlunto ini tidak beroperasi dan dijadikan museum. Sayangnya, lokomotif pertama yang waktu itu digunakan, saat ini berada di Museum KA Ambarawa. Sekarang, jalur itu hanya untuk KA/lori wisata, yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu atau pada hari libur lain. Jaraknya pergi pulang dari Stasiun Sawahlunto ke Stasiun Muara Kalaban sepanjang 2 km melewati terowongan (disebut Lubang Kalam), tarifnya Rp 3.000 per orang. Gudang Ransum Bangunan bersejarah lainnya yang sudah direnovasi dan layak dikunjungi ialah Gudang Ransum (Goedang Ransoem). Gudang Ransum merupakan dapur umum yang dibangun tahun 1918 yang memiliki dua buah tungku pembakaran. Tungku ini buatan Jerman tahun 1894 yang dibuat oleh Rohrendampfkesselfa brik DR Patente No 13449 dan 42321. Peralatan memasak lainnya juga masih bisa ditemui di tempat itu seperti periuk raksasa untuk memasak beras. Dapur umum itu dahulu untuk memberi makan para pekerja pertambangan. Tidak kurang dari 65 pikul setiap hari atau setara 3.900 kg nasi. Selain untuk pekerja pertambangan juga untuk memberi makan kepada pasien rumah sakit, keluarga pekerja tambang. Sekitar 100 orang bekerja di dapur umum ini. Untuk mengenang dan menghayati makna Museum Gudang Ransum, sebaiknya turis datang di pagi hari sambil sarapan di tempat itu. Disarankan, sarapan makan bubur kampiun yang terkenal di Sawahlunto. Bubur ini terdiri dari bubur kacang ijo, bubur tepung beras, dan kue lopis yang disiram dengan gula jawa yang telah dicairkan agak kental. Disantap ketika masih panas. Atau bisa makan nasi dengan lauk khas Sawahlunto yakni dendeng batoko. Masih ada bangunan-bangunan kuno di kota lama lain yang layak dikunjungi sebagai peninggalan sejarah. Sekolah Santa Lucia, Gedung Societet, Kompleks Rumah Sakit Umum, Gereja Katolik, Rumah Fak Sin Kek, Gedung Komedi, Gedung Bioskop, Rumah Demang, Rumah Adat Kuno dan Masjid Nurul Huda. Bangunan ini dibangun pada awal tahun 1900an dan sampai sekarang masih berfungsi. Selain gedung-gedung kuno tersebut, jangan dilewatkan pula pusat kerajinan Silungkang. Yang terkenal selain kerajinan tangan ialah kain tenun Silungkang. Yang bagus harganya jutaan rupiah dan sudah terkenal sampai ke luar negeri. Sapu ijuk buatan Silungkang juga terkenal kuat. Di Muara Kalaban saat ini sedang dibangun Waterboom. Bisa untuk istirahat sejenak bagi yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Riau. Bagi yang ingin wisata ziarah, di Sawahlunto terdapat makam pahlawan nasional Prof Mr H Muhammad Yamin. Ia lahir di kota ini. Wisata Pertambangan Untuk menapaktilasi bekas areal pertambangan, kunjungilah kawasan Kandih.
Areal ini dahulu dikeruk, diambil batubaranya. Untuk menjaga agar lingkungannya tidak rusak, areal ini dijadikan arena pacuan kuda. Sisa-sisa areal pertambangan yang masih utuh juga bisa dilihat di sini, termasuk angkutan batubara dengan ban berjalan (conveyer belt). Untuk tingkat lokal dan provinsi telah dilakukan uji coba. Bahkan mampu menampung 40.000 orang penonton. Tanggal 17-18 September dilakukan pacuan kuda nasional yang diikuti 10 provinsi dengan pengunjung sekitar 100.000. Kelas areal pacuan kuda ini nomor dua setelah Pulomas Jakarta. Di sekitarnya dibangun pula pembibitan sapi. Direncanakan dibangun pula taman safari. Di areal bekas penambangan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto mengundang investor untuk mengembangkan daerah wisata Kandih seluas 400 ha. Hak Guna Usaha (HGU) akan diberikan gratis untuk waktu 25 tahun. "Semua perizinan yang diperlukan dari Pemkot Sawahlunto akan diberikan secara cepat tanpa dipungut biaya. Silakan dibuat hotel, resor atau untuk taman safari," kata Wali Kota. Di bekas penambangan itu terdapat Danau Kandih seluas 12 ha untuk wisata air. Danau itu adalah bekas galian yang kedalamannya ada yang sampai 175 meter yang terbentuk pada 25 April 2003. Karena dinding penahan dari lubang tersebut tidak kuat maka air Sungai Ombilin menjebol dinding tersebut dan terbentuklah Danau Kandih. Air Sungai Ombilin mengisi lubang ini sampai 3 jam dan aliran sungai ke bawahnya kering. "Sekarang sudah normal lagi. Tinggal kita memanfaatkan untuk objek wisata dan perikanan," katanya. Selain itu, diundang pula investor untuk mengembangkan PLTU Sijantang dari 2 x 100 MW menjadi 4 x 100 MW. Dana yang dibutuhkan US$ 200 juta yang saat ini dalam pembicaraan antara PLN dengan pihak Australia. PLTU yang menggunakan bahan bakar batu- bara ini akan memperluas interkoneksi di Sumatera. [Pembaruan/Roso Setyono]
Sawahlunto "Belanda Kecil" di Sumatera Barat Sawahlunto di Sumatera Barat bukan lagi daerah penghasil tambang batubara terbesar di Indonesia. Dahulu memang daerah penghasil batubara terbesar yang dimulai tahun 1891. Areal penambangan ini ditemukan oleh seorang geolog Belanda, William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Tambang terbuka saat ini sudah menipis setelah ditambang 110 tahun. Yang ada penambangan dalam. da 100 bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai sejarah. Demikian pula bekas penambangan, stasiun kereta api, terowongan kereta api. Memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dijadikan objek wisata.
Dengan aset seperti itu, Kota Sawahlunto saat ini berbenah "Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya pada Tahun 2010". "Dengan aset peninggalan itu, kita lebih menghayati arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Apalagi yang bekerja di tambang batubara waktu itu adalah orang- orang hukuman (orang-orang rantai) dari pelbagai suku di Indonesia. Sisa-sisa kebudayaan masih ada di sini. Sawahlunto sepertinya itu Miniatur Indonesia," kata Wali Kota Sawahlunto Ir H Amran Nur kepada pers beberapa waktu lalu. Beberapa bangunan kuno yang sudah direnovasi antara lain Museum Kereta Api. Ternyata Ambarawa bukan satu-satunya Museum Kereta Api di Indonesia. Stasiun Sawahlunto juga menjadi Museum Kereta Api. Jalur KA dibangun oleh Belanda pada tahun 1892 dari Sawahlunto menuju ke Pelabuhan Teluk Bayur (dahulu bernama Emmahaven) Padang untuk mengangkut batubara. Orang-orang Belanda yang pernah bekerja di Sawahlunto ataupun ahli warisnya sering datang mengunjungi daerah itu.
Nostalgia. Para ahli waris ingin menapaktilasi cerita orangtua atau kakek neneknya dahulu. Wisatawan mancanegara yang paling banyak datang memang dari Belanda. Paket wisata memang banyak dijual ke Belanda. Mereka tinggal beberapa hari di sana. Sayangnya hanya ada satu penginapan yang tersedia, Wisma Ombilin. Sebagian tinggal di rumah-rumah penduduk (home stay). "Dengan peninggalan seperti itu kita ingin menciptakan Sawahlunto sebagai "Belanda Kecil" (Small Nederland), kata Walikota H Amran Nur. Dahulu Belanda membangun Proyek Tiga Serangkai, yakni Tambang Batubara Ombilin, jalur KA, dan pelabuhan Teluk Bayur. Pembangunan jalur KA pertama dilakukan dari Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang (71 km) selesai 12 Juli 1891. Dari Padang Panjang - Bukittinggi (19 km) selesai November 1891. Padang Panjang - Solok ( 53 km) selesai Juli 1892. Solok - Muara Kalaban (23 km) dan Padang - Teluk Bayur (7 km) selesai Oktober 1892. Yang terakhir ialah Muara Kalaban ke Sawahlunto (2
km) yang harus menembus sebuah bukit dengan membuat terowongan sepanjang 835 meter yang selesai Januari 1894. Terowongan ini dikerjakan oleh orang hukuman (orang rantai). Karena angkutan batubara menurun maka sejak 2002, jalur KA dan Stasiun KA Sawahlunto ini tidak beroperasi dan dijadikan museum. Sayangnya, lokomotif pertama yang waktu itu digunakan, saat ini berada di Museum KA Ambarawa. Sekarang, jalur itu hanya untuk KA/lori wisata, yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu atau pada hari libur lain. Jaraknya pergi pulang dari Stasiun Sawahlunto ke Stasiun Muara Kalaban sepanjang 2 km melewati terowongan (disebut Lubang Kalam), tarifnya Rp 3.000 per orang. Gudang Ransum Bangunan bersejarah lainnya yang sudah direnovasi dan layak dikunjungi ialah Gudang Ransum (Goedang Ransoem). Gudang Ransum merupakan dapur umum yang dibangun tahun 1918 yang memiliki dua buah tungku pembakaran. Tungku ini buatan Jerman tahun 1894 yang dibuat oleh Rohrendampfkesselfa brik DR Patente No 13449 dan 42321. Peralatan memasak lainnya juga masih bisa ditemui di tempat itu seperti periuk raksasa untuk memasak beras. Dapur umum itu dahulu untuk memberi makan para pekerja pertambangan. Tidak kurang dari 65 pikul setiap hari atau setara 3.900 kg nasi. Selain untuk pekerja pertambangan juga untuk memberi makan kepada pasien rumah sakit, keluarga pekerja tambang. Sekitar 100 orang bekerja di dapur umum ini. Untuk mengenang dan menghayati makna Museum Gudang Ransum, sebaiknya turis datang di pagi hari sambil sarapan di tempat itu. Disarankan, sarapan makan bubur kampiun yang terkenal di Sawahlunto. Bubur ini terdiri dari bubur kacang ijo, bubur tepung beras, dan kue lopis yang disiram dengan gula jawa yang telah dicairkan agak kental. Disantap ketika masih panas. Atau bisa makan nasi dengan lauk khas Sawahlunto yakni dendeng batoko. Masih ada bangunan-bangunan kuno di kota lama lain yang layak dikunjungi sebagai peninggalan sejarah. Sekolah Santa Lucia, Gedung Societet, Kompleks Rumah Sakit Umum, Gereja Katolik, Rumah Fak Sin Kek, Gedung Komedi, Gedung Bioskop, Rumah Demang, Rumah Adat Kuno dan Masjid Nurul Huda. Bangunan ini dibangun pada awal tahun 1900an dan sampai sekarang masih berfungsi. Selain gedung-gedung kuno tersebut, jangan dilewatkan pula pusat kerajinan Silungkang. Yang terkenal selain kerajinan tangan ialah kain tenun Silungkang. Yang bagus harganya jutaan rupiah dan sudah terkenal sampai ke luar negeri. Sapu ijuk buatan Silungkang juga terkenal kuat. Di Muara Kalaban saat ini sedang dibangun Waterboom. Bisa untuk istirahat sejenak bagi yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Riau. Bagi yang ingin wisata ziarah, di Sawahlunto terdapat makam pahlawan nasional Prof Mr H Muhammad Yamin. Ia lahir di kota ini. Wisata Pertambangan Untuk menapaktilasi bekas areal pertambangan, kunjungilah kawasan Kandih.
Areal ini dahulu dikeruk, diambil batubaranya. Untuk menjaga agar lingkungannya tidak rusak, areal ini dijadikan arena pacuan kuda. Sisa-sisa areal pertambangan yang masih utuh juga bisa dilihat di sini, termasuk angkutan batubara dengan ban berjalan (conveyer belt). Untuk tingkat lokal dan provinsi telah dilakukan uji coba. Bahkan mampu menampung 40.000 orang penonton. Tanggal 17-18 September dilakukan pacuan kuda nasional yang diikuti 10 provinsi dengan pengunjung sekitar 100.000. Kelas areal pacuan kuda ini nomor dua setelah Pulomas Jakarta. Di sekitarnya dibangun pula pembibitan sapi. Direncanakan dibangun pula taman safari. Di areal bekas penambangan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto mengundang investor untuk mengembangkan daerah wisata Kandih seluas 400 ha. Hak Guna Usaha (HGU) akan diberikan gratis untuk waktu 25 tahun. "Semua perizinan yang diperlukan dari Pemkot Sawahlunto akan diberikan secara cepat tanpa dipungut biaya. Silakan dibuat hotel, resor atau untuk taman safari," kata Wali Kota. Di bekas penambangan itu terdapat Danau Kandih seluas 12 ha untuk wisata air. Danau itu adalah bekas galian yang kedalamannya ada yang sampai 175 meter yang terbentuk pada 25 April 2003. Karena dinding penahan dari lubang tersebut tidak kuat maka air Sungai Ombilin menjebol dinding tersebut dan terbentuklah Danau Kandih. Air Sungai Ombilin mengisi lubang ini sampai 3 jam dan aliran sungai ke bawahnya kering. "Sekarang sudah normal lagi. Tinggal kita memanfaatkan untuk objek wisata dan perikanan," katanya. Selain itu, diundang pula investor untuk mengembangkan PLTU Sijantang dari 2 x 100 MW menjadi 4 x 100 MW. Dana yang dibutuhkan US$ 200 juta yang saat ini dalam pembicaraan antara PLN dengan pihak Australia. PLTU yang menggunakan bahan bakar batu- bara ini akan memperluas interkoneksi di Sumatera. [Pembaruan/Roso Setyono]
Wednesday, November 29, 2006
Eight Great Reasons to Develop Your Soft Skills
Eight Great Reasons to Develop Your Soft Skills
From Jide Awe, Founder/CEO of Jidaw.com
Technical skills have little value if you have poor soft skills. Don't get me wrong, your tech expertise matters. But don't be fooled by your tech skills. King of Linux, champion of Oracle? You've got it made, right? Give me a break! Tech skills alone are no guarantee of success.
You've got all the hot technical certifications with solid work experience. You're the programming guru or the 900-pound gorilla of Network administration. You're on your way to becoming an outstanding IT achiever? Don't make me laugh! Excellent tech activities, rapid knowledge acquisition, tons of certificates are not the same thing as growth.
Tech skills alone don't lead to recognition, promotion, and most importantly: opportunity. Tech skills are important but so are your soft skills.
How well do you communicate with your colleagues, management, clients or your employer? Are perceived as a contributor or just another techie?
1. Certification is not an end in itself. Tech skills do matter.
In fact, to succeed in IT you definitely need to have solid technical skills with a good grasp of the fundamentals. To make any headway you need to be solid on the ground with hard tech know-how. And the IT industry requires you to fortify yourself on a continuous basis with up-to-date tech knowledge and concepts. Training, certification, the Internet, books, are all opportunities available for lifelong learning. But what about your soft skills? As you build up your tech expertise, what effort are you making to develop your non-tech abilities? Certification is not an end in itself.
You need soft skills to create opportunity for yourself. What is the use of tech skills if nobody knows you've got such skills? The essence of education is opportunity. The essence of your technical ability is opportunity. Use soft skills to cultivate opportunity. Use soft skills to grab opportunity with both hands. It's wakeup time - keep the right perspective: your value, not just your technical expertise, is your power.
2. Soft skills help advance your career.
Let's look at specific ways in which soft skills can help IT professionals advance their careers. To bring value to organization and clients, IT staff are getting more involved in many non-tech activities to carry out their IT tasks. Your interpersonal skills should be top notch to deliver results with your colleagues and people in non-IT areas you must work with. As a project manager, how do you motivate other members of your team? You may need to work and interact with accountants and customer service staff to develop the company's new business software. Network professionals have to enlighten other staff on the applications of the new wireless network and the implications of the company's security policies.
The server room is no longer a hiding place. And no matter how "good" you think you are you will not get the marks you feel you deserve if can't communicate well with colleagues or clients. In fact, the perception might be that you are not competent. But when you interact better with the people you have to work with, your performance tends to improve and they go away with a positive impression. And the meaning of positive impression is more opportunity, more responsibility.
3. Soft skills empower you and create opportunities.
In my opinion, the main benefit of soft skills is empowerment. How does your tech skill translate to value? How do you create opportunity? Soft skills are useful for creating and taking advantage of opportunities - jobs, career and business. No matter how great your tech skills are, when job hunting, your marketing skills should be first-class. Otherwise others who may not be as capable as you, but who have better marketing skills might beat you to the jobs or work you want. There are opportunities in IT. But there are also challenges and competition. In such a competitive environment, perception often reigns supreme.
If your technical competencies are similar to those of other candidates how do you differentiate yourself? You claim to be a technical wizard. The problem however, and this is a big however, is how do I know if you are good if you can't sell what you have - yourself or your ideas? Your certifications and previous work experience are important. But the issue at stake is this: can you convince the interviewer or clients that you will solve their problems and deliver value?
4. Soft skills not only improve your career, they also offer personal growth.
Interestingly, the acquisition of soft skills also empowers you by allowing you to build flexibility into your future IT career plans. How? Most soft skills are regarded as transferable skills, e.g. communication, project management, business and team work, which are needed in nearly all aspects of life, not just for your career alone. You need to grow not just as a techie but also as a person.
5. Do you have more tech skills than sense? Work on communication and leadership.
As an IT professional, you have confidence in your technical abilities. But is your technical masterpiece built to last? Tech skills are important, but such abilities are no guarantee of career fulfillment. There is no way you can sustain an IT career with just tech skills. You get the job done but what is your impact and influence? What really is your aim in acquiring that certification? Is certification an end in itself? No it's for opportunity, for career growth. It's good to acquire skills, but please be sensible. Unfortunately, many of us seem to emphasize having more skills than sense.
Key skills that make a difference include communication, leadership, teamwork, problem solving, project management and business.
Having the required interpersonal skills provides a must-have foundation for career growth. They give you the ability to take advantage of challenges and opportunities that will come your way. When you empower yourself, you stay ahead of the crowd.
6. Soft skills help you grow beyond money motivation.
Get rid of the tech-only approach. How serious are you about your influence, impact and career growth? Your technical expertise doesn't stop you from developing leadership and motivational skills. And how far can you go without a positive, can-do, can-bounce-back mindset? When facing challenges, stop being a moaner, instead develop some backbone. Grow beyond money motivation. You can be self-motivated and also motivate everyone around you.
Oracle superstar, what really is the big deal in understanding how the business works and how you can enhance value? Cisco authority, it is myopic to be selfish when it comes to sharing knowledge with colleagues. Uncaring attitudes don't encourage teambuilding. Java expert, you don't have to turn nasty simply because the client is difficult.
7. Developing professional ethics is vital to your career.
Stop negative conduct whether deliberate, due to ignorance, or because of an unsupportive environment. No matter your environment, you can't afford to be ignorant, insensitive or unprofessional simply because you feel you are a technical guru. IT "Hot stuff", swallow your pride, dig deep and identify your soft skills gap. Then make a conscious effort to close the gap. Nobody is perfect. But that's no excuse to empower your weaknesses. Developing your tech skills while actively cultivating poor soft skills is akin to moving one step forward, two steps backwards. It burns and wastes what you hold dear -time, money and resources. Poor soft skills devalue. Period!
8. Control co-worker's perception of you as a professional and an expert in your field.
If you are perceived as being difficult and unfriendly, of what value are your Linux skills when no one is ready to work with you? Are you doing your best in your area of specialization? But to people that interact with you - colleagues, clients, instructors, managers - what is their perception of you? A great asset, a fantastic contributor, just someone who does IT stuff, or the techie from hell? It's a hard fact of life, but this book will often be judged by its cover. Most importantly, it's not just about succeeding in work or business. What is the essence? To grow as a professional, to grow in business, you must also grow as a person.
From Jide Awe, Founder/CEO of Jidaw.com
Technical skills have little value if you have poor soft skills. Don't get me wrong, your tech expertise matters. But don't be fooled by your tech skills. King of Linux, champion of Oracle? You've got it made, right? Give me a break! Tech skills alone are no guarantee of success.
You've got all the hot technical certifications with solid work experience. You're the programming guru or the 900-pound gorilla of Network administration. You're on your way to becoming an outstanding IT achiever? Don't make me laugh! Excellent tech activities, rapid knowledge acquisition, tons of certificates are not the same thing as growth.
Tech skills alone don't lead to recognition, promotion, and most importantly: opportunity. Tech skills are important but so are your soft skills.
How well do you communicate with your colleagues, management, clients or your employer? Are perceived as a contributor or just another techie?
1. Certification is not an end in itself. Tech skills do matter.
In fact, to succeed in IT you definitely need to have solid technical skills with a good grasp of the fundamentals. To make any headway you need to be solid on the ground with hard tech know-how. And the IT industry requires you to fortify yourself on a continuous basis with up-to-date tech knowledge and concepts. Training, certification, the Internet, books, are all opportunities available for lifelong learning. But what about your soft skills? As you build up your tech expertise, what effort are you making to develop your non-tech abilities? Certification is not an end in itself.
You need soft skills to create opportunity for yourself. What is the use of tech skills if nobody knows you've got such skills? The essence of education is opportunity. The essence of your technical ability is opportunity. Use soft skills to cultivate opportunity. Use soft skills to grab opportunity with both hands. It's wakeup time - keep the right perspective: your value, not just your technical expertise, is your power.
2. Soft skills help advance your career.
Let's look at specific ways in which soft skills can help IT professionals advance their careers. To bring value to organization and clients, IT staff are getting more involved in many non-tech activities to carry out their IT tasks. Your interpersonal skills should be top notch to deliver results with your colleagues and people in non-IT areas you must work with. As a project manager, how do you motivate other members of your team? You may need to work and interact with accountants and customer service staff to develop the company's new business software. Network professionals have to enlighten other staff on the applications of the new wireless network and the implications of the company's security policies.
The server room is no longer a hiding place. And no matter how "good" you think you are you will not get the marks you feel you deserve if can't communicate well with colleagues or clients. In fact, the perception might be that you are not competent. But when you interact better with the people you have to work with, your performance tends to improve and they go away with a positive impression. And the meaning of positive impression is more opportunity, more responsibility.
3. Soft skills empower you and create opportunities.
In my opinion, the main benefit of soft skills is empowerment. How does your tech skill translate to value? How do you create opportunity? Soft skills are useful for creating and taking advantage of opportunities - jobs, career and business. No matter how great your tech skills are, when job hunting, your marketing skills should be first-class. Otherwise others who may not be as capable as you, but who have better marketing skills might beat you to the jobs or work you want. There are opportunities in IT. But there are also challenges and competition. In such a competitive environment, perception often reigns supreme.
If your technical competencies are similar to those of other candidates how do you differentiate yourself? You claim to be a technical wizard. The problem however, and this is a big however, is how do I know if you are good if you can't sell what you have - yourself or your ideas? Your certifications and previous work experience are important. But the issue at stake is this: can you convince the interviewer or clients that you will solve their problems and deliver value?
4. Soft skills not only improve your career, they also offer personal growth.
Interestingly, the acquisition of soft skills also empowers you by allowing you to build flexibility into your future IT career plans. How? Most soft skills are regarded as transferable skills, e.g. communication, project management, business and team work, which are needed in nearly all aspects of life, not just for your career alone. You need to grow not just as a techie but also as a person.
5. Do you have more tech skills than sense? Work on communication and leadership.
As an IT professional, you have confidence in your technical abilities. But is your technical masterpiece built to last? Tech skills are important, but such abilities are no guarantee of career fulfillment. There is no way you can sustain an IT career with just tech skills. You get the job done but what is your impact and influence? What really is your aim in acquiring that certification? Is certification an end in itself? No it's for opportunity, for career growth. It's good to acquire skills, but please be sensible. Unfortunately, many of us seem to emphasize having more skills than sense.
Key skills that make a difference include communication, leadership, teamwork, problem solving, project management and business.
Having the required interpersonal skills provides a must-have foundation for career growth. They give you the ability to take advantage of challenges and opportunities that will come your way. When you empower yourself, you stay ahead of the crowd.
6. Soft skills help you grow beyond money motivation.
Get rid of the tech-only approach. How serious are you about your influence, impact and career growth? Your technical expertise doesn't stop you from developing leadership and motivational skills. And how far can you go without a positive, can-do, can-bounce-back mindset? When facing challenges, stop being a moaner, instead develop some backbone. Grow beyond money motivation. You can be self-motivated and also motivate everyone around you.
Oracle superstar, what really is the big deal in understanding how the business works and how you can enhance value? Cisco authority, it is myopic to be selfish when it comes to sharing knowledge with colleagues. Uncaring attitudes don't encourage teambuilding. Java expert, you don't have to turn nasty simply because the client is difficult.
7. Developing professional ethics is vital to your career.
Stop negative conduct whether deliberate, due to ignorance, or because of an unsupportive environment. No matter your environment, you can't afford to be ignorant, insensitive or unprofessional simply because you feel you are a technical guru. IT "Hot stuff", swallow your pride, dig deep and identify your soft skills gap. Then make a conscious effort to close the gap. Nobody is perfect. But that's no excuse to empower your weaknesses. Developing your tech skills while actively cultivating poor soft skills is akin to moving one step forward, two steps backwards. It burns and wastes what you hold dear -time, money and resources. Poor soft skills devalue. Period!
8. Control co-worker's perception of you as a professional and an expert in your field.
If you are perceived as being difficult and unfriendly, of what value are your Linux skills when no one is ready to work with you? Are you doing your best in your area of specialization? But to people that interact with you - colleagues, clients, instructors, managers - what is their perception of you? A great asset, a fantastic contributor, just someone who does IT stuff, or the techie from hell? It's a hard fact of life, but this book will often be judged by its cover. Most importantly, it's not just about succeeding in work or business. What is the essence? To grow as a professional, to grow in business, you must also grow as a person.
Tuesday, November 28, 2006
Manfaatkan Potensi Wisata Sumbar
Sumbar Harus Promosi ke ASEAN
* Thamrin: Manfaatkan Potensi Wisata Sumbar
Selasa, 28-November-2006, 03:11:21 36 clicks
Padang, Padek—Sebagai salah satu dari lima kawasan tujuan utama wisata nasional, Sumbar harus membuktikan bahwa pariwisata Indonesia bukan hanya Yogyakarta dan Bali. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mempromosikan kawasan wisata yang bukan hanya kaya dengan alam namun juga aman untuk dikunjungi.
“Sumbar memiliki aset budaya dan alam yang mengagumkan dan bervariasi.
Ditambah lagi masyarakat Sumbar memang memiliki sikap ‘menerima tamu’.
Sekarang tergantung bagaimana Sumbar mampu memanfaatkan potensi yang mereka miliki,” ujar Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Thamrin B Bachri usai pembukaan Pekan Budaya Sumbar di Taman Budaya Padang, Senin (27/11).
Pada kegiatan yang digelar dari 27 November hingga 3 Desember ini ditampilkan berbagai parade, pagelaran seni dan budaya, pameran pariwisata dan produk unggulan serta festival dan aneka lomba. Kemarin, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi secara resmi membuka Pekan Budaya itu.
Pembukaan “Pekan Budaya Sumbar 2006” kali ini berlangsung meriah.
Beranekaragam seni dan budaya tradisional kabupaten dan kota se Sumbar secara bergantian ditampilkan. Ikut ambil bagian atraksi Barongsai masyarakat Tionghoa Kota Padang.
“Pekan budaya ini merupakan langkah tepat Pemprov Sumbar dalam pengembangan dan pelestarian nilai-nilai seni dan budaya sesuai filosofi Minangkabau,”
ujar Thamrin.
Bahkan menurut Thamrin, Sumbar bisa menjadikan pekan budaya ini sebagai calender of event pariwisata nasional.
Di sela-sela mengunjungi lokasi pameran produk unggulan pariwisata daerah yang terletak di sisi kanan gedung Taman Budaya, Thamrin kepada koran ini menyebutkan pihaknya akan mendukung Sumbar dalam berbentuk program kepariwisataan seperti promosi dan pengembangan produk-produk wisata.
Hadir pada kesempatan tersebut, Asisten II Setdaprov Surya Dharma Sabirin, Bupati Dhamasraya Marlon Martua, Wali Kota Bukittinggi Djufri, Wali Kota Padang Fauzi Bahar, Bupati Agam Aristo Munandar serta unsur muspida lainnya.
Thamrin mengatakan, dengan menjadi tujuan utama nasional selain Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sumbar sebaiknya melakukan promosi besar-besaran ke kawasan ASEAN. Jadikan ASEAN sebagai fokus promosi wisata Sumbar. Karena beberapa wilayah Sumbar memiliki budaya yang sama dengan kebudayaan Sumbar.
”Sumbar harus all out terhadap ASEAN dengan melakukan promosi besar-besaran.
Malaysia, misalnya memiliki kebudayaan dan makanan yang sama serta jarak tempuh yang relatif dengan dengan Sumbar relatif. Ini peluang yang harus dimanfaatkan oleh Sumbar sendiri,” kata Thamrin.
Namun bukan berarti daerah lain seperti Eropa tidak menjadi perhatian. Di kawasan ini juga dilakukan promosi namun tidak sefokus pada kawasan Asean.
Kegiatan pekan budaya ini kata Thamrin sebagai media promosi untuk menunjukan kepada masyarakat terutama wisatawan, bahwa Sumbar memiliki aset kebudayaan yang beragam.
Sementara itu, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi yang membuka pekan budaya tersebut menyatakan dia bersama dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengku Buwono X sudah sepakat untuk saling mendukung promosi pariwisata masing-masing.
Hal itu sebagai upaya untuk lebih memajukan dan memperkenalkan produk pariwisata Sumbar. Begitu juga dengan Provinsi Jawa Barat. ”Tentunya instansi terkait harus menindaklanjuti kerjasama ini dengan dukungan stakeholders pariwisata yang ada seperti travel-travel agent atau biro-biro perjalanan wisata,” kata Gamawan.
Dengan ditetapkannya Sumbar sebagai pusat tujuan wisata kawasan barat Indonesia, Gubernur meminta pemerintah untuk mengutamakan berbagai event besar nasional diselenggarakan di Sumbar. Pemerintah juga mesti memasukkan event Sumbar didalam ‘calender of event’ nasional. Pada kesempatan tersebut, Gubernur sempat mengkritik penyelenggaraan pekan budaya yang sudah dijadwalkan sejak lama tapi sepertinya tidak didukung para biro perjalanan pariwisata di daerah ini.
“Mestinya dari jauh-jauh hari, travel-travel agent pariwisata mendukung iven besar pekan budaya ini dengan memprogramkan kedatangan wisatawan ke Sumbar mulai hari ini,” tegas Gubernur sebelum mengunjungi stand pameran pariwisata unggulan kabupaten/kota yang ramai dikunjungi masyarakat meski hujan hujan deras mengguyur.
Kelemahan itu, kata gubernur mesti diperbaiki di masa datang sehingga ada sinkronisasi antara iven akbar yang diselenggarakan dengan kunjungan wisatawan ke Sumbar.
”Bisa saja melalui promosi ke berbagai daerah, termasuk luar negeri seperti Singapura sejak diketahui ada iven ini di Sumbar,” tandasnya.
Kepala dinas Pariwisata Seni dan Budaya, James Hellyward mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 19 kabupaten kota se Sumbar dan diikuti tidak kurang 7 provinsi yakni NTB, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Tasik Malaya, Banten serta dari negara tetangga bidang promosi pelancong Malaka.
Sebelumnya kegiatan ini juga pernah dilakukan tahun 2004 dengan lokasi dan tempat yang sama dengan penyelenggaranya kerjasama antara Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan pemerintah daerah Sunbar dalam rangka mengalakan program wisata nusantara dan program kenali negerimu, cintai negeri guna mengairahlan wisata dalam negeri. (afi/esg)
* Thamrin: Manfaatkan Potensi Wisata Sumbar
Selasa, 28-November-2006, 03:11:21 36 clicks
Padang, Padek—Sebagai salah satu dari lima kawasan tujuan utama wisata nasional, Sumbar harus membuktikan bahwa pariwisata Indonesia bukan hanya Yogyakarta dan Bali. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mempromosikan kawasan wisata yang bukan hanya kaya dengan alam namun juga aman untuk dikunjungi.
“Sumbar memiliki aset budaya dan alam yang mengagumkan dan bervariasi.
Ditambah lagi masyarakat Sumbar memang memiliki sikap ‘menerima tamu’.
Sekarang tergantung bagaimana Sumbar mampu memanfaatkan potensi yang mereka miliki,” ujar Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Thamrin B Bachri usai pembukaan Pekan Budaya Sumbar di Taman Budaya Padang, Senin (27/11).
Pada kegiatan yang digelar dari 27 November hingga 3 Desember ini ditampilkan berbagai parade, pagelaran seni dan budaya, pameran pariwisata dan produk unggulan serta festival dan aneka lomba. Kemarin, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi secara resmi membuka Pekan Budaya itu.
Pembukaan “Pekan Budaya Sumbar 2006” kali ini berlangsung meriah.
Beranekaragam seni dan budaya tradisional kabupaten dan kota se Sumbar secara bergantian ditampilkan. Ikut ambil bagian atraksi Barongsai masyarakat Tionghoa Kota Padang.
“Pekan budaya ini merupakan langkah tepat Pemprov Sumbar dalam pengembangan dan pelestarian nilai-nilai seni dan budaya sesuai filosofi Minangkabau,”
ujar Thamrin.
Bahkan menurut Thamrin, Sumbar bisa menjadikan pekan budaya ini sebagai calender of event pariwisata nasional.
Di sela-sela mengunjungi lokasi pameran produk unggulan pariwisata daerah yang terletak di sisi kanan gedung Taman Budaya, Thamrin kepada koran ini menyebutkan pihaknya akan mendukung Sumbar dalam berbentuk program kepariwisataan seperti promosi dan pengembangan produk-produk wisata.
Hadir pada kesempatan tersebut, Asisten II Setdaprov Surya Dharma Sabirin, Bupati Dhamasraya Marlon Martua, Wali Kota Bukittinggi Djufri, Wali Kota Padang Fauzi Bahar, Bupati Agam Aristo Munandar serta unsur muspida lainnya.
Thamrin mengatakan, dengan menjadi tujuan utama nasional selain Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sumbar sebaiknya melakukan promosi besar-besaran ke kawasan ASEAN. Jadikan ASEAN sebagai fokus promosi wisata Sumbar. Karena beberapa wilayah Sumbar memiliki budaya yang sama dengan kebudayaan Sumbar.
”Sumbar harus all out terhadap ASEAN dengan melakukan promosi besar-besaran.
Malaysia, misalnya memiliki kebudayaan dan makanan yang sama serta jarak tempuh yang relatif dengan dengan Sumbar relatif. Ini peluang yang harus dimanfaatkan oleh Sumbar sendiri,” kata Thamrin.
Namun bukan berarti daerah lain seperti Eropa tidak menjadi perhatian. Di kawasan ini juga dilakukan promosi namun tidak sefokus pada kawasan Asean.
Kegiatan pekan budaya ini kata Thamrin sebagai media promosi untuk menunjukan kepada masyarakat terutama wisatawan, bahwa Sumbar memiliki aset kebudayaan yang beragam.
Sementara itu, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi yang membuka pekan budaya tersebut menyatakan dia bersama dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengku Buwono X sudah sepakat untuk saling mendukung promosi pariwisata masing-masing.
Hal itu sebagai upaya untuk lebih memajukan dan memperkenalkan produk pariwisata Sumbar. Begitu juga dengan Provinsi Jawa Barat. ”Tentunya instansi terkait harus menindaklanjuti kerjasama ini dengan dukungan stakeholders pariwisata yang ada seperti travel-travel agent atau biro-biro perjalanan wisata,” kata Gamawan.
Dengan ditetapkannya Sumbar sebagai pusat tujuan wisata kawasan barat Indonesia, Gubernur meminta pemerintah untuk mengutamakan berbagai event besar nasional diselenggarakan di Sumbar. Pemerintah juga mesti memasukkan event Sumbar didalam ‘calender of event’ nasional. Pada kesempatan tersebut, Gubernur sempat mengkritik penyelenggaraan pekan budaya yang sudah dijadwalkan sejak lama tapi sepertinya tidak didukung para biro perjalanan pariwisata di daerah ini.
“Mestinya dari jauh-jauh hari, travel-travel agent pariwisata mendukung iven besar pekan budaya ini dengan memprogramkan kedatangan wisatawan ke Sumbar mulai hari ini,” tegas Gubernur sebelum mengunjungi stand pameran pariwisata unggulan kabupaten/kota yang ramai dikunjungi masyarakat meski hujan hujan deras mengguyur.
Kelemahan itu, kata gubernur mesti diperbaiki di masa datang sehingga ada sinkronisasi antara iven akbar yang diselenggarakan dengan kunjungan wisatawan ke Sumbar.
”Bisa saja melalui promosi ke berbagai daerah, termasuk luar negeri seperti Singapura sejak diketahui ada iven ini di Sumbar,” tandasnya.
Kepala dinas Pariwisata Seni dan Budaya, James Hellyward mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 19 kabupaten kota se Sumbar dan diikuti tidak kurang 7 provinsi yakni NTB, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Tasik Malaya, Banten serta dari negara tetangga bidang promosi pelancong Malaka.
Sebelumnya kegiatan ini juga pernah dilakukan tahun 2004 dengan lokasi dan tempat yang sama dengan penyelenggaranya kerjasama antara Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan pemerintah daerah Sunbar dalam rangka mengalakan program wisata nusantara dan program kenali negerimu, cintai negeri guna mengairahlan wisata dalam negeri. (afi/esg)
Monday, February 06, 2006
Ayo Kedaerah
Assalaamu'alaikum W W.
Halo KDBM, bagaimana kabar siang ini? tentu semua baik ya? Beberapa hari ini koran kompas mengangkat bahwa infrastruktur di Jawa(terutama Jabodetabek) tidak dapat lagi mendukung industri. Pak Ridwanbilang alam takambang jadi guru. Dengan keadaan yang telah berat begini, apa sharing kita untuk memecahkan masalah yang makin hari makin mengkronis ini? Jawaban adalah "Ayo kedearah". Harus dipikirkan supaya orang tidak lagi memikirkan memperpadat penduduk Jawa yang telah over capacity ini.
Disamping jalan macet seperti tergambar di alenia pertama diatas, pulau Jawatelah mengalami musibah beruntun yang secara langsung ataupun tidak langsungadalah dikarenakan oleh over populated ini. Musibah banjir, musibah tanahlongsor, musibah kebakaran dll musibah. Pulau yang kecil ini telah diexploitasi jauh diatas kemampuannya sehingga tidak lagi sanggup menormalkan diri secara alami.
Ayo Kedaerah ini dapat mencapai multi manfaat, seperti memeratakan populasi, menebarkan industri, meningkatakan kemampuan daerah, membuat seluruh daerah di Indonesia maju bersama. Dan lain lain manfaat yang berjubin.
Seharusnya, masalah yang timbul di Jawa ini, menjadi oppurtunity bagidaerah. Daerah harus pandai memanfaatkan keadaan dan kesempatan ini. Misal dengan membuat birokrat daerah efisien, penegakan hukum didaerah lebih baik, izin dipermudah, kalau bisa dapat dilaksanakan on line. Daerah mempunyaidata investasi yang akurat dan uptodate. Infrastruktur dipacupengembangannya. Sehingga semua ini merangsang alias mempermudah investor untuk mengambil keputusan.
Upaya pertama kita dalam menyorakan "Ayo Kedaerah" ini, mungkin dapat denganmengorganisasikan diskusi berkelanjutan pakar di media televisi. Dapatdiyakini bahwa ini adalah bisa dan sangat berguna dalam ikut sertamemecahkan masalah kronis yang telah membebani kita semua, terutama yangbermukim di pulau super padat Jawa ini.
Let's go there.
Wassalaamu'alaikum W W.
Darul Makmur
Wa'alaikum salam wr wb.
Pak Darul,Agree.
Di Kompas hari ini ada berita "transportasi menjadi hambatan bagiindustri Jabotabek" Beberapa hari yang lalu ada berita, "industri tidaktertarik untuk meningkatkan kemampuannya karena hambatan transportasi" -jalan macet sepanjang masa. Di radio kemarin sore saya dengan pembahasan mengenai kerugian yang diderita industri karena motor listrik dan mesin lainnya terendam banjir.
Banjir akan menjadi masalah rutin bagi pulau Jawa, sampai-sampai ada judul besar di Kompas "Pulau Bencana itu Bernama Jawa". Sekarang dan dalam waktu kedepan akan menjadi bahasan bagi kalangan industri untuk berfikir memindahkan usahanya keluar Jawa yang sudah tidak menarik lagi. Banyak orangberfikir ke China, seperti yang dilakukan oleh Kacang Garuda yangmemindahkan pabrik Ting-ting nya ke China.
Pindah ke China bukan berarti masalah yang mudah. Banyak china Indonesia sudah merasa asing dengan negeri asalnya. Pengusaha kita kebanyakan adalah pemain lokal. Kalau ada solusi yang menarik yang bisa ditawarkan oleh Daerah, maka akan banyak orang tertarik. Bagaimana kita bersikap untuk menangkap peluang ini? Kalau kita tidak melakukan apa-apa, akan ada orang lain yang akan mengambil keuntungan dari sini.
Ada kesempatan yang terbuka. Ada oportunity untuk jasa konsultan yang menerima dan menampung keinginan industri untuk bisa memindahkan usahanya kedaerah yang lebih menguntungkan dalam jangka menengah dan panjang. Misalnya untuk industri makanan seperti crackers, biskuit, dan lain-lain, apabila ada daerah yang siap untuk menampung kebutuhan mereka dari sisi supply bahan baku, tenaga kerja, tersedianya tanah dan sewa bangunan yang murah, kemudahan peraturan dan kepastian hukum, pasti mereka akan tertarik.
Baa gati?
Wassalam,
Ridwan
Halo KDBM, bagaimana kabar siang ini? tentu semua baik ya? Beberapa hari ini koran kompas mengangkat bahwa infrastruktur di Jawa(terutama Jabodetabek) tidak dapat lagi mendukung industri. Pak Ridwanbilang alam takambang jadi guru. Dengan keadaan yang telah berat begini, apa sharing kita untuk memecahkan masalah yang makin hari makin mengkronis ini? Jawaban adalah "Ayo kedearah". Harus dipikirkan supaya orang tidak lagi memikirkan memperpadat penduduk Jawa yang telah over capacity ini.
Disamping jalan macet seperti tergambar di alenia pertama diatas, pulau Jawatelah mengalami musibah beruntun yang secara langsung ataupun tidak langsungadalah dikarenakan oleh over populated ini. Musibah banjir, musibah tanahlongsor, musibah kebakaran dll musibah. Pulau yang kecil ini telah diexploitasi jauh diatas kemampuannya sehingga tidak lagi sanggup menormalkan diri secara alami.
Ayo Kedaerah ini dapat mencapai multi manfaat, seperti memeratakan populasi, menebarkan industri, meningkatakan kemampuan daerah, membuat seluruh daerah di Indonesia maju bersama. Dan lain lain manfaat yang berjubin.
Seharusnya, masalah yang timbul di Jawa ini, menjadi oppurtunity bagidaerah. Daerah harus pandai memanfaatkan keadaan dan kesempatan ini. Misal dengan membuat birokrat daerah efisien, penegakan hukum didaerah lebih baik, izin dipermudah, kalau bisa dapat dilaksanakan on line. Daerah mempunyaidata investasi yang akurat dan uptodate. Infrastruktur dipacupengembangannya. Sehingga semua ini merangsang alias mempermudah investor untuk mengambil keputusan.
Upaya pertama kita dalam menyorakan "Ayo Kedaerah" ini, mungkin dapat denganmengorganisasikan diskusi berkelanjutan pakar di media televisi. Dapatdiyakini bahwa ini adalah bisa dan sangat berguna dalam ikut sertamemecahkan masalah kronis yang telah membebani kita semua, terutama yangbermukim di pulau super padat Jawa ini.
Let's go there.
Wassalaamu'alaikum W W.
Darul Makmur
Wa'alaikum salam wr wb.
Pak Darul,Agree.
Di Kompas hari ini ada berita "transportasi menjadi hambatan bagiindustri Jabotabek" Beberapa hari yang lalu ada berita, "industri tidaktertarik untuk meningkatkan kemampuannya karena hambatan transportasi" -jalan macet sepanjang masa. Di radio kemarin sore saya dengan pembahasan mengenai kerugian yang diderita industri karena motor listrik dan mesin lainnya terendam banjir.
Banjir akan menjadi masalah rutin bagi pulau Jawa, sampai-sampai ada judul besar di Kompas "Pulau Bencana itu Bernama Jawa". Sekarang dan dalam waktu kedepan akan menjadi bahasan bagi kalangan industri untuk berfikir memindahkan usahanya keluar Jawa yang sudah tidak menarik lagi. Banyak orangberfikir ke China, seperti yang dilakukan oleh Kacang Garuda yangmemindahkan pabrik Ting-ting nya ke China.
Pindah ke China bukan berarti masalah yang mudah. Banyak china Indonesia sudah merasa asing dengan negeri asalnya. Pengusaha kita kebanyakan adalah pemain lokal. Kalau ada solusi yang menarik yang bisa ditawarkan oleh Daerah, maka akan banyak orang tertarik. Bagaimana kita bersikap untuk menangkap peluang ini? Kalau kita tidak melakukan apa-apa, akan ada orang lain yang akan mengambil keuntungan dari sini.
Ada kesempatan yang terbuka. Ada oportunity untuk jasa konsultan yang menerima dan menampung keinginan industri untuk bisa memindahkan usahanya kedaerah yang lebih menguntungkan dalam jangka menengah dan panjang. Misalnya untuk industri makanan seperti crackers, biskuit, dan lain-lain, apabila ada daerah yang siap untuk menampung kebutuhan mereka dari sisi supply bahan baku, tenaga kerja, tersedianya tanah dan sewa bangunan yang murah, kemudahan peraturan dan kepastian hukum, pasti mereka akan tertarik.
Baa gati?
Wassalam,
Ridwan
Tuesday, January 03, 2006
BLK
Assalaamu'alaikum W W.
BLK. Ini adalah suatu aset yang potensial untuk memajukan Minangkabau. Sangat sayang aset berharga ini terbengkalai begitu saja. Kalau mungkin ini dikelola secara swasta, pemerintah hanya sebagai pemegang sahamnya saja. Mungkinkah ini diusahakan? Mungkin pak Rais yang berkompeten untuk menjawab dan mengusahakan.
Saya yakin BLK ini dapat self finance dengan segera, yang nanti akan dapat mencetak uang. Tapi birokrasinya harus dipangkas, dengan sistim pengelolaan swasta seperti perusahaan. Atau istilahnya yang dilakukan adalah apaapa yang dapat membiayai dirinya sendiri.
Ada dua konsep besar yang dapat digagas:
Pertama. Manusia pada kodratnya dilahirkan untuk survive didunia ini. Alam takambang jadi guru. Maka dengan begini konsep bisa diangkat berdasarkan pemikiran ini. Pertama kita cetak entreprenuer, yang ujungnya akan memerlukan tenaga kerja untuk usahanya. Kemudian dalam dipilih bidang untuk dapatnya kita siapkan tenaga kerja untuk mengisi lapangan yang terbuka. Kelihatannya berat dan susah, tapi kalau diurut dengan logika bisnis besar, ini sangat mungkin.
Sebagai contoh, kita siapkan beberapa orang yang sanggup berusaha ternak sapi, digalang pasar yang masih terbuka luas. Nanti mereka pasti memerlukan tenaga produksi, administrasi, pemasaran dll. Ini perlu dididik juga. Bukan dididik dari awal, tapi memoles tenaga yang sebenarnya telah mempunyai back ground cukup, tapi perlu dipoles untuk tepat guna dan dapat dipakai langsung.
Contoh lainnya, usaha keramba ikan dan rumput laut. Ilmu ini sebenarnya nggak susah bangat. Tapi yang perlu adalah jiwa usaha urang awak harus dirangsang. Dan diadakan sisitim terpadu sampai ke pasar. Gorontalo bisa, kenapa kita tidak. Tapi sebaiknya jangan ditangani birokrasi, tidak akan fokus mereka.
Belum lagi tenaga nelayan perikanan untuk mengolah hasil tangkapnya. Atau mengurus hasil tangkap sehingga daya tahan ikan tersebut dapat lebih lama (cold storage & frozen Container).
Kedua. BLK dapat berfungsi sebagai pencetak TK siap pakai untuk mengisi lapangan kerja yang masih terbuka di manca negara. Philipina bisa mengandalkan TK-nya sebagai penghasil devisa No. 3. Seharusnya Sumbar juga berfikir lebih maju selangkah. Sehingga kesempatan yang terbuka dapat dimanfaatkan dengan baik dan segera. Tenaga perminyakan banyak terbuka di Timteng. Tenaga perawat banyak terbuka di Timteng, UK, Aussie, US dll., yang adalah sangat besar yang belum termanfaatkan.
Bagaimana komentar yang lain?
Wassalaamu'alaikum W W.
BLK. Ini adalah suatu aset yang potensial untuk memajukan Minangkabau. Sangat sayang aset berharga ini terbengkalai begitu saja. Kalau mungkin ini dikelola secara swasta, pemerintah hanya sebagai pemegang sahamnya saja. Mungkinkah ini diusahakan? Mungkin pak Rais yang berkompeten untuk menjawab dan mengusahakan.
Saya yakin BLK ini dapat self finance dengan segera, yang nanti akan dapat mencetak uang. Tapi birokrasinya harus dipangkas, dengan sistim pengelolaan swasta seperti perusahaan. Atau istilahnya yang dilakukan adalah apaapa yang dapat membiayai dirinya sendiri.
Ada dua konsep besar yang dapat digagas:
Pertama. Manusia pada kodratnya dilahirkan untuk survive didunia ini. Alam takambang jadi guru. Maka dengan begini konsep bisa diangkat berdasarkan pemikiran ini. Pertama kita cetak entreprenuer, yang ujungnya akan memerlukan tenaga kerja untuk usahanya. Kemudian dalam dipilih bidang untuk dapatnya kita siapkan tenaga kerja untuk mengisi lapangan yang terbuka. Kelihatannya berat dan susah, tapi kalau diurut dengan logika bisnis besar, ini sangat mungkin.
Sebagai contoh, kita siapkan beberapa orang yang sanggup berusaha ternak sapi, digalang pasar yang masih terbuka luas. Nanti mereka pasti memerlukan tenaga produksi, administrasi, pemasaran dll. Ini perlu dididik juga. Bukan dididik dari awal, tapi memoles tenaga yang sebenarnya telah mempunyai back ground cukup, tapi perlu dipoles untuk tepat guna dan dapat dipakai langsung.
Contoh lainnya, usaha keramba ikan dan rumput laut. Ilmu ini sebenarnya nggak susah bangat. Tapi yang perlu adalah jiwa usaha urang awak harus dirangsang. Dan diadakan sisitim terpadu sampai ke pasar. Gorontalo bisa, kenapa kita tidak. Tapi sebaiknya jangan ditangani birokrasi, tidak akan fokus mereka.
Belum lagi tenaga nelayan perikanan untuk mengolah hasil tangkapnya. Atau mengurus hasil tangkap sehingga daya tahan ikan tersebut dapat lebih lama (cold storage & frozen Container).
Kedua. BLK dapat berfungsi sebagai pencetak TK siap pakai untuk mengisi lapangan kerja yang masih terbuka di manca negara. Philipina bisa mengandalkan TK-nya sebagai penghasil devisa No. 3. Seharusnya Sumbar juga berfikir lebih maju selangkah. Sehingga kesempatan yang terbuka dapat dimanfaatkan dengan baik dan segera. Tenaga perminyakan banyak terbuka di Timteng. Tenaga perawat banyak terbuka di Timteng, UK, Aussie, US dll., yang adalah sangat besar yang belum termanfaatkan.
Bagaimana komentar yang lain?
Wassalaamu'alaikum W W.
Tuesday, December 20, 2005
Menentukan Produk
Studi Kasus #2
“MENENTUKAN PRODUK”
PENDIDIKAN/PELATIHAN
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”
Tingkat L2 - “Menyusun Sistem Bisnis”
Diselenggarakan oleh:
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
Business Management Consultancy & Education/Training Services
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541 E-mail muchtid@cbn.net.id
***
Dilarang memperbanyak Studi Kasus ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari
“M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia).
***
Studi Kasus #2
MENENTUKAN PRODUK
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.
Mereka masih di pekarangan rumah Danang, di depan garasi mobil, selesai pertemuan dengan Danang sejak hari Minggu pagi itu. Chris memarkir mobil Mercy-nya di situ dan semua sudah masuk ke dalam mobil Chris. Posisi mereka dalam mobil sama seperti waktu mereka datang, Chris yang menyetir sendiri mobilnya, Boy duduk di jok depan, Anton dan Nina duduk di jok belakang.
“Kemana kita, nih?”, tanya Chris.
“Ngedrop Anton dan Nina dulu, lalu ke rumah ‘lu ngambil mobil gue”, jawab Boy.
“Lu mau kemana sih, Boy? Buru-buru amat, baru jam setengah dua belas. Anton sama Nina aja nggak pengen buru-buru pulang dari tadi, ya nggak Nin?”, tanya Chris lagi.
“Gini aja” potong Anton. “Kita drop aja si Boy di rumah ‘lu, biar dia ngambil mobilnya terus pulang, gue sama Nina aja yang nemenin ‘lu makan siang di restoran pilihan ‘lu”.
“Oh, maksud ‘lu mau traktir kita-kita ini makan siang. Bilang dong dari tadi . . .”, kata Boy menujukannya ke Chris. “Ya, terserah ‘lu mau ke restoran yang mana . . . .” lanjutnya.
“Gue nanya, maksud gue barangkali ‘lu-‘lu pada tahu restoran mana yang jadi favorit masing-masing, terus kita cari kesepakatan mau ke restoran yang mana, gitu . . . .”, jawab Chris.
“Udah, terserah sopir ajalah, ya nggak . . . .”, kata Boy kepada Anton dan Nina.
“Setuju . . . .”, kata Anton dan Nina serempak.
“Eh, eh, eh . . . . . . enak aja gue dibilang sopir, gue pulang nih ya . . . . . . ?!!”, jawab Chris memotong.
“Sorry . . . . . ”, pinta Boy, Anton dan Nina serempak.
***
“Nah, ini restoran favorit gue . . . .”, kata Chris sambil memarkir mobilnya di depan sebuah restoran Padang. Anton, Nina dan Boy masing-masing terdiam, sebentar melihat ke restoran, sebentar melihat ke mukanya Chris, seolah-olah bertanya dalam hati, “Nggak salah nih . . . ., seorang keturunan Tionghoa seperti si Chris ini makanan favoritnya masakan Padang . . . .”. Semula mereka sudah membayangkan bakal makan enak di sebuah Restoran Tionghoa yang mahal.
“Ayo,” kata Chris sambil tersenyum maklum. “Tadi gue tanya mau ke restoran mana, katanya terserah gue . . . . Sekarang kok bengong . . . Udah, mari masuk . . . .”, ajaknya. Chris lalu masuk duluan ke dalam restoran.
“Selamat siang, Bos.” sapa seorang pelayan sambil mengantar mereka menuju ke meja yang disukai Chris di sebuah ruangan yang ber-A/C. Para pelayan sudah hafal karena Chris sering mengajak tamu-tamunya makan di restoran ini, termasuk masakan-masakan yang Chris paling doyan.
“Hari ini ‘gajeboh’-nya bagus sekali, Bos. Begitu juga ‘tunjang’-nya. ‘Dendeng blado’-nya empuk-empuk . . . . Mau pesan minuman apa aja nih, Bos?”, tanya si pelayan.
“Gue pesan seperti biasa, teh telor . . . ., ‘lu Boy, Anton, Nina, mau pesen apa . . . ?”, tanya Chris.
“Gue sama deh . . .”, jawab Anton.
“Gue juga . . .”, sambung Boy.
“Hmmm, jeruk panas aja deh . . . . .”, kata Nina.
“Tiga teh telor . . . ., satu jeruk panas . . .”, kata si pelayan mengulangi sambil menuliskannya di bon pesanan. “OK . . ., terima kasih Bos . . .” lanjutnya, terus pergi.
Seorang pelayan kemudian datang membawa empat nampan kecil dari bambu, masing-masing berisi handuk kecil basah, putih bersih, digulung dan baru dikeluarkan dari lemari pendingin. “Si Chris ini, waktu masih mahasiswa dulu badannya ramping dan atletis”, kata Boy mengingat-ingat masa lalu sambil melap muka dan tangannya. “Nggak heran kalau sekarang awaknya gembrot begini, doyannya masakan Padang yang pakai santan melulu . . .” Semua ketawa, juga sambil menyegarkan diri masing-masing dengan handuk dingin.
Tidak lama kemudian seorang pelayan lain datang membawa piring-piring kecil yang tersusun penuh di kedua belah tangannya berisi segala jenis makanan yang tersedia. Jrengngngngn. . ., dengan piawainya dia meletakkan semua piring yang tersusun di tangan kanannya di meja dengan sekali gerakan tanpa ada isinya yang tumpah. ‘Life show’ yang mengagumkan. Lalu giliran piring-piring yang ada di tangan kiri disusunnya satu per satu di atas meja sambil menata rapi semuanya.
Dua orang pelayan yang lain lagi menyusul, pelayan yang satu laki-laki dan pelayan yang satu lagi perempuan. Pelayan yang laki-laki membawa sebakul nasi yang masih panas mengepul dan empat gelas minum berisi teh tawar. Pelayan yang perempuan membawa piring kosong dan kemudian meletakkan satu per satu di depan Chris, Boy, Anton dan Nina. Lalu bakul bambu yang berisi nasi diterimanya dari pelayan yang laki-laki dan diletakkannya di depan Chris. Terakhir gelas berisi teh tawar diletakkannya satu per satu di samping piring kosong di depan masing-masing tamunya. “Selamat makan . . . . . .”, katanya sambil tersenyum manis.
Setelah pelayan menjauh dari mereka, Chris menjelaskan, “Pelayanan mereka ini yang menyebabkan restoran ini menjadi favorit gue. Bukannya hanya masakannya yang memang gue suka, tapi mereka benar-benar menyediakan ‘suasana makan yang enak’ dengan pelayanan yang hampir nggak ada celanya.”
Setelah mengambil nasi secukupnya dan mempersilahkan Boy, Anton dan Nina melakukan hal yang sama, kemudian Chris melanjutkan, “Sekarang gue baru sadar, kenapa selama ini gue harus menyediakan pelayanan yang baik di toko gue. Tidak lain karena pelayanan itu merupakan bagian dari produk barang elektronik yang gue jual, yang dalam buku yang kita pelajari ini dinamakan komponen produk. Sebelum dapat menyediakan pelayanan yang baik, segala produk yang ada di toko gue belum lengkap, artinya belum siap untuk dijual. Gue sekarang paham kenapa dalam buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha’ ini dikatakan kalau ingin menjalankan suatu usaha (bisnis) itu harus dimulai dengan menentukan terlebih dahulu dengan jelas produk yang akan disediakan”.
“Nah, itu yang Boy sama gue masih bingung, harus menentukan produk apa kalau mau menjalankan usaha (bisnis)?”, kata Anton memotong pembicaraan Chris.
Semua kemudian terdiam. Bukan karena tidak berminat membicarakan topik tentang menentukan produk yang ditanyakan Anton, akan tetapi karena masing-masing asyik menikmati makanan yang disajikan, didukung oleh kursi yang nyaman serta meja yang sesuai dengan dekorasi ruangan, ditambah dengan hembusan udara sejuk dari A/C serta alunan musik yang lembut. Benar-benar menyuguhkan ‘suasana makan yang enak’.
***
“Pak Danang saja, yang di antara kita paling menguasai ‘Sistematika Menjalankan Usaha’ ini, gue dengar katanya masih mengalami kesulitan menerapkannya. Apalagi kita, ya?”, kata Chris mencoba memulai kembali pembicaraan, masih di ruangan Restoran Padang tempat mereka santap siang, sambil menikmati teh telor yang telah dipesan sebelumnya.
“Iya, memang”, kata Boy mengiyakan. “Sebagaimana dikatakan oleh penulisnya pada halaman terakhir dalam ‘Bab Penutup’, bahwa isi buku ini adalah tentang suatu sistematika yang tidak mungkin dapat dipahami hanya dengan membacanya. Katanya kita perlu mengikuti pelatihan (workshop) dalam bentuk kelompok belajar yang dibimbing oleh instruktur-instruktur dengan menggunakan suatu studi kasus (case study)”.
“‘Ntar dulu, ‘ntar dulu”, Anton memotong lagi. “Ini apa hubungannya dengan kebingungan kita, terutama gue, tentang menentukan produk.”
“Alaa..., Anton . . .Anton . . .” jawab Boy. “Baru pagi tadi Pak Danang bilang sama kita-kita bahwa yang ‘lu tanya itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’.
“Dan gue ingat benar yang dikatakan Pak Danang, sambung Chris. “Bahwa sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut dengan ‘Teknis Berbisnis’ itu”.
“Memang gue akui, sampai sekarang gue masih belum mudeng dengan istilah ‘Teknis Berbisnis’ itu”, kata Anton mengaku terus terang.
“Lagian, ‘lu tuh kayak belum baca buku deh,” Boy mengomentari omongan Anton sambil mengeluarkan buku. “Kan ada tuntunan tentang ‘Rencana Produk’ dalam Sub Bab ‘Rencana Pemasaran’, nih lihat . . .. yang dalam Bab Rencana Bisnis merupakan Sub Bab yang pertama.”
“Udah . . ., gue udah baca. Malah makin gue baca, gue makin bingung karena penulisnya tidak mengupas lebih lanjut. Malah kata penulisnya ada ilmunya yang dapat dipelajari tersendiri”, jawab Anton.
“Maksudnya ‘Ilmu Pemasaran (Marketing)’,” sambung Chris. “Yang waktu gue kuliah barengan sama Boy dulu, gue sempat dapat dasar-dasarnya. Tapi ilmu itu baru dapat diaplikasikan setelah produk ditentukan, jadi tentang teori memasarkannya. Masalah ‘Rencana Produk’ yang jadi pikiran ‘lu itu adalah tentang menentukan produk, belum tentang memasarkannya, jadi nggak ada hubungannya dengan ilmu itu.”
“Terus terang,” Chris menambahkan, “setelah membaca buku ini, yang baru gue beli dan gue baca dari minggu lalu, ditambah penjelasan dari Pak Danang pagi tadi, kreatifitas dan daya inovasi gue tentang produk terasa mulai terpancing. Nantilah kita omongin . . .”
“Ngomongin sekarang aja deh . . .” Anton mendesak.
“Anton,” jawab Chris, “Lu tuh kudu sabar, ‘nape? Gue liat ‘lu masih garuk-garuk kepala waktu Pak Danang nerangin tentang “Teknis Berbisnis” dan “Sistematika Menjalankan Usaha” yang diibaratkannya seperti dua sisi yang berbeda dari sebuah coin. ‘Lu kudu endapin dululah barang satu-dua minggu ini. Atau kayak semacam tablet yang sama dokter dibilang jangan langsung ditelan, tapi diemut pelan-pelan sampai habis.” katanya dengan logat betawi-nya yang medok.
“Gini aja deh . . .” Nina menyela, “Dalam buku ini memang penulis bilang kalau mau mempelajari dan kemudian menggunakan sistematika, tidak cukup dengan hanya membaca buku ini. Dia menyarankan untuk mengikuti pendidikan/pelatihan yang diselenggarakannya secara reguler untuk umum. Jadi, gimana kalau saya minta dulu informasi selengkapnya tentang penyelenggaraan pendidikan/pelatihan reguler itu, terutama tentang waktu dan biayanya?”
“Betul, betul, . . .” jawab Anton, Boy dan Chris serempak tanda setuju. “‘Ntar sampai di rumah langsung telpon aja, siapa tahu hari Minggu mereka juga buka.” sambung Anton bersemangat dengan harapan agar dengan demikian ‘gatal di kepalanya’ segera hilang.
“Kalau sudah tahu jadwal penyelenggaraannya, maksud gue harinya, kita cari kesepakatan di antara kita hari apa yang kita sama-sama bisa menyediakan waktu.” kata Anton menjelaskan lagi.
“Kalau gue, jelas bisanya cuma hari Sabtu atau Minggu. Walaupun udah bosan, pengen brenti aja, tapi gue masih masuk kerja.” Boy mengkomfirmasikan hari-hari yang dia bisa ikut.
“Nina juga begitu. Kalau gue sih, hari apa aja terserah. Kalau ‘lu, Chris?” tanya Anton.
“Gue paling bisanya seperti hari ini, hari Minggu. Biasanya pembeli sepi dibandingkan hari-hari lain, walaupun suka-suka ada juga yang beli. Tapi nggak apa-apalah setiap hari Minggu toko gue tutup dulu, karyawan gue liburin seperti sekarang ini.” jawab Chris.
“Nah, jadi kita sudah sepakat harinya hari Minggu, ya? ‘Ntar kalau Nina sampe di rumah nelpon, dia tinggal nanya jam dan tanggal mulainya.” kata Anton menyimpulkan.
“Tapi, Nina,” kata Boy menyela, “Dari omongan Pak Danang, kayaknya dia juga pengen ikut deh. Tolong besok di kantor ditanyain juga, Nin, ya?.”
“Beres . . . .”, jawab Nina.
“Ada yang mau nambah minumannya?” tanya Chris.
“Udah, cukup, cukup . . . . .” Anton, Boy dan Nina menjawab serempak lagi.
“Kalau gitu,” kata Chris sambil memberi aba-aba minta bon kepada pelayan dengan gerakan tangannya, “Acara pertemuan kita hari ini sudah selesai. Selanjutnya sesuai rencana Boy tadi, ngedrop Anton dan Nina dulu, lalu Boy sama gue ke rumah gue ngambil mobilnya.”
“OK, Bos . . .” kata Boy meniru pelayan restoran, lalu diikuti Anton dan Nina.
***
Seperti biasa, Anton duduk-duduk di ruang tamu rumahnya sambil menunggu telpon, barang kali ada perusahaan, terutama bank yang telah dikiriminya surat lamaran bekerja, memanggil dia untuk wawancara. Tapi setelah dia mengikuti beberapa kali pertemuan dengan Pak Danang, pikirannya mulai terusik. Dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri kenapa dia masih berharap untuk diterima menjadi pegawai lagi?
“Jadi menentukan produk itu termasuk ‘Teknis Berbisnis’?” katanya dalam hati mulai memahaminya, “Nggak heran kalau gue nggak bisa atau nggak punya ide sama sekali tentang menentukan produk yang akan dijadikan objek menjalankan usaha, lha wong selama menjadi pegawai nggak pernah mikir ke situ. Yang dipikirin hanya kerjaan yang harus diberesin hari ini, besok dan seterusnya . . .” katanya menyesali diri.
Tiba-tiba telpon berdering, “Aduh, jangan-jangan . . . .” katanya dalam hati lagi sambil mengangkat gagang telpon.
“Hallo,” jawab Anton..
“Bang, . . .” kata Nina di ujung telpon sebelah sana.
“Oh, kamu Neng, kirain . . . . .” kata Anton memotong.
“Kirain cewek yang tempo hari ya . . . . .” jawab Nina bercanda.
“Kamu tuh, cemburuannya makin hari makin kelewatan, deh.” jawab Anton lagi dengan nada kesal.
“Yang jelas, Nina makin hari makin sayang sama Abang kok . . .” kata Nina manja, lalu lanjutnya, “Nggak, gini Bang . . . Nina udah bicara sama Pak Danang. Memang Pak Danang sangat berminat ikutan. Selama ini masalahnya beliau risih kalau ikut sendirian. Jadi beliau mendukung sekali rencana ini. Nina telah sampaikan bahwa yang menjawab telpon waktu itu di ‘M. A. Dani & Associates’ bilang bahwa pendidikan/pelatihan diselenggarakan dalam pertemuan sekali seminggu @ 2 jam, pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga ada 4 kelas, yaitu kelas K1 yaitu Sabtu pagi jam 9.00 sampai jam 11.00, kelas K2 yaitu Sabtu siang jam 14.00 sampai jam 16.00, kelas K3 yaitu Minggu pagi jam 9.00 sampai jam 11.00 dan kelas K4 yaitu Minggu siang jam 14.00 sampai jam 16.00. Nina udah sampaikan juga bahwa untuk tingkat pertama atau L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ diperlukan 4 kali pertemuan. Kelas yang belum terisi adalah kelas K3 dan kelas K4, sedangkan kelas K1 dan kelas K2 sudah terisi. Cuman beliau minta kita mendaftar untuk kelas yang masih kosong supaya seolah-olah menjadi kelas khusus untuk kita berlima aja. Dari 2 kelas yang masih dibuka pendaftarannya itu beliau memilih kelas K4.
“Bagus, beres kalau gitu.” kata Anton “Kamu langsung aja konfirmasi ke ‘M. A. Dani & Associate’, nggak usah nanya lagi deh sama Boy dan Chris. ‘Ntar biar Abang aja yang nelpon mereka untuk ngasih tahu kalau pendaftaran kita sudah diterima . . .”
***
“Selamat datang di ‘M. A.Dani & Associates’”, kata Direktur PT. Tatabisnis Usaha Globalisia sebagaimana biasa setiap kali membuka kelas baru. Kemudian sambil menampilkan slide ‘Company Profile’ di layar monitor komputer, dia juga menjelaskan tentang jasa ‘pendidikan/pelatihan’ yang dijadikannya sebagai objek bisnis dan bahwa di perusahaannya ini, dalam setiap kali melakukan kegiatan bisnis selalu menggunakan nama ‘M. A. Dani & Associates’ di samping nama badan hukum tersebut, dengan maksud untuk mengekspresikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan ini tidak tergantung hanya pada dia pribadi, akan tetapi sangat tergantung dari kesamaan cara berpikir (close in mind) antara dia dengan para associate-nya.
“Dengan demikian,” dia menegaskan, “Siapapun di antara associate yang bertugas menjadi fasilitator dan di kelas yang manapun, selalu mengutamakan agar tidak ada perbedaan dalam segala hal yang menyangkut materi yang diberikan dalam pendidikan/pelatihan ini.”
“Pak Danang pernah saya kenal, tapi hanya suaranya saja lewat telpon. Baru kali ini ketemu muka,” sambungnya, “sehingga pada waktu Ibu Nina mendaftarkan nama-nama yang akan ikut dalam kelas ini, saya sebetulnya telah mengetahui tujuan Pak Danang dan kawan-kawan mengikuti pendidikan/pelatihan yang kami selenggarakan ini. Namun demikian kepada Ibu Nina tetap saya tanyakan, untuk memastikan bahwa tujuan kelompok ini mengikuti pendidikan/pelatihan bukan hanya sekadar ingin mendapatkan/menguasai ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ sebagai pengetahuan, akan tetapi betul-betul akan menggunakannya dalam menjalankan usaha (bisnis), baik yang sedang berjalan maupun yang masih akan atau sedang direncanakan.”
Kemudian lanjutnya, “Kami mengutamakan penyelenggaraan pendidikan/pelatihan ini untuk kelompok peserta yang demikian, karena kami yakin bila kelompok peserta yang seperti itu menggunakan sistematika ini di samping penguasaan ‘teknis berbisnis’ yang sudah dipunyai, akan menjadi kelompok pengusaha yang tangguh dalam menghadapi era globalisasi yang sudah di ambang pintu ini dan itulah sebabnya menjadi Visi perusahaan seperti kami uraikan tadi.”
Sebagai kata penutup ditambahkannya bahwa associate yang akan bertugas menyelenggarakan kelas ini akan lebih tepat bila disebut ‘fasilitator’ oleh karena dia hanya menyediakan fasilitas berupa uraian/penjelasan atau presentasi tentang materi-materi yang menyangkut sistematika berdasarkan sudut pandang tertentu, serta menyediakan waktu untuk tanya-jawab dan diskusi.
“Walaupun menguasai materi, akan tetapi seorang associate tidak bermaksud menggurui. Kemungkinan di antara peserta ada yang lebih menguasai materi yang mempunyai judul yang sama, akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Bila perbedaan sudut pandang ini tidak disadari, maka yang terjadi adalah ‘pembicaraan yang tidak nyambung’. Sesuatu yang wajar-wajar saja dan harus kita sikapi dengan wajar pula.” katanya. Akhirnya dia mempersilahkan associate yang akan bertugas untuk memperkenalkan diri dan kemudian memulai tugasnya sebagai fasilitator.
***
Anton seperti tidak sabar menunggu dari sejak selesainya satu pertemuan sampai dimulainya lagi pertemuan berikutnya. Menunggu 1 minggu baginya terasa lama sekali, maklum dia belum mempunyai kegiatan apa-apa yang lain. Namun dengan tekun dipejarinya lagi materi yang ada dalam buku dan membandingkannya dengan penjelasan tentang materi yang sama yang diperolehnya di kelas, sehingga pemahamannya makin hari makin bertambah.
“Akhirnya sekarang kita sudah sampai di pertemuan ke-empat.” kata Anton berbisik kepada Boy. “Tapi gue masih belum ada ide tentang produk.”
“Ya, sebentar lagi bakal gue bilangin.” kata Chris yang duduk di sebelah Boy dan mendengar bisik-bisik Anton. Dia yakin sebentar lagi akan dibicarakan tentang tingkat-tingkat selanjutnya yang memerlukan ‘Studi Kasus’.
Di akhir pertemuan ke-empat dari pendidikan/pelatihan Tingkat L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ Direktur ‘M. A. Dani & Associate’ kembali hadir untuk menyerahkan sertifikat sebagai tanda selesainya penyelenggaraan kelas ini.
Sebelum acara penyerahan sertifikat, ditegaskannya bahwa di Tingkat L1 ini peserta baru mendapatkan ‘konsep’ dari sistematika. Masih jauh dari menguasai sistematika itu sendiri. Masih perlu diperdalam dengan menggunakan ‘Studi Kasus’ di Tingkat L2 - ‘Menyusun Sistem Bisnis’ dalam 8 kali pertemuan, dan demikian juga di Tingkat L3 - ‘Menjalankan Sistem Bisnis’ juga dalam 8 kali pertemuan. Setelah itu masih perlu ‘diasah’ lagi di luar kelas dengan kasus yang sebenarnya yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis).
“Untuk itu nanti, di luar kelas, kami selalu siap membantu bila masih mengalami kesulitan dalam menggunakan sistematika ini sehari-harinya.” katanya, “Sedangkan tentang masalah ‘teknis berbisnis’, kami tetap meyakini bahwa hal itu adalah lebih merupakan kompetensi dari pebisnis yang bersangkutan, bukan kompetensi kami.” tegasnya lagi.
“Mengenai ‘Studi Kasus’ yang diperlukan dalam rangka untuk lebih memahami konsep sistematika di tingkat L2 ini, bila memungkinkan, sebaiknya menggunakan kasus yang sebenarnya yang sedang dihadapi, karena menurut kami itulah yang terbaik. Namun kami dapat memaklumi bila ternyata para peserta pendidikan/pelatihan keberatan kasus yang sebenarnya tersebut dibahas di kelas, karena merupakan ‘rahasia dapur’ yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Walaupun tidak ada peserta lain yang di luar kelompok Pak Danang ini, akan tetapi setidak-tidaknya oleh fasilitator. Jadi bila sekiranya Pak Danang dan kawan-kawan tidak berkeberatan untuk menyediakanya, kami akan menggunakannya. Bila tidak, maka akan kami gunakan‘studi kasus’ yang telah kami sediakan.” katanya menawarkan.
“Ya, tidak berkeberatan.” Chris langsung menjawab sambil mengacungkan tangan. “Dapat saya sediakan karena belum menjadi ‘rahasia dapur’ dan memang baru merupakan angan-angan atau harapan. Saya bersedia menjadi nara sumber, akan tetapi sudah barang tentu saya hanya menyediakan secukupnya saja untuk keperluan kelas, sedangkan yang selebihnya masih akan saya simpan dulu karena merupakan rahasia ‘teknis berbisnis’ saya, yang orang lain di luar kelompok kami ini belum tentu mempunyainya. Pada saatnya nanti kami akan membahas lebih lanjut di luar kelas.” katanya menjelaskan. Danang tertawa mendengarkan penjelasan Chris karena dia memang sudah mengira sebelumnya bahwa Chris tidak akan keberatan bila diminta menyediakan ‘Studi Kasus’.
“Terima kasih Pak Chris.” kata Direktur ‘M. A. Dani & Associates’ “Nah, itulah juga sebabnya kami mengutamakan penyelenggaraan pendidikan/pelatihan ini untuk sekelompok pengusaha atau calon pengusaha seperti Pak Danang dan kawan-kawan ini,” lanjutnya, “Yaitu dengan perkiraan atau asumsi bahwa sekurang-kurangnya, salah seorang anggota kelompok mempunyai ide yang menyangkut tentang ‘teknis berbisnis’, antara lain tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anggota kelompok yang lain yang belum punya ide, akan dapat berpartisipasi sebagai eksekutif atau mungkin sebagai pegawai yang melaksanakan kegiatan dalam fungsi bisnis tertentu. Syukur-syukur lebih dari satu orang yang punya ide, sehingga akan ada lebih dari satu produk. Semakin banyak produk semakin bagus, sehingga dalam menjalankan usaha (bisnis) nantinya produk yang ‘kuat’ akan membantu produk yang ‘lemah’.”
“Baiklah Bapak-bapak sekalian dan Ibu Nina,’ katanya melanjutkan, “sebagaimana lazimnya setiap penyelenggaraan pendidikan/pelatihan, terimalah dari kami ‘Sertifikat Tanda Keikutsertaan’ dalam pendidikan/-pelatihan tingkat L1 - ‘Dasar-dasar Menjalankan Usaha (Bisnis)’ yang telah selesai kami selenggarakan ini. Sampai bertemu kembali di L2 - ‘Menyusun Sistem Bisnis’ hari Minggu depan di kelas yang sama, yaitu K4.” lanjutnya sambil menyerahkan sertifikat masing-masing dan kemudian menyalami Danang, Anton, Boy, Chris dan Nina satu per satu.
Di luar ruangan kelas, Danang minta Anton, Boy, Chris dan Nina berkumpul sebentar, lalu katanya, “Hari ini kita masing-masing pulang saja dulu, akan tetapi Minggu depan kita adakan pertemuan lagi di rumah saya seperti biasa, ya? Maksud saya untuk membicarakan terlebih dahulu rencana produk yang menjadi idenya Chris, sehingga kita semua telah siap untuk membahasnya sebagai ‘studi kasus’ sebelum ke sini.”
Semua melihat ke Anton, mengira Anton akan protes lagi karena Chris masih belum menjelaskan produk apa yang akan dimasukkan ke dalam ‘studi kasus’. Ternyata Anton mengatakan, “Sekarang saya sudah merasa konsep ‘Rencana Bisnis’ sudah berada dalam kepala saya, sehingga saya sudah merasa siap untuk menyusunnya, tidak peduli apapun produknya asal informasi yang saya perlukan disediakan.”
Masing-masing kemudian berangkat pulang dengan cara yang sama seperti pada waktu datangnya. Danang pulang naik mobil yang dibawa oleh sopirnya. Chris dengan mobil yang disetirnya sendiri. Anton dan Nina ikut mobil Boy yang juga disetir sendiri seperti biasa, sehingga Boy harus mengantar mereka pulang dulu.
***
“Saya melihat Anton yang paling pesat kemajuannya selama mengikuti pendidikan/pelatihan.” kata Danang membuka pembicaraan setelah semua ‘anggota kelompok’ lengkap hadir dalam pertemuan di rumahnya. “Dari semula bingung mau usaha apa, kemudian bingung lagi dalam menentukan produk, sampai kemudian merasa telah siap untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’, apapun yang akan ditetapkan sebagai produk yang akan menjadi objek bisnis.” katanya memuji Anton.
“Saya hanya makin merasa yakin setelah mengikuti pendidikan/pelatihan selama 4 kali pertemuan ini, bahwa ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini pada akhirnya akan menuntun saya untuk menemukan sendiri ‘teknis berbisnis’ saya, sehingga untuk sementara ini tidak ada pilihan bagi saya selain akan mengikuti atau menerima saja dulu rencana produk yang ada. Walaupun ada kemungkinan saya tidak mempunyai kompetensi apa-apa dengan produk yang bersangkutan, akan tetapi saya yakin, sekurang-kurangnya saya dapat berkontribusi dalam menyusun ‘Rencana Bisnis’ nantinya” kata Anton.
“Baiklah, kalau begitu kita dengarkan saja terlebih dahulu ide dari Chris tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis, sambil masing-masing juga memikirkan tentang kontribusi yang akan diberikan nanti, baik di kelas maupun di luar kelas.” kata Danang mempersilahkan Chris.
“Sebenarnya ide tentang produk ini, seperti pernah saya katakan, mulai timbul dalam pikiran sejak saya membaca buku ‘Sistematika menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.” kata Chris memulai.
“Sebagaimana telah dijelaskan juga oleh fasilitator, bahwa dalam buku terdapat tuntunan dalam bentuk pertanyaan ‘Apa yang akan diperoleh pembeli setelah terjadi transaksi penjualan?’. Suatu pertanyaan yang sangat sederhana, akan tetapi memerlukan pemikiran yang mendalam. Dengan sendirinya pemikiran saya mengarah ke bisnis yang sedang saya jalankan. Jawaban saya dalam hal ini juga pada dasarnya sederhana, yaitu ‘pelayanan’ sebab walaupun saya menjual barang-barang peralatan elektronik, akan tetapi barang-barang itu adalah barang siap pakai yang dibuat oleh orang lain dan dijual juga di toko-toko lain yang berjejer di kiri-kanan toko saya. Lalu kenapa pembeli lebih suka membelinya di toko saya? Nah, pemikiran inilah yang saya katakan telah memancing daya kreatifitas dan inovasi saya.” katanya. Chris berhenti sebentar sambil menghirup teh yang sudah dihidangkan sejak tadi di depannya.
“Oh iya, silahkan diminum. Aduh saya sampai lupa menawarkan, saking seriusnya pertemuan kita kali ini.” kata Danang berbasa-basi.
“Bila saya bermaksud akan mengembangkan perusahaan saya, maka saya mau tidak mau harus kembali ke pertanyaan dasar tadi: ‘Apa yang akan diperoleh pembeli setelah terjadi transaksi penjualan?’ dan jawaban dari saya adalah tetap, yaitu ‘pelayanan’. Dengan kata lain bila saya bermaksud akan mengembangkan perusahaan saya, maka saya mau tidak mau harus mengembangkan bentuk ‘pelayanan’ yang selama ini saya berikan kepada pembeli, baik jenisnya, kualitasnya, maupun kuantitasnya.” kata Chris serius, melebihi seriusnya fasilitator waktu menerangkan hal yang sama.
“Iya, tapi dikembangkan menjadi bagaimana?” tanya Anton.
“Anton!” kata Boy memotong, “Gue ngeliat masalah ‘lu tuh sebenarnya masalah memfokuskan pemikiran. Gue nggak tahu ‘lu lagi mikiran apa sebenarnya, tapi yang jelas tidak atau belum menggunakan sistematika seperti yang sedang dilakukan Chris sekarang ini.”
“Iya, sih.” Anton mengaku. Danang dan Nina tersenyum-senyum.
“Sekarang gini,” lanjut Chris, “Ingat waktu fasilitator menerangkan tentang ‘prosumer’.”
“Ingat be-eng” jawab Boy, “Yaitu pembeli dan/atau pemakai produk atau ‘consumer’ yang bersedia dimintai pendapatnya tentang produk agar dapat atau lebih mampu memenuhi kebutuhan atau keinginannya.”
“Angka seratus buat Boy.” kata Chris diiringi tepuk tangan Danang, Anton dan Nina.
“Nah, saya yakin Anda-anda sekalian pernah membeli alat atau barang elektronik seperti radio, tv, kulkas, blender dan lain-lain. Sekarang coba Anda-anda sekalian bertindak seolah-olah menjadi ‘prosumer’ saya.”
“Saya berpendapat sebaiknya toko Anda itu menjadi tempat ‘one stop shopping’.” kata Boy yang telah pernah datang melihat sendiri toko Chris.
“Maksud ‘lu, segala macam barang elektronik ada, gitu?” tanya Anton.
“Kalau bisa, terutama yang banyak dicari pembeli. Tapi maksud gue dalam segala urusan yang menyangkut pemakaian produk. Ya membelinya. . ., ya kerusakannya . . ., ya alat-alat tambahan atau ‘accessories’-nya . . ., atau suku-cadang atau ‘sparepart’-nya . . ., antar-jemput ke tempat produk akan atau sedang digunakan, dan lain-lain sebagainya.” kata Boy menjelaskan.
“Boy, kamu itu dari dulu seharusnya sudah jadi pengusaha. Kenapa milih jadi pegawai, sih?” tanya Danang.
“Pak, walaupun sama-sama jadi pegawai tapi saya beda dengan Anton. Tugas Anton sebagai pegawai bank lebih banyak ‘di dalam’, sedangkan saya lebih banyak ‘di luar’. Tugas saya adalah membujuk-bujuk orang supaya mau jadi investor atau tetap jadi investor di perusahaan agrobisnis tempat saya bekerja. Istilahnya‘Account Executive’ atau disingkat AE. Jadi saya lebih banyak melihat ‘dunia luar’ dibandingkan dengan Anton.” jawab Boy.
“Dan setelah melihat ‘dunia usaha’, akhirnya kamu tertarik.” sambung Danang.
“Yang jelas, saya sudah bosan jadi pegawai, Pak.” sahut Boy tegas.
“Oke, deh. Sekarang saya kira alur pikir tentang rencana produk yang dikemukakan Chris telah sama-sama dapat kita ikuti. Tinggal mengembangkannya nanti siang di kelas.” kata Danang menyimpulkan.
“Tapi yang dikemukakan Chris adalah tentang mengembangkan produk yang sudah ada, Pak.” Anton menyela lagi, “Bagaimana kalau seperti saya dan Boy, yang sampai sekarang masih belum dapat ide sama sekali.”
“Ya, itu masalah kompetensi” jawab Danang, “Yang seperti telah pernah kita bahas dan telah dijelaskan juga di kelas oleh fasilitator tempo hari bahwa setiap orang punya kompetensi yang menyangkut suatu produk tertentu. Masalahnya hanya kapan waktu munculnya kompetensi itu. Kadang-kadang muncul sendiri karena ada peluang atau ‘opportunity’. Dalam hal yang demikian berarti dari suatu peluang dapat dipancing munculnya suatu kompetensi, sehingga peluang itu disebut juga sebagai ‘trigger’. Malah sering kita dengar atau baca bahwa sejarah berdirinya suatu perusahaan dimulai dari hasil ngobrol-ngobrol santai seperti ini oleh para pendiri atau founder-nya. Saya yakin suatu saat kalian berdua akan menemukannya sendiri dan selanjutnya menyusun suatu Rencana Bisnis. Atau tidak tertutup kemungkinan bahwa kita-kita ini semua sebetulnya atau pada akhirnya adalah founder suatu perusahaan . . . .”
“Pak.” kata Anton, “Kalau iya, saya jadi pegawai saja dulu pak, jadi pegawai dalam perusahaan yang kita dirikan sendiri. Saya belum mau jadi Pengusaha, Pak . . .” sahut Anton diiringi ketawa Boy, Chris dan Nina.
“Aduh, Anton . . . Anton . . .” jawab Boy, “Jiwa pegawai lu kok kental banget, sih . . .”
***
TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1. Apa sebetulnya yang menjadi penyebab Anton ‘garuk-garuk kepala’? Dari pembicaraan-pembicaraan yang mana dalam studi kasus ini yang mendukung pendapat Anda tersebut?
2. Berdasarkan ide atau jalur berpikir dari Chris, produk-produk apa kira-kira yang akan dikembangkannya di kelas nanti sebagai objek bisnis?
3. Bila kelompok Anda ini masih belum menemukan ide tentang ‘usaha apa’, dengan cara bagaimana kelompok Anda akan mengatasinya?
4. Apakah cukup ditentukan satu produk saja dulu, atau sebaiknya lebih dari satu macam produk? Jelaskan alasan Anda bila dilihat dari sudut pandang ‘kompetensi’.
***
Menjadi Pengusaha
“MENJADI PENGUSAHA”
PENDIDIKAN/PELATIHAN
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”
Tingkat L2 - “Menyusun Sistem Bisnis”
Diselenggarakan oleh:
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
Business Management Consultancy & Education/Training Services
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541 E-mail muchtid@cbn.net.id
***
Dilarang memperbanyak Studi Kasus ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari :
“M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
***
Studi Kasus #1
MENJADI PENGUSAHA
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.
Anton terkena PHK dari tempatnya bekerja di sebuah bank. Dari dulu dia memiliki cita-cita untuk menjadi pegawai bank. Sekarang, setelah 15 tahun bekerja, dia tidak menyangka menemukan dirinya menjadi seorang pengangguran. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa bank juga bisa bankrut. Walaupun pesangon yang diperolehnya cukup lumayan, Rp.25,000,000.- tapi menjadi pengangguran terasa sangat tidak menyenangkan, terutama melihat tetangga-tetangga yang pagi-pagi sudah berangkat ke kantor seperti biasa.
Hari ini hari libur, sehingga terlihat beberapa tetangga sedang bercengkrama dengan anak-anak mereka di depan rumah. Tapi ia merasa sangat iri sehingga malas menemui mereka. Sudah pasti mereka akan menanyakan, “Pak Anton sekarang kerja dimana?”.
Surat Undangan Reuni SMA yang sudah diterimanya seminggu yang lalu dipegangnya dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Diambil, dilihat dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Demikian sampai diulangnya beberapa kali. Sudah jam 9.00 tapi dia belum dapat memutuskan mau ikut reuni atau tidak.
Tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata Boy, temannya sekelas waktu di kelas III/6 di SMA dulu. “Hallo Anton, ini Boy. Kita ketemu di reuni, ya? Jangan sampe nggak dateng lho! Tini yang demen sama ‘lu dulu, pasti dateng”, berbicara Anton di ujung saluran telepon.
“Aduh Boy, dari tadi rasanya males banget gue mau pergi. ‘Lu tahu sendiri, gue nggak punya kendaraan. Malu ‘kan, kalau gue turun dari bajaj di depan gedung pertemuan?”.
“Lu, sih, dulu waktu masih kerja, gue ajak nyicil beli mobil kayak gue, ‘lu nggak mau. Lihat sekarang, cicilan gue sudah lunas, mau dijual terserah gue. Udah, gini aja, ‘lu gue jemput”, kata Boy. ”Kita pergi sama-sama. ‘Lu sekarang dandan aja dulu sambil nungguin gue dateng, oke?”.
Anton terdiam, tidak bisa bicara apa-apa lagi karena tidak punya alasan lagi yang tepat. Akhirnya dia menjawab, “Iya deh”.
“Nah, gitu dong”, kata si Boy sambil menutup telepon.
“Siapa bang?”, tanya Nina istri Anton.
“Si Boy ngajakin ke reuni. Abang rasanya malas banget mau pergi”, jawab Anton.
“Sudah, pergi saja, siapa tahu ada yang bisa bantu nyariin lowongan pekerjaan”, kata Nina memberi semangat.
***
Cukup ramai yang datang di acara reuni. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang satu-angkatan, apalagi yang sekelas. Sayang Tini tidak muncul, jadi kurang seru. Teman-teman yang seangkatan dengan Anton dan Boy juga tidak kelihatan. Yang ramai datang adalah angkatan yang muda-muda. Jadi mereka mojok saja berdua. Ada acara pidato-pidato, sambutan-sambutan, tapi masing-masing juga “pidato” ke teman-teman yang lain dalam kelompok masing-masing. Jadinya, yang pidato...pidato.... Yang ngobrol kangen-kangenan, terus saja ngobrol.
“Gue heran,” kata Anton, “Sampai dengan minggu lalu, ada 50 lebih surat lamaran yang sudah gue tebarin, satu juga nggak ada yang nyahutin”.
“Anton! Gue heran. ‘Lu tuh udah di-PHK, udah dapet pesangon, kok...malah ingin balik lagi jadi pegawai, sih? Gue nih, lagi ngarepin di-PHK banget, tau nggak. ‘Lu ‘kan tahu, Perusahaan tempat gue kerja adalah perusahaan agro-bisnis. Nah, gara-gara salah satu perusahaan agro-bisnis lain bikin kacau, akibatnya para nasabah/investor pada dateng ke kantor gue minta duitnya dikembaliin. Untung saja masih ada beberapa investor yang masih bisa diyakinin sama bos gue. ‘Lu bisa ngebayangin, gimana keadaan di kantor gue sekarang. Teman-teman gue sekantor udah pada was-was bakal di-PHK. Gue cuman kuatir aja mengingat kondisi keuangan perusahaan sekarang, kalau seandainya gue di-PHK, gue bakal dapat pesangon berapa, ya?”.
Setelah sama-sama terdiam sejenak, Anton menjawab lirih, ”Bukannya gue ingin jadi pegawai lagi, Boy. Hanya saja, kalau nggak jadi pegawai, mau jadi apa? Wiraswasta? Usaha apa?”.
“Udah, gini aja”, jawab si Boy. “Dari sekarang kita pasang tekad aja, bahwa kita, ‘lu sama gue harus, sekali lagi harus jadi pengusaha. Paling tidak, pesangon ‘lu itu ‘kan bisa dijadiin modal permulaan. Soal usaha apa yang akan kita lakukan, nanti kita cari pembimbing untuk ngedapatin ide”.
“Siapa yang akan membimbing kita?”
“Ya, gue bilang ‘kan dicari dulu”. Tiba-tiba lanjutnya. ”Aaa... gue ingat sekarang. Si Chris, teman kuliah gue di Ekonomi dulu, dia nggak nerusin kuliah gara-gara babenya meninggal mendadak. Dan dari 6 bersaudara, cuma dia yang bisa melanjutkan usaha babenya. Gue lihat dia telah menjadi pengusaha sukses. Gue akan nemuin dia dulu. Nanti elu gue kasih khabar, kalo gue sudah dapat ide dari dia”.
***
Si Chris tersenyum kecut saja mendengar puji-pujian Boy bahwa ia telah menjadi seorang pengusaha sukses walaupun dia drop-out kuliah. “Sukses itu relatif, Boy,” kata si Chris mencoba memulai untuk menjelaskan kondisinya sekarang. “Terus terang aja, sekarang ini, boleh dibilang gue sudah tidak memiliki sisa waktu untuk ngurusin diri sendiri, apalagi ngurusin anak bini. Apa ini yang ‘lu bilang gue sukses ?”.
Tiba-tiba seorang karyawannya nyelonong masuk, “Bos, itu yang beli TV home theatre kemarin nanya, kapan barangnya akan diantar ?”.
“Ya, bilang aja akan diusahakan hari ini, paling lambat besok sore”.
“Ya, Bos,” kata si karyawan nyelonong lagi ke luar.
“Tuh, ‘lu lihat sendiri, kerjaan yang kayak gitu aja nanya dulu sama gue. Gimana gue bisa ninggalin. Pada hal sudah tahu kalau barangnya sudah bisa diambil di gudang distributor hari ini. Masalahnya memang mobilnya sedang dipake untuk nganterin yang lain dulu”.
Chris menarik napas panjang. Jelas terlihat bahwa dia sudah terlalu lelah mengurusi usahanya. Lalu lanjutnya, “Kalau hari ini gue nggak ada di sini, toko ini nggak ada yang ngurusin, harus tutup. Begitu juga besok, lusa dan seterusnya. Kalau tutup satu hari saja, gue kehilangan omzet rata-rata puluhan juta per hari”.
“Tapi keuntungannya ‘kan lumayan gede juga, Chris,” si Boy mengomentari.
“Iya, betul, tapi resikonya juga gede. Kalau gue sebutin apa resikonya, gue khawatir ‘lu nggak akan paham sebelum ngerti seluk-beluk dagang barang elektronik ini.” Lalu, “Sebentar ya ...”, Chris ke luar ruangan kantornya karena mendengar suara ramai di ruangan toko. Ternyata ada tamu yang ingin membeli TV yang menggunakan teknologi digital, tapi karyawannya menunjukkan TV yang bukan digital sehingga timbul pertengkaran.
Chris kembali duduk di kursinya sambil mempersilahkan Boy meminum minuman dingin yang sejak dari tadi sudah dikeluarkannya dari kulkas. “Lu sih enak,” kata si Chris melanjutkan. “Jadi pegawai, tinggal ngerjain apa yang disuruh. Akhir bulan terima gaji. Nggak ada resiko.”
”Itu yang ingin gue katakan Chris,” jawab si Boy, “Ternyata jadi pegawai juga berisiko.”
“Ah, yang bener,” kata si Chris.
“Nyatanya gue sekarang sedang dibayang-bayangin PHK, karena perusahaan tempat gue kerja kelihatannya udah mau bangkrut.” Lalu lanjutnya, “Tapi gue sih maunya di-PHK beneran, bosen gue jadi pegawai, Chris. Begini-begini terus dari dulu.”
***
“Kok, datang-datang kelihatan loyo begitu, jalanan macet, ya?” kata Anton menyambut kedatangan si Boy.
“Gue sih udah biasa dengan jalanan macet. Mau lewat mana juga pasti kena macet,” kata Boy sambil menutup pintu mobilnya. “Yang bikin gue loyo, ternyata si Chris cuma ngasi gue dilemma!”, lanjutnya.
“Oh, jadi ‘lu udah ketemu si Chris teman ‘lu itu. Ceritain dong....” kata Anton sambil mempersilahkan Boy duduk di ruang tamunya.
“Iya, udah. Sengaja gue datang ke tokonya. Tapi boro-boro dia ngasi gue ide tentang mau usaha apa, malah dia bilang... apa coba. Dia bilang, sebaiknya gue jadi pegawai aja karena nggak ada resiko.”
“Terus ?”, tanya Anton.
“Ya, akhirnya dia cuma melongo setelah gua bilang bahwa sekarang gue sedang menghadapi resiko bakal di-PHK.”
Dua-duanya lalu menarik napas panjang. Boy lalu meneruskan ceritanya tentang si Chris, “Gue sama teman-teman yang lain menyangka bahwa si Chris itu sudah jadi seorang pengusaha yang berhasil. Waktu itu pernah ada teman yang tahu alamat rumahnya. Teman gue ini mula-mula datang ke kantor mau minjam duit sama gue untuk suatu keperluan yang mendesak. Gue bilang, gue nggak punya duit, gaji gue pas-pasan, jadi nggak pernah bisa nabung. Beli mobil aja, nyicil potong gaji. Akhirnya teman ini minta diantarin ke rumah si Chris habis jam kantor. ‘Lu sendiri kalau melihat rumahnya pasti berdecak kagum. Bayangin aja, rumahnya di real-estate. Tapi dia nggak ada di rumah, belum pulang. Biasanya kalau pulang udah larut malam, kata bininya. Itu sebabnya kalau gue pengen nemuin dia, mendingan ke tokonya aja. Eh, tau-taunya dia malah mengatakan bahwa jika kita-kita ini kalau pengen jadi pengusaha jangan jadi pengusaha kayak dia.”
“Kalau gitu, yang namanya pengusaha yang berhasil itu yang kayak gimana ya, Boy?” tanya Anton menimpali.
Nina, istri Anton, membawa nampan dari dapur berisi 1 ceret teh lengkap dengan 3 set cangkir, 1 mangkok kecil gula pasir dan 2 stoples berisi kue kering. Dia tahu kalau 2 orang sahabat lama ini ketemu biasanya akan ngobrol lama.
Sambil menuangkan teh ke cangkir masing-masing, Nina yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, menambahkan, “Pak Danang aja, katanya sampai sekarang masih belum merasa jadi pengusaha, pada hal dia menjabat sebagai Direktur di perusahaan tempat saya bekerja. Dia malah menyarankan agar saya jangan selamanya menjadi pegawai. Suatu saat katanya, saya harus mulai merintis menjadi seorang pengusaha, walaupun sebenarnya dia sadar kalau sarannya itu akan menyebabkan dia sendiri akan kehilangan seorang sekretaris yang piawai dalam membantu dia menjalankan tugas sehari-hari sebagai eksekutif. Pernah dia menerangkan pengertian tentang pengusaha, atau istilah dia kalau nggak salah yaitu “Business-Owner”, atau apa, ya.... saya lupa-lupa ingat... Sedangkan tentang apa bedanya antara direktur atau eksekutif seperti dia dengan pengusaha, saya juga masih belum begitu paham.”
“Nah, kalau gitu kenapa kita nggak ke Pak Danang aja ngobrol-ngobrol untuk cari ide atau minta bimbingan.” kata si Boy. “Nina, bisa nggak minta waktu beliau untuk kita temui, tapi di rumah, biar pembicaraan kita nggak diganggu oleh urusan kantor”, lanjutnya.
“Saya akan coba, mudah-mudahan beliau bersedia”, kata Nina seraya melanjutkan. “Saya yakin Pak Danang pasti juga menginginkan Bang Anton supaya merintis jadi pengusaha aja ketimbang jadi pegawai lagi, dan beliau pasti bersedia membimbing. Bagi saya yang penting agar Bang Anton segera punya kesibukan. Bayangin kalau saya kerja, Bang Anton ‘kan sendirian di rumah, karena kami belum dikaruniai anak. Gosip tetangga-tetangga selalu ada aja dari hari ke hari. Walaupun saya percaya terhadap kesetiaan Bang Anton kepada saya, sama seperti percayanya Bang Anton terhadap kesetiaan saya kepadanya, tapi kalo dengerin gosip-gosip yang nggak karuan itu nyebelin juga.”
Anton hanya senyum mesem-mesem saja mendengarkan celoteh istrinya.
***
“Kalian sudah beli buku yang diterbitkan oleh M. A. Dani & Associates belum?” tanya Danang membuka pembicaraan.
“Buku tentang apa itu Pak?” Anton balik bertanya.
“Buku tentang menjalankan suatu usaha (bisnis). Sebentar, akan saya ambil dulu. Buku itu selalu saya simpan di rak buku saya, agar mudah dan cepat menemukannya. Saya selalu menggunakannya sebagai buku petunjuk (manual) untuk menemukan permasalahan yang terjadi sehari-hari dalam perusahaan yang saya pimpin.”
Tidak lama kemudian Danang sudah kembali dengan membawa buku yang dimaksud sambil berkata, “Ini bukunya, dan ini judulnya kalian dapat baca sendiri ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’. Bagi seorang ilmuwan mungkin melihat buku ini isinya tidak ada apa-apanya. Akan tetapi bagi seorang praktisi bisnis seperti saya, isinya sangat praktis dan mudah dipelajari, namun memerlukan pemahaman yang sungguh-sungguh sebelum dapat mempraktekkannya dengan benar, terutama tentang batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’ dalam kerangka kerja yang dinamakan ‘Kerangka Proses Bisnis’.”
“Nyari buku itu dimana Pak?”, tanya si Boy.
“Di toko buku Gramedia atau Gunung Agung ada. Tanya aja kepada pelayan tokonya.” kata Danang dan kemudian melanjutkan, “Buku ini akan menuntun mereka yang baru ingin memulai menjalankan suatu usaha (bisnis) seperti kalian, atau mereka yang ingin meningkatkan kinerja usaha (bisnis) yang sedang berjalan. Terus terang setelah membaca buku ini saya baru dapat membedakan antara ‘Pengusaha (Business Owner)’ dengan ‘Pelaksana (Eksekutif)’.
Selama ini rupanya para pemegang saham yang telah menunjuk saya sebagai direktur eksekutif tanpa sadar telah menyuruh saya merangkap kedua peranan itu. Pada hal sebetulnya masing-masing peranan itu dapat dilaksanakan oleh orang yang berbeda, sehingga peranan seorang Pengusaha betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Menyusun Sistem Bisnis’, dan peranan seorang Pelaksana/Eksekutif betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Memimpin Jalannya Sistem Bisnis’.”
Nina kemudian menambahkan, “Terus terang Pak, sampai sekarang saya masih belum paham tentang perbedaan antara kedua peranan itu.”
“Sekarang begini saja,” lanjut Danang, “Kalian dapatkan dan kemudian pelajari dulu isi buku ini. Kalau tidak, saya kuatir pembicaraan kita ini ‘tidak nyambung’. Setelah kalian merasa sudah cukup siap, kasih tahu Nina agar dia mengatur pertemuan kita lagi, Oke?”
***
Hari Minggu pagi yang sangat cerah. Taman di belakang rumah Danang yang cukup luas dan terawat membuat suasana pagi yang tenang dan santai, sehingga sangat menunjang pembicaraan yang memerlukan pemahaman yang serius tentang ‘menjadi pengusaha’. Mereka, Anton, Nina, Boy dan Danang, duduk mengelilingi sebuah meja bundar di teras yang menghadap ke taman itu. Istri Danang muncul sebentar sambil mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi kue-kue serta minuman teh yang telah terhidang, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Seperti telah kalian baca dalam buku”, kata Danang memulai pembicaraan. “Seorang pengusaha (business owner) bisa saja merangkap sebagai pemilik perusahaan (company owner), akan tetapi pemilik perusahaan belum tentu adalah pengusaha. Kemungkinan pemilik perusahaan hanyalah seorang investor yang kebetulan memiliki saham lebih dari 50%, sehingga harus ada orang lain yang berperan sebagai pengusaha, yaitu memikirkan tentang usaha (bisnis) yang akan dijalankan dan menyusunnya ke dalam bentuk ‘Rencana Bisnis’. Untuk menjaga agar Rencana Bisnis terlaksana dengan sebaik-baiknya, seorang pengusaha masih perlu menyusun suatu ‘Prosedur Operasional’, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan ‘Sistem Bisnis’. Sebagaimana definisi ‘Pengusaha’ yang kalian baca dalam buku, maka seorang pengusaha perlu mencari dan menugaskan/membayar seseorang untuk menjalankan Sistem Bisnis itu, dan orang itulah yang disebut pelaksana atau eksekutif”. Danang kemudian berhenti sejenak sambil meminum teh dan memakan kue yang ada.
“Kalau begitu seharusnya Bapak berperan sebagai pengusaha saja, karena hanya Bapak-lah yang paling menguasai seluk-beluk bisnis yang dijalankan oleh perusahaan kita sehingga hanya Bapak-lah yang berkompeten untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’ dan ‘Prosedur Operasional’. Untuk menjalankan ‘Sistem Bisnis’ Bapak harus menunjuk seseorang yang Bapak anggap cocok.” kata Nina mengomentari.
“Itu memang yang menjadi tujuan saya sekarang”, kata Danang. “Tapi belum dapat saya capai dalam waktu yang singkat. Pertama, oleh karena seperti kamu lihat, saya sehari-hari sibuk sebagai eksekutif, sehingga waktu yang tersisa untuk menyusun Rencana Bisnis sangat terbatas. Kedua, saya belum menemukan seseorang di dalam perusahaan, yang saya anggap cocok sebagai calon eksekutif yang untuk sementara waktu calon tersebut dapat membantu saya menyelesaikan penyusunan Sistem Bisnis. Maksud saya kalau dari sekarang dia ikut membantu saya menyusun Sistem Bisnis, maka dengan sendirinya kelak dia tidak akan menemui kesulitan dalam menjalankannya.Saya merasa sangat berterima kasih kepada ‘M. A. Dani & Associates’ yang telah menyusun dan menerbitkan buku ini sehingga dapat dipakai sebagai penuntun. Saya tidak dapat membayangkan berapa lama waktu yang akan saya habiskan untuk menyelesaikannya seandainya tidak ada buku ini. Namun demikian masalah ketiga adalah bahwa walaupun sudah ada buku ini yang dapat saya gunakan sebagai tuntunan sehingga mempercepat saya dalam menyusun Sistem Bisnis, akan tetapi dalam beberapa hal saya masih menemui kesulitan pada waktu menguraikan ‘Kerangka Proses Bisnis’ ke dalam bisnis yang sedang saya jalankan. Saya hanya berharap ‘M. A. Dani & Associates’ dapat membantu saya mengatasinya.
“Sekarang saya baru paham,” kata Nina. “Kenapa Bapak bilang kalau sampai sekarang ini Bapak belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pengusaha.”
“Pak...” kata Anton. “Semula Boy dan saya mempertanyakan yang disebut pengusaha yang sukses itu yang kayak bagaimana, kemudian setelah membeli buku ini dan membacanya sebagaimana yang Bapak anjurkan, ditambah lagi dengan uraian dari Bapak tentang “pengusaha yang belum merasa jadi pengusaha”, maka yang memenuhi benak kami sekarang ini bukan lagi tentang menjadi pengusaha Pak, apalagi tentang “pengusaha yang sukses”, akan tetapi tentang usaha apa yang akan kami jalankan.”
“Iya Pak,” kata Boy menambahkan. “Masalahnya dalam buku ini tidak kami temukan petunjuk tentang usaha apa yang sebaiknya kami jalankan”. Danang tersenyum lebar mendengar pertanyaan Anton dan Boy, lalu mempersilahkan lagi tamu-tamunya untuk menikmati minuman dan kue-kue yang masih ada.
“Begini,” Danang melanjutkan. “Dari judulnya saja sudah jelas bahwa isi buku ini tidak menyangkut tentang usaha (bisnis) tertentu, akan tetapi tentang menjalankan usaha (bisnis) secara sistematis, tidak tergantung jenis, besar, kecil, baru memulai atau sedang berjalan. Kalau kalian ingin mencari ide tentang usaha apa yang sebaiknya kalian jalankan, harus kalian cari di luar buku ini. Namun demikian ada sesuatu yang menyangkut hal itu yang saya dapatkan selama saya menggunakan buku ini sebagai tuntunan. Sudut pandang dan alur berpikir yang menjadi dasar sistematika ini menuntun saya dalam menemukan ide tentang produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada, yang berarti akhirnya saya menemukan ide tentang merintis suatu usaha baru atau mengembangkan usaha yang sedang saya jalankan. Saya juga pernah menanyakan lewat telpon kepada penulis buku ini barang kali dia punya contoh ‘Sistem Bisnis’ di bidang usaha yang sama seperti bidang usaha yang saya jalankan sekarang ini. Dia menjawab bahwa sebagaimana halnya sebuah coin mempunyai dua buah sisi, begitu juga halnya menjalankan usaha (bisnis). Sisi yang satu adalah ‘Teknis Berbisnis’ dan sisi lainnya adalah ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)’. Pertanyaan saya, katanya menjelaskan, menyangkut sisi Teknis Berbisnis yang sangat tergantung kemampuan pengusaha/pebisnis yang bersangkutan. Kalaupun dia punya dan pernah sukses menjalankannya, katanya melanjutkan, belum tentu saya bisa sukses menjalankannya seperti dia. Teknis berbisnis dia bisa saya tiru, katanya lagi, akan tetapi tidak akan bisa saya kuasai. Namun demikian Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) yang baik akan menuntun kita untuk menemukannya, bahkan sekaligus menjadi kerangka kerja dalam menjalankan/menggunakan kemampuan ‘teknis berbisnis’ kita. Begitu katanya.”
Setelah meneguk minuman sedikit karena merasa tenggorokannya kering, Danang melanjutkan, “Pada waktu itu saya belum paham betul tentang ‘teknis berbisnis’ yang dia maksud dan saya hanya mengucapkan terima kasih saja dan kemudian menutup telpon. Tapi saya terus berusaha memahaminya sehingga lama-lama baru saya paham kenapa dia mengibaratkan seperti dua sisi dari sebuah coin, karena memang secara alamiah, begitulah sebuah coin. Kedua sisi itu harus ada.”
Anton, Nina dan Boy sama-sama terdiam. Mungkin juga sedang berusaha memahami apa yang dimaksud dengan ‘Teknis Berbisnis” itu. Melihat mereka terdiam Danang mengusulkan, “Bagaimana kalau kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya, hari dan waktu yang sama. Nina, ingatkan saya, ya?”
“Saya catat Pak, pertemuan berikutnya berarti hari Minggu depan, jam 9:00 - 11:00.” kata Nina.
“Pak,” kata Boy memotong, “Saya memiliki teman sewaktu kuliah dulu di Ekonomi, tapi dia drop-out dan sekarang telah menjadi pengusaha toko barang elektronik. Bagaimana kalau dia saya ajak ikut dalam pertemuan kita yang akan datang, Pak? Maksudnya sih, saya ingin denger juga komentar dari seorang pengusaha seperti dia tentang hal-hal yang akan kita bicarakan nanti.”
“Hmmm, boleh . . ., boleh aja. Sekarang kita akhiri dulu pertemuan kita hari ini, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus pergi karena ada janji menemui seseorang.”
***
“Kenalkan Pak, ini teman yang saya ceritakan kepada Bapak minggu lalu”, kata Boy mengenalkan Chris kepada Danang.
“Chris,” kata Chris mengenalkan namanya sambil bersalaman dengan Danang. Setelah basa-basi seperlunya Chris melanjutkan, “Saya sengaja tidak membuka toko hari ini Pak, dan sengaja meliburkan karyawan saya karena saya sangat tertarik dengan ajakan Boy untuk ikut dalam pertemuan dengan Bapak”, katanya melanjutkan.
“Apa cerita Boy kepada Anda tentang pertemuan ini. Kami hanya berbincang-bincang atau diskusi tentang isi buku ini. Dengan kata lain, kami ini sama-sama belajar untuk menjadi pengusaha.” kata Danang menunjukkan buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.
“Persis, itu yang diceritakannya kepada saya, Pak” kata Chris. “Dia datang ke rumah saya malam-malam, hari Minggu yang lalu. Katanya waktu itu, paginya ada pertemuan yang kedua dengan Bapak di sini membicarakan topik tentang ‘menjadi pengusaha’, dan akan ada pertemuan yang ketiga, masih untuk membicarakan topik yang sama. Topik itu yang menyebabkan saya tertarik ikut dalam pertemuan ini, Pak.” Lalu lanjutnya, “Pernah saya bilang sama si Boy, kalau ingin jadi pengusaha - jangan menjadi pengusaha seperti saya, capek. Mendingan jadi pegawai aja. Malam itu dia bilang sama saya bahwa dalam buku itu saya akan menemukan sebabnya saya capek, yaitu karena saya tidak pakai sistematika dalam menjalankan usaha saya. Besoknya saya langsung cari buku itu di Toko Gunung Agung dan mempelajari isinya sesempat saya, sambil menjalankan usaha toko saya.” kata Chris.
“Jadi Anda sekarang sudah paham yang namanya pengusaha?” tanya Danang.
“Paham betul sih, belum.” jawab Chris. “Terutama tentang yang dimaksud dengan batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’. Saya hubungi si Boy di kantornya lewat telpon. Katanya itu mudah dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Lalu dia menyebut istilah ‘teknis berbisnis’. Katanya yang satu ini tidak begitu saja dapat dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Dia mengambil contoh teknis berbisnis dalam perdagangan barang-barang elektronik yang saya jalankan. Nah, tentang hal ini saya sangat ingin berkomentar.”
“Baik, terima kasih” kata Danang, “Tapi sebelum Chris melanjutkan dengan komentarnya, ada baiknya kita rehat sebentar dengan menikmati hidangan ala kadarnya ini. Ayo, silahkan.”
Karena merasakan pembicaraan makin serius, mereka berusaha menyegarkan fisik masing-masing dengan cara berjalan-jalan di taman, serta ada juga yang ke toilet terlebih dahulu. Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Danang membuka pembicaraan kembali, “Jadi Anda dan Boy telah pernah membahas tentang apa yang dinamakan ‘Teknis Berbisnis’ itu?.”
“Ya, Pak” jawab Boy dan Chris hampir bersamaan.
Boy lalu menambahkan, “Semula saya menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha. Setelah pertemuan kita minggu yang lalu, lama-lama dapat saya pahami bahwa memang seperti yang Bapak katakan, ternyata kedua hal tersebut merupakan dua sisi yang berbeda dalam menjalankan usaha (bisnis).”
“Ya, dalam hal ini kita sudah sepaham. Sekarang mari kita simak komentar Chris yang dari tadi sudah tidak sabar ingin mengeluarkannya.” kata Danang mempersilahkan.
Danang, Anton dan Nina tidak tahu pembicaraan tentang hal apa saja yang telah dilakukan oleh Boy dan Chris, sehingga mereka merasa agak tegang juga dan dengan serius siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan Chris.
“Kalau si Boy menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha, maka saya berpikir sebaliknya.” kata Chris memulai komentarnya.
Semua terdiam seolah-olah berkata dalam hati, “Nah, ini baru komentar.”
“Saya malah berpikir atau berpendapat bahwa sistematika menjalankan usaha itu termasuk dalam teknis berbisnis. Kalau si Boy mengambil contoh bisnis yang sedang saya jalankan sekarang ini, maka dapat saya katakan bahwa saya mempunyai sistematika tersendiri dalam menjalankan bisnis saya. Hanya saja memang tidak seperti sistematika yang diuraikan dalam buku ini.” kata Chris menjelaskan.
“Dapatkah Anda jelaskan kepada kami sekarang ini tentang sistematika yang Anda gunakan itu?” tanya Danang.
“Agak sulit juga saya menjelaskannya, Pak.” kata Chris menjawab, “masalahnya menyangkut liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik yang hampir berubah setiap hari.” tambahnya.
“Kalau begitu,” kata Danang, “Anda bukan membicarakan tentang sistematika, akan tetapi sedang membicarakan ‘teknis berbisnis’ itu sendiri, yaitu tentang cara-cara yang Anda lakukan dalam menghadapi liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik itu. Apa lagi kalau cara-cara yang Anda lakukan akan selalu berubah-ubah sesuai perubahan situasi dan kondisi bisnis, atau yang Anda sebut sebagai liku-liku dan seluk-beluk bisnis itu sendiri, tidak heran kalau Anda kesulitan menjelaskannya apalagi bagi orang lain akan lebih sulit lagi untuk memahaminya. Kesimpulannya adalah bahwa hanya Andalah yang paling mengetahui tentang ‘teknis berbisnis’ yang Anda gunakan. Orang lain paling-paling dapat meniru, tetapi tidak akan dapat menguasainya.”
Danang meraih cangkirnya, minum seteguk, lalu melanjutkan, “Itulah sebabnya sistematika disebut sebagai sisi lain dalam menjalankan usaha (bisnis), yaitu oleh karena sifatnya yang tetap, tidak tergantung jenis dan bentuk usaha (bisnis) yang dijalankan, bahkan tidak tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis), sehingga dapat dipelajari dengan mudah oleh pebisnis pemula yang belum berpengalaman dalam menjalankan usaha (bisnis) sekalipun. Bahkan sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut ‘teknis berbisnis’ itu.”
“Oooo, jadi itu yang dimaksud teknis berbisnis . . .” Chris mengekspresikan kesalah-pahamannya. “Kalau begitu selama ini saya hanya mengikuti naluri bisnis saya saja tanpa sistematika tertentu.” katanya.
“Persis.” Danang menegaskan.
Semua terdiam, merenung. Anton dan Nina kelihatan memikirkan sesuatu yang menandakan kalau mereka masih berusaha memahaminya. Boy terlihat senyum-senyum menandakan kalau dia telah merasa makin mantap dengan pemahaman yang telah dicapainya.
Chris temannya yang baru kali ini ikut pertemuan dengan Pak Danang terlihat geleng-geleng kepala menandakan ada sesuatu yang disesalkannya, terbukti dari ucapannya, “Kenapa baru sekarang ada sistematika menjalankan usaha seperti dalam buku ini, Pak. Kenapa tidak sebelum ayah saya meninggal, sehingga saya dapat mempelajarinya dulu. Diantara kami bersaudara, hanya saya yang dianggap atau diharapkan bisa menjalankannya sehingga akhirnya saya terpaksa meneruskan usaha ayah saya sebisa-bisa saya.”
Boy nyeletuk, “Babe ‘lu sih, nggak ngomong-ngomong dulu sama penulis buku ini kalau mau meninggal. Kalau ngomong dulu, pasti buku ini buru-buru ditulis lalu diterbitkan.” Semua tertawa mendengar seloroh si Boy.
“Yang jelas, kalau dibaca dari resume penulis, dia memerlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun sampai menemukan ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini, sehingga barulah akhir-akhir ini dia bisa menyusunnya menjadi buku dan menerbitkannya.” kata Danang sambil mempersilahkan lagi tamu-tamunya minum dan makan kue-kue yang masih ada.
“Pak, jadi bagaimana tentang kebingungan kami mengenai usaha apa yang sebaiknya kami jalankan?” tanya Anton lebih serius lagi.
“Anton, dari pertanyaan yang Anda ajukan menandakan bahwa Anda masih belum paham betul tentang ‘Teknis Berbisnis’ itu.” jawab Danang.
“Iya, memang rasa-rasanya masih belum mantap, Pak.” Anton mengiyakan sambil garuk-garuk kepalanya.
“Bila Anda menanyakan usaha apa yang akan dijalankan, berarti Anda menanyakan tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’. Temukan jawabannya dengan menggalinya dari dalam diri Anda sendiri. Kalau Anda tidak menemukannya dalam diri Anda sendiri, bukan berarti Anda tidak punya ide apapun tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anda hanya belum menemukannya saja. Dalam ‘Teknis Berbisnis’ diperlukan daya kreatif dan inovatif. Masalahnya mungkin daya kreatif dan inovatif Anda selama menjadi pegawai tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Hal ini biasanya terjadi pada pegawai yang pekerjaannya monoton, yang banyak terdapat di lingkungan seperti bank tempat Anda pernah bekerja. Pegawai yang demikian umumnya mengerjakan apa-apa yang disuruh/ditugaskan saja, dan biasanya awet bekerja sampai pensiun. Sebaliknya pegawai yang bekerja di lingkungan yang memungkinkan daya kreatif dan inovatifnya berkembang biasanya tidak lama menjadi pegawai. Umumnya kemudian menjadi pekerja lepas atau berwira-swasta. Dalam hal Anda belum menemukan jawaban tentang ‘usaha apa sebaiknya yang akan Anda jalankan’, bicarakanlah dengan teman-teman Anda yang sudah sepakat dengan Anda untuk menjalankan suatu usaha (bisnis). Mungkin salah seorang telah menemukannya, dan untuk sementara tetapkanlah itu dulu sebagai objek bisnis, atau dengan kata lain produk yang akan disediakan dalam menjalankan usaha (bisnis). Setelah itu ikutilah sistematika yang ada dalam buku ini seperti yang sekarang saya kerjakan untuk mengembangkan usaha yang sedang saya pimpin.” kata Danang menjelaskan panjang lebar meniru penjelasan yang pernah diperolehnya via telepon dari ‘M. A. Dani & Associates’. “Saya sangat berkeinginan menyelesaikannya sampai saya berhasil menyusun sebuah ‘Sistem Bisnis’ dengan tujuan agar saya dapat menyerahkannya kepada seorang eksekutif. Terus terang saya juga sudah capek rasanya merangkap menjadi eksekutif.” lanjutnya.
Anton masih terlihat garuk-garuk kepala sehingga akhirnya kata Danang, “Begini, minggu depan mungkin saya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengadakan pertemuan berikutnya. Saya melihat di antara kalian berempat sudah ada yang telah memahami tentang ‘menjadi pengusaha’ dan tentang ‘dua sisi dalam menjalankan usaha’, tinggal menyamakan tingkat pemahamannya. Jadi teruskan saja mengadakan pertemuan untuk membahas segala sesuatunya tentang sistematika ini, terserah kalian kapan dan dimana yang kalian bisa menyelenggarakannya, Oke?”
“Oke deh, Pak.” kata Anton, Nina, Boy dan Chris hampir serempak
“Kalau begitu pertemuan kita hari ini saya tutup sampai disini. Nina beritahukan kalau saya nanti masih diperlukan.” kata Danang menutup pertemuan.
“Kayaknya Bapak pasti masih diperlukan, Pak.” jawab Nina yakin.
***
TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1) Apa yang menjadi tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepadanya untuk mempercepat pencapaian tujuan?
2) Apa yang menjadi tujuan Anton dan Boy, apa bedanya dengan tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepada mereka untuk mempercepat pencapaian tujuan?
3) Siapa di antara Anton, Boy, Chris dan Nina yang dianggap paling siap untuk menjadi pengusaha dan indikasi apa yang mendukung anggapan itu?
4) Bila mereka, termasuk Danang, membentuk kelompok yang akan mendirikan dan kemudian menjalankan sebuah perusahaan, siapa-siapa di antara mereka yang akan menjadi anggota kelompok dan apa peranan atau kontrribusi masing-masing dari sejak mendirikan perusahaan sampai dengan menjalankannya nanti.
***
PENDIDIKAN/PELATIHAN
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”
Tingkat L2 - “Menyusun Sistem Bisnis”
Diselenggarakan oleh:
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
Business Management Consultancy & Education/Training Services
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541 E-mail muchtid@cbn.net.id
***
Dilarang memperbanyak Studi Kasus ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari :
“M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
***
Studi Kasus #1
MENJADI PENGUSAHA
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.
Anton terkena PHK dari tempatnya bekerja di sebuah bank. Dari dulu dia memiliki cita-cita untuk menjadi pegawai bank. Sekarang, setelah 15 tahun bekerja, dia tidak menyangka menemukan dirinya menjadi seorang pengangguran. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa bank juga bisa bankrut. Walaupun pesangon yang diperolehnya cukup lumayan, Rp.25,000,000.- tapi menjadi pengangguran terasa sangat tidak menyenangkan, terutama melihat tetangga-tetangga yang pagi-pagi sudah berangkat ke kantor seperti biasa.
Hari ini hari libur, sehingga terlihat beberapa tetangga sedang bercengkrama dengan anak-anak mereka di depan rumah. Tapi ia merasa sangat iri sehingga malas menemui mereka. Sudah pasti mereka akan menanyakan, “Pak Anton sekarang kerja dimana?”.
Surat Undangan Reuni SMA yang sudah diterimanya seminggu yang lalu dipegangnya dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Diambil, dilihat dan kemudian ditaruhnya kembali di meja. Demikian sampai diulangnya beberapa kali. Sudah jam 9.00 tapi dia belum dapat memutuskan mau ikut reuni atau tidak.
Tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata Boy, temannya sekelas waktu di kelas III/6 di SMA dulu. “Hallo Anton, ini Boy. Kita ketemu di reuni, ya? Jangan sampe nggak dateng lho! Tini yang demen sama ‘lu dulu, pasti dateng”, berbicara Anton di ujung saluran telepon.
“Aduh Boy, dari tadi rasanya males banget gue mau pergi. ‘Lu tahu sendiri, gue nggak punya kendaraan. Malu ‘kan, kalau gue turun dari bajaj di depan gedung pertemuan?”.
“Lu, sih, dulu waktu masih kerja, gue ajak nyicil beli mobil kayak gue, ‘lu nggak mau. Lihat sekarang, cicilan gue sudah lunas, mau dijual terserah gue. Udah, gini aja, ‘lu gue jemput”, kata Boy. ”Kita pergi sama-sama. ‘Lu sekarang dandan aja dulu sambil nungguin gue dateng, oke?”.
Anton terdiam, tidak bisa bicara apa-apa lagi karena tidak punya alasan lagi yang tepat. Akhirnya dia menjawab, “Iya deh”.
“Nah, gitu dong”, kata si Boy sambil menutup telepon.
“Siapa bang?”, tanya Nina istri Anton.
“Si Boy ngajakin ke reuni. Abang rasanya malas banget mau pergi”, jawab Anton.
“Sudah, pergi saja, siapa tahu ada yang bisa bantu nyariin lowongan pekerjaan”, kata Nina memberi semangat.
***
Cukup ramai yang datang di acara reuni. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang satu-angkatan, apalagi yang sekelas. Sayang Tini tidak muncul, jadi kurang seru. Teman-teman yang seangkatan dengan Anton dan Boy juga tidak kelihatan. Yang ramai datang adalah angkatan yang muda-muda. Jadi mereka mojok saja berdua. Ada acara pidato-pidato, sambutan-sambutan, tapi masing-masing juga “pidato” ke teman-teman yang lain dalam kelompok masing-masing. Jadinya, yang pidato...pidato.... Yang ngobrol kangen-kangenan, terus saja ngobrol.
“Gue heran,” kata Anton, “Sampai dengan minggu lalu, ada 50 lebih surat lamaran yang sudah gue tebarin, satu juga nggak ada yang nyahutin”.
“Anton! Gue heran. ‘Lu tuh udah di-PHK, udah dapet pesangon, kok...malah ingin balik lagi jadi pegawai, sih? Gue nih, lagi ngarepin di-PHK banget, tau nggak. ‘Lu ‘kan tahu, Perusahaan tempat gue kerja adalah perusahaan agro-bisnis. Nah, gara-gara salah satu perusahaan agro-bisnis lain bikin kacau, akibatnya para nasabah/investor pada dateng ke kantor gue minta duitnya dikembaliin. Untung saja masih ada beberapa investor yang masih bisa diyakinin sama bos gue. ‘Lu bisa ngebayangin, gimana keadaan di kantor gue sekarang. Teman-teman gue sekantor udah pada was-was bakal di-PHK. Gue cuman kuatir aja mengingat kondisi keuangan perusahaan sekarang, kalau seandainya gue di-PHK, gue bakal dapat pesangon berapa, ya?”.
Setelah sama-sama terdiam sejenak, Anton menjawab lirih, ”Bukannya gue ingin jadi pegawai lagi, Boy. Hanya saja, kalau nggak jadi pegawai, mau jadi apa? Wiraswasta? Usaha apa?”.
“Udah, gini aja”, jawab si Boy. “Dari sekarang kita pasang tekad aja, bahwa kita, ‘lu sama gue harus, sekali lagi harus jadi pengusaha. Paling tidak, pesangon ‘lu itu ‘kan bisa dijadiin modal permulaan. Soal usaha apa yang akan kita lakukan, nanti kita cari pembimbing untuk ngedapatin ide”.
“Siapa yang akan membimbing kita?”
“Ya, gue bilang ‘kan dicari dulu”. Tiba-tiba lanjutnya. ”Aaa... gue ingat sekarang. Si Chris, teman kuliah gue di Ekonomi dulu, dia nggak nerusin kuliah gara-gara babenya meninggal mendadak. Dan dari 6 bersaudara, cuma dia yang bisa melanjutkan usaha babenya. Gue lihat dia telah menjadi pengusaha sukses. Gue akan nemuin dia dulu. Nanti elu gue kasih khabar, kalo gue sudah dapat ide dari dia”.
***
Si Chris tersenyum kecut saja mendengar puji-pujian Boy bahwa ia telah menjadi seorang pengusaha sukses walaupun dia drop-out kuliah. “Sukses itu relatif, Boy,” kata si Chris mencoba memulai untuk menjelaskan kondisinya sekarang. “Terus terang aja, sekarang ini, boleh dibilang gue sudah tidak memiliki sisa waktu untuk ngurusin diri sendiri, apalagi ngurusin anak bini. Apa ini yang ‘lu bilang gue sukses ?”.
Tiba-tiba seorang karyawannya nyelonong masuk, “Bos, itu yang beli TV home theatre kemarin nanya, kapan barangnya akan diantar ?”.
“Ya, bilang aja akan diusahakan hari ini, paling lambat besok sore”.
“Ya, Bos,” kata si karyawan nyelonong lagi ke luar.
“Tuh, ‘lu lihat sendiri, kerjaan yang kayak gitu aja nanya dulu sama gue. Gimana gue bisa ninggalin. Pada hal sudah tahu kalau barangnya sudah bisa diambil di gudang distributor hari ini. Masalahnya memang mobilnya sedang dipake untuk nganterin yang lain dulu”.
Chris menarik napas panjang. Jelas terlihat bahwa dia sudah terlalu lelah mengurusi usahanya. Lalu lanjutnya, “Kalau hari ini gue nggak ada di sini, toko ini nggak ada yang ngurusin, harus tutup. Begitu juga besok, lusa dan seterusnya. Kalau tutup satu hari saja, gue kehilangan omzet rata-rata puluhan juta per hari”.
“Tapi keuntungannya ‘kan lumayan gede juga, Chris,” si Boy mengomentari.
“Iya, betul, tapi resikonya juga gede. Kalau gue sebutin apa resikonya, gue khawatir ‘lu nggak akan paham sebelum ngerti seluk-beluk dagang barang elektronik ini.” Lalu, “Sebentar ya ...”, Chris ke luar ruangan kantornya karena mendengar suara ramai di ruangan toko. Ternyata ada tamu yang ingin membeli TV yang menggunakan teknologi digital, tapi karyawannya menunjukkan TV yang bukan digital sehingga timbul pertengkaran.
Chris kembali duduk di kursinya sambil mempersilahkan Boy meminum minuman dingin yang sejak dari tadi sudah dikeluarkannya dari kulkas. “Lu sih enak,” kata si Chris melanjutkan. “Jadi pegawai, tinggal ngerjain apa yang disuruh. Akhir bulan terima gaji. Nggak ada resiko.”
”Itu yang ingin gue katakan Chris,” jawab si Boy, “Ternyata jadi pegawai juga berisiko.”
“Ah, yang bener,” kata si Chris.
“Nyatanya gue sekarang sedang dibayang-bayangin PHK, karena perusahaan tempat gue kerja kelihatannya udah mau bangkrut.” Lalu lanjutnya, “Tapi gue sih maunya di-PHK beneran, bosen gue jadi pegawai, Chris. Begini-begini terus dari dulu.”
***
“Kok, datang-datang kelihatan loyo begitu, jalanan macet, ya?” kata Anton menyambut kedatangan si Boy.
“Gue sih udah biasa dengan jalanan macet. Mau lewat mana juga pasti kena macet,” kata Boy sambil menutup pintu mobilnya. “Yang bikin gue loyo, ternyata si Chris cuma ngasi gue dilemma!”, lanjutnya.
“Oh, jadi ‘lu udah ketemu si Chris teman ‘lu itu. Ceritain dong....” kata Anton sambil mempersilahkan Boy duduk di ruang tamunya.
“Iya, udah. Sengaja gue datang ke tokonya. Tapi boro-boro dia ngasi gue ide tentang mau usaha apa, malah dia bilang... apa coba. Dia bilang, sebaiknya gue jadi pegawai aja karena nggak ada resiko.”
“Terus ?”, tanya Anton.
“Ya, akhirnya dia cuma melongo setelah gua bilang bahwa sekarang gue sedang menghadapi resiko bakal di-PHK.”
Dua-duanya lalu menarik napas panjang. Boy lalu meneruskan ceritanya tentang si Chris, “Gue sama teman-teman yang lain menyangka bahwa si Chris itu sudah jadi seorang pengusaha yang berhasil. Waktu itu pernah ada teman yang tahu alamat rumahnya. Teman gue ini mula-mula datang ke kantor mau minjam duit sama gue untuk suatu keperluan yang mendesak. Gue bilang, gue nggak punya duit, gaji gue pas-pasan, jadi nggak pernah bisa nabung. Beli mobil aja, nyicil potong gaji. Akhirnya teman ini minta diantarin ke rumah si Chris habis jam kantor. ‘Lu sendiri kalau melihat rumahnya pasti berdecak kagum. Bayangin aja, rumahnya di real-estate. Tapi dia nggak ada di rumah, belum pulang. Biasanya kalau pulang udah larut malam, kata bininya. Itu sebabnya kalau gue pengen nemuin dia, mendingan ke tokonya aja. Eh, tau-taunya dia malah mengatakan bahwa jika kita-kita ini kalau pengen jadi pengusaha jangan jadi pengusaha kayak dia.”
“Kalau gitu, yang namanya pengusaha yang berhasil itu yang kayak gimana ya, Boy?” tanya Anton menimpali.
Nina, istri Anton, membawa nampan dari dapur berisi 1 ceret teh lengkap dengan 3 set cangkir, 1 mangkok kecil gula pasir dan 2 stoples berisi kue kering. Dia tahu kalau 2 orang sahabat lama ini ketemu biasanya akan ngobrol lama.
Sambil menuangkan teh ke cangkir masing-masing, Nina yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, menambahkan, “Pak Danang aja, katanya sampai sekarang masih belum merasa jadi pengusaha, pada hal dia menjabat sebagai Direktur di perusahaan tempat saya bekerja. Dia malah menyarankan agar saya jangan selamanya menjadi pegawai. Suatu saat katanya, saya harus mulai merintis menjadi seorang pengusaha, walaupun sebenarnya dia sadar kalau sarannya itu akan menyebabkan dia sendiri akan kehilangan seorang sekretaris yang piawai dalam membantu dia menjalankan tugas sehari-hari sebagai eksekutif. Pernah dia menerangkan pengertian tentang pengusaha, atau istilah dia kalau nggak salah yaitu “Business-Owner”, atau apa, ya.... saya lupa-lupa ingat... Sedangkan tentang apa bedanya antara direktur atau eksekutif seperti dia dengan pengusaha, saya juga masih belum begitu paham.”
“Nah, kalau gitu kenapa kita nggak ke Pak Danang aja ngobrol-ngobrol untuk cari ide atau minta bimbingan.” kata si Boy. “Nina, bisa nggak minta waktu beliau untuk kita temui, tapi di rumah, biar pembicaraan kita nggak diganggu oleh urusan kantor”, lanjutnya.
“Saya akan coba, mudah-mudahan beliau bersedia”, kata Nina seraya melanjutkan. “Saya yakin Pak Danang pasti juga menginginkan Bang Anton supaya merintis jadi pengusaha aja ketimbang jadi pegawai lagi, dan beliau pasti bersedia membimbing. Bagi saya yang penting agar Bang Anton segera punya kesibukan. Bayangin kalau saya kerja, Bang Anton ‘kan sendirian di rumah, karena kami belum dikaruniai anak. Gosip tetangga-tetangga selalu ada aja dari hari ke hari. Walaupun saya percaya terhadap kesetiaan Bang Anton kepada saya, sama seperti percayanya Bang Anton terhadap kesetiaan saya kepadanya, tapi kalo dengerin gosip-gosip yang nggak karuan itu nyebelin juga.”
Anton hanya senyum mesem-mesem saja mendengarkan celoteh istrinya.
***
“Kalian sudah beli buku yang diterbitkan oleh M. A. Dani & Associates belum?” tanya Danang membuka pembicaraan.
“Buku tentang apa itu Pak?” Anton balik bertanya.
“Buku tentang menjalankan suatu usaha (bisnis). Sebentar, akan saya ambil dulu. Buku itu selalu saya simpan di rak buku saya, agar mudah dan cepat menemukannya. Saya selalu menggunakannya sebagai buku petunjuk (manual) untuk menemukan permasalahan yang terjadi sehari-hari dalam perusahaan yang saya pimpin.”
Tidak lama kemudian Danang sudah kembali dengan membawa buku yang dimaksud sambil berkata, “Ini bukunya, dan ini judulnya kalian dapat baca sendiri ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’. Bagi seorang ilmuwan mungkin melihat buku ini isinya tidak ada apa-apanya. Akan tetapi bagi seorang praktisi bisnis seperti saya, isinya sangat praktis dan mudah dipelajari, namun memerlukan pemahaman yang sungguh-sungguh sebelum dapat mempraktekkannya dengan benar, terutama tentang batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’ dalam kerangka kerja yang dinamakan ‘Kerangka Proses Bisnis’.”
“Nyari buku itu dimana Pak?”, tanya si Boy.
“Di toko buku Gramedia atau Gunung Agung ada. Tanya aja kepada pelayan tokonya.” kata Danang dan kemudian melanjutkan, “Buku ini akan menuntun mereka yang baru ingin memulai menjalankan suatu usaha (bisnis) seperti kalian, atau mereka yang ingin meningkatkan kinerja usaha (bisnis) yang sedang berjalan. Terus terang setelah membaca buku ini saya baru dapat membedakan antara ‘Pengusaha (Business Owner)’ dengan ‘Pelaksana (Eksekutif)’.
Selama ini rupanya para pemegang saham yang telah menunjuk saya sebagai direktur eksekutif tanpa sadar telah menyuruh saya merangkap kedua peranan itu. Pada hal sebetulnya masing-masing peranan itu dapat dilaksanakan oleh orang yang berbeda, sehingga peranan seorang Pengusaha betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Menyusun Sistem Bisnis’, dan peranan seorang Pelaksana/Eksekutif betul-betul akan terpusat pada apa yang dinamakan ‘Memimpin Jalannya Sistem Bisnis’.”
Nina kemudian menambahkan, “Terus terang Pak, sampai sekarang saya masih belum paham tentang perbedaan antara kedua peranan itu.”
“Sekarang begini saja,” lanjut Danang, “Kalian dapatkan dan kemudian pelajari dulu isi buku ini. Kalau tidak, saya kuatir pembicaraan kita ini ‘tidak nyambung’. Setelah kalian merasa sudah cukup siap, kasih tahu Nina agar dia mengatur pertemuan kita lagi, Oke?”
***
Hari Minggu pagi yang sangat cerah. Taman di belakang rumah Danang yang cukup luas dan terawat membuat suasana pagi yang tenang dan santai, sehingga sangat menunjang pembicaraan yang memerlukan pemahaman yang serius tentang ‘menjadi pengusaha’. Mereka, Anton, Nina, Boy dan Danang, duduk mengelilingi sebuah meja bundar di teras yang menghadap ke taman itu. Istri Danang muncul sebentar sambil mempersilahkan tamu-tamunya mencicipi kue-kue serta minuman teh yang telah terhidang, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Seperti telah kalian baca dalam buku”, kata Danang memulai pembicaraan. “Seorang pengusaha (business owner) bisa saja merangkap sebagai pemilik perusahaan (company owner), akan tetapi pemilik perusahaan belum tentu adalah pengusaha. Kemungkinan pemilik perusahaan hanyalah seorang investor yang kebetulan memiliki saham lebih dari 50%, sehingga harus ada orang lain yang berperan sebagai pengusaha, yaitu memikirkan tentang usaha (bisnis) yang akan dijalankan dan menyusunnya ke dalam bentuk ‘Rencana Bisnis’. Untuk menjaga agar Rencana Bisnis terlaksana dengan sebaik-baiknya, seorang pengusaha masih perlu menyusun suatu ‘Prosedur Operasional’, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan ‘Sistem Bisnis’. Sebagaimana definisi ‘Pengusaha’ yang kalian baca dalam buku, maka seorang pengusaha perlu mencari dan menugaskan/membayar seseorang untuk menjalankan Sistem Bisnis itu, dan orang itulah yang disebut pelaksana atau eksekutif”. Danang kemudian berhenti sejenak sambil meminum teh dan memakan kue yang ada.
“Kalau begitu seharusnya Bapak berperan sebagai pengusaha saja, karena hanya Bapak-lah yang paling menguasai seluk-beluk bisnis yang dijalankan oleh perusahaan kita sehingga hanya Bapak-lah yang berkompeten untuk menyusun ‘Rencana Bisnis’ dan ‘Prosedur Operasional’. Untuk menjalankan ‘Sistem Bisnis’ Bapak harus menunjuk seseorang yang Bapak anggap cocok.” kata Nina mengomentari.
“Itu memang yang menjadi tujuan saya sekarang”, kata Danang. “Tapi belum dapat saya capai dalam waktu yang singkat. Pertama, oleh karena seperti kamu lihat, saya sehari-hari sibuk sebagai eksekutif, sehingga waktu yang tersisa untuk menyusun Rencana Bisnis sangat terbatas. Kedua, saya belum menemukan seseorang di dalam perusahaan, yang saya anggap cocok sebagai calon eksekutif yang untuk sementara waktu calon tersebut dapat membantu saya menyelesaikan penyusunan Sistem Bisnis. Maksud saya kalau dari sekarang dia ikut membantu saya menyusun Sistem Bisnis, maka dengan sendirinya kelak dia tidak akan menemui kesulitan dalam menjalankannya.Saya merasa sangat berterima kasih kepada ‘M. A. Dani & Associates’ yang telah menyusun dan menerbitkan buku ini sehingga dapat dipakai sebagai penuntun. Saya tidak dapat membayangkan berapa lama waktu yang akan saya habiskan untuk menyelesaikannya seandainya tidak ada buku ini. Namun demikian masalah ketiga adalah bahwa walaupun sudah ada buku ini yang dapat saya gunakan sebagai tuntunan sehingga mempercepat saya dalam menyusun Sistem Bisnis, akan tetapi dalam beberapa hal saya masih menemui kesulitan pada waktu menguraikan ‘Kerangka Proses Bisnis’ ke dalam bisnis yang sedang saya jalankan. Saya hanya berharap ‘M. A. Dani & Associates’ dapat membantu saya mengatasinya.
“Sekarang saya baru paham,” kata Nina. “Kenapa Bapak bilang kalau sampai sekarang ini Bapak belum sepenuhnya dapat disebut sebagai pengusaha.”
“Pak...” kata Anton. “Semula Boy dan saya mempertanyakan yang disebut pengusaha yang sukses itu yang kayak bagaimana, kemudian setelah membeli buku ini dan membacanya sebagaimana yang Bapak anjurkan, ditambah lagi dengan uraian dari Bapak tentang “pengusaha yang belum merasa jadi pengusaha”, maka yang memenuhi benak kami sekarang ini bukan lagi tentang menjadi pengusaha Pak, apalagi tentang “pengusaha yang sukses”, akan tetapi tentang usaha apa yang akan kami jalankan.”
“Iya Pak,” kata Boy menambahkan. “Masalahnya dalam buku ini tidak kami temukan petunjuk tentang usaha apa yang sebaiknya kami jalankan”. Danang tersenyum lebar mendengar pertanyaan Anton dan Boy, lalu mempersilahkan lagi tamu-tamunya untuk menikmati minuman dan kue-kue yang masih ada.
“Begini,” Danang melanjutkan. “Dari judulnya saja sudah jelas bahwa isi buku ini tidak menyangkut tentang usaha (bisnis) tertentu, akan tetapi tentang menjalankan usaha (bisnis) secara sistematis, tidak tergantung jenis, besar, kecil, baru memulai atau sedang berjalan. Kalau kalian ingin mencari ide tentang usaha apa yang sebaiknya kalian jalankan, harus kalian cari di luar buku ini. Namun demikian ada sesuatu yang menyangkut hal itu yang saya dapatkan selama saya menggunakan buku ini sebagai tuntunan. Sudut pandang dan alur berpikir yang menjadi dasar sistematika ini menuntun saya dalam menemukan ide tentang produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada, yang berarti akhirnya saya menemukan ide tentang merintis suatu usaha baru atau mengembangkan usaha yang sedang saya jalankan. Saya juga pernah menanyakan lewat telpon kepada penulis buku ini barang kali dia punya contoh ‘Sistem Bisnis’ di bidang usaha yang sama seperti bidang usaha yang saya jalankan sekarang ini. Dia menjawab bahwa sebagaimana halnya sebuah coin mempunyai dua buah sisi, begitu juga halnya menjalankan usaha (bisnis). Sisi yang satu adalah ‘Teknis Berbisnis’ dan sisi lainnya adalah ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)’. Pertanyaan saya, katanya menjelaskan, menyangkut sisi Teknis Berbisnis yang sangat tergantung kemampuan pengusaha/pebisnis yang bersangkutan. Kalaupun dia punya dan pernah sukses menjalankannya, katanya melanjutkan, belum tentu saya bisa sukses menjalankannya seperti dia. Teknis berbisnis dia bisa saya tiru, katanya lagi, akan tetapi tidak akan bisa saya kuasai. Namun demikian Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) yang baik akan menuntun kita untuk menemukannya, bahkan sekaligus menjadi kerangka kerja dalam menjalankan/menggunakan kemampuan ‘teknis berbisnis’ kita. Begitu katanya.”
Setelah meneguk minuman sedikit karena merasa tenggorokannya kering, Danang melanjutkan, “Pada waktu itu saya belum paham betul tentang ‘teknis berbisnis’ yang dia maksud dan saya hanya mengucapkan terima kasih saja dan kemudian menutup telpon. Tapi saya terus berusaha memahaminya sehingga lama-lama baru saya paham kenapa dia mengibaratkan seperti dua sisi dari sebuah coin, karena memang secara alamiah, begitulah sebuah coin. Kedua sisi itu harus ada.”
Anton, Nina dan Boy sama-sama terdiam. Mungkin juga sedang berusaha memahami apa yang dimaksud dengan ‘Teknis Berbisnis” itu. Melihat mereka terdiam Danang mengusulkan, “Bagaimana kalau kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya, hari dan waktu yang sama. Nina, ingatkan saya, ya?”
“Saya catat Pak, pertemuan berikutnya berarti hari Minggu depan, jam 9:00 - 11:00.” kata Nina.
“Pak,” kata Boy memotong, “Saya memiliki teman sewaktu kuliah dulu di Ekonomi, tapi dia drop-out dan sekarang telah menjadi pengusaha toko barang elektronik. Bagaimana kalau dia saya ajak ikut dalam pertemuan kita yang akan datang, Pak? Maksudnya sih, saya ingin denger juga komentar dari seorang pengusaha seperti dia tentang hal-hal yang akan kita bicarakan nanti.”
“Hmmm, boleh . . ., boleh aja. Sekarang kita akhiri dulu pertemuan kita hari ini, ya? Soalnya sebentar lagi saya harus pergi karena ada janji menemui seseorang.”
***
“Kenalkan Pak, ini teman yang saya ceritakan kepada Bapak minggu lalu”, kata Boy mengenalkan Chris kepada Danang.
“Chris,” kata Chris mengenalkan namanya sambil bersalaman dengan Danang. Setelah basa-basi seperlunya Chris melanjutkan, “Saya sengaja tidak membuka toko hari ini Pak, dan sengaja meliburkan karyawan saya karena saya sangat tertarik dengan ajakan Boy untuk ikut dalam pertemuan dengan Bapak”, katanya melanjutkan.
“Apa cerita Boy kepada Anda tentang pertemuan ini. Kami hanya berbincang-bincang atau diskusi tentang isi buku ini. Dengan kata lain, kami ini sama-sama belajar untuk menjadi pengusaha.” kata Danang menunjukkan buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.
“Persis, itu yang diceritakannya kepada saya, Pak” kata Chris. “Dia datang ke rumah saya malam-malam, hari Minggu yang lalu. Katanya waktu itu, paginya ada pertemuan yang kedua dengan Bapak di sini membicarakan topik tentang ‘menjadi pengusaha’, dan akan ada pertemuan yang ketiga, masih untuk membicarakan topik yang sama. Topik itu yang menyebabkan saya tertarik ikut dalam pertemuan ini, Pak.” Lalu lanjutnya, “Pernah saya bilang sama si Boy, kalau ingin jadi pengusaha - jangan menjadi pengusaha seperti saya, capek. Mendingan jadi pegawai aja. Malam itu dia bilang sama saya bahwa dalam buku itu saya akan menemukan sebabnya saya capek, yaitu karena saya tidak pakai sistematika dalam menjalankan usaha saya. Besoknya saya langsung cari buku itu di Toko Gunung Agung dan mempelajari isinya sesempat saya, sambil menjalankan usaha toko saya.” kata Chris.
“Jadi Anda sekarang sudah paham yang namanya pengusaha?” tanya Danang.
“Paham betul sih, belum.” jawab Chris. “Terutama tentang yang dimaksud dengan batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’. Saya hubungi si Boy di kantornya lewat telpon. Katanya itu mudah dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Lalu dia menyebut istilah ‘teknis berbisnis’. Katanya yang satu ini tidak begitu saja dapat dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Dia mengambil contoh teknis berbisnis dalam perdagangan barang-barang elektronik yang saya jalankan. Nah, tentang hal ini saya sangat ingin berkomentar.”
“Baik, terima kasih” kata Danang, “Tapi sebelum Chris melanjutkan dengan komentarnya, ada baiknya kita rehat sebentar dengan menikmati hidangan ala kadarnya ini. Ayo, silahkan.”
Karena merasakan pembicaraan makin serius, mereka berusaha menyegarkan fisik masing-masing dengan cara berjalan-jalan di taman, serta ada juga yang ke toilet terlebih dahulu. Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Danang membuka pembicaraan kembali, “Jadi Anda dan Boy telah pernah membahas tentang apa yang dinamakan ‘Teknis Berbisnis’ itu?.”
“Ya, Pak” jawab Boy dan Chris hampir bersamaan.
Boy lalu menambahkan, “Semula saya menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha. Setelah pertemuan kita minggu yang lalu, lama-lama dapat saya pahami bahwa memang seperti yang Bapak katakan, ternyata kedua hal tersebut merupakan dua sisi yang berbeda dalam menjalankan usaha (bisnis).”
“Ya, dalam hal ini kita sudah sepaham. Sekarang mari kita simak komentar Chris yang dari tadi sudah tidak sabar ingin mengeluarkannya.” kata Danang mempersilahkan.
Danang, Anton dan Nina tidak tahu pembicaraan tentang hal apa saja yang telah dilakukan oleh Boy dan Chris, sehingga mereka merasa agak tegang juga dan dengan serius siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan Chris.
“Kalau si Boy menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha, maka saya berpikir sebaliknya.” kata Chris memulai komentarnya.
Semua terdiam seolah-olah berkata dalam hati, “Nah, ini baru komentar.”
“Saya malah berpikir atau berpendapat bahwa sistematika menjalankan usaha itu termasuk dalam teknis berbisnis. Kalau si Boy mengambil contoh bisnis yang sedang saya jalankan sekarang ini, maka dapat saya katakan bahwa saya mempunyai sistematika tersendiri dalam menjalankan bisnis saya. Hanya saja memang tidak seperti sistematika yang diuraikan dalam buku ini.” kata Chris menjelaskan.
“Dapatkah Anda jelaskan kepada kami sekarang ini tentang sistematika yang Anda gunakan itu?” tanya Danang.
“Agak sulit juga saya menjelaskannya, Pak.” kata Chris menjawab, “masalahnya menyangkut liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik yang hampir berubah setiap hari.” tambahnya.
“Kalau begitu,” kata Danang, “Anda bukan membicarakan tentang sistematika, akan tetapi sedang membicarakan ‘teknis berbisnis’ itu sendiri, yaitu tentang cara-cara yang Anda lakukan dalam menghadapi liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik itu. Apa lagi kalau cara-cara yang Anda lakukan akan selalu berubah-ubah sesuai perubahan situasi dan kondisi bisnis, atau yang Anda sebut sebagai liku-liku dan seluk-beluk bisnis itu sendiri, tidak heran kalau Anda kesulitan menjelaskannya apalagi bagi orang lain akan lebih sulit lagi untuk memahaminya. Kesimpulannya adalah bahwa hanya Andalah yang paling mengetahui tentang ‘teknis berbisnis’ yang Anda gunakan. Orang lain paling-paling dapat meniru, tetapi tidak akan dapat menguasainya.”
Danang meraih cangkirnya, minum seteguk, lalu melanjutkan, “Itulah sebabnya sistematika disebut sebagai sisi lain dalam menjalankan usaha (bisnis), yaitu oleh karena sifatnya yang tetap, tidak tergantung jenis dan bentuk usaha (bisnis) yang dijalankan, bahkan tidak tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis), sehingga dapat dipelajari dengan mudah oleh pebisnis pemula yang belum berpengalaman dalam menjalankan usaha (bisnis) sekalipun. Bahkan sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut ‘teknis berbisnis’ itu.”
“Oooo, jadi itu yang dimaksud teknis berbisnis . . .” Chris mengekspresikan kesalah-pahamannya. “Kalau begitu selama ini saya hanya mengikuti naluri bisnis saya saja tanpa sistematika tertentu.” katanya.
“Persis.” Danang menegaskan.
Semua terdiam, merenung. Anton dan Nina kelihatan memikirkan sesuatu yang menandakan kalau mereka masih berusaha memahaminya. Boy terlihat senyum-senyum menandakan kalau dia telah merasa makin mantap dengan pemahaman yang telah dicapainya.
Chris temannya yang baru kali ini ikut pertemuan dengan Pak Danang terlihat geleng-geleng kepala menandakan ada sesuatu yang disesalkannya, terbukti dari ucapannya, “Kenapa baru sekarang ada sistematika menjalankan usaha seperti dalam buku ini, Pak. Kenapa tidak sebelum ayah saya meninggal, sehingga saya dapat mempelajarinya dulu. Diantara kami bersaudara, hanya saya yang dianggap atau diharapkan bisa menjalankannya sehingga akhirnya saya terpaksa meneruskan usaha ayah saya sebisa-bisa saya.”
Boy nyeletuk, “Babe ‘lu sih, nggak ngomong-ngomong dulu sama penulis buku ini kalau mau meninggal. Kalau ngomong dulu, pasti buku ini buru-buru ditulis lalu diterbitkan.” Semua tertawa mendengar seloroh si Boy.
“Yang jelas, kalau dibaca dari resume penulis, dia memerlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun sampai menemukan ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini, sehingga barulah akhir-akhir ini dia bisa menyusunnya menjadi buku dan menerbitkannya.” kata Danang sambil mempersilahkan lagi tamu-tamunya minum dan makan kue-kue yang masih ada.
“Pak, jadi bagaimana tentang kebingungan kami mengenai usaha apa yang sebaiknya kami jalankan?” tanya Anton lebih serius lagi.
“Anton, dari pertanyaan yang Anda ajukan menandakan bahwa Anda masih belum paham betul tentang ‘Teknis Berbisnis’ itu.” jawab Danang.
“Iya, memang rasa-rasanya masih belum mantap, Pak.” Anton mengiyakan sambil garuk-garuk kepalanya.
“Bila Anda menanyakan usaha apa yang akan dijalankan, berarti Anda menanyakan tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’. Temukan jawabannya dengan menggalinya dari dalam diri Anda sendiri. Kalau Anda tidak menemukannya dalam diri Anda sendiri, bukan berarti Anda tidak punya ide apapun tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anda hanya belum menemukannya saja. Dalam ‘Teknis Berbisnis’ diperlukan daya kreatif dan inovatif. Masalahnya mungkin daya kreatif dan inovatif Anda selama menjadi pegawai tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Hal ini biasanya terjadi pada pegawai yang pekerjaannya monoton, yang banyak terdapat di lingkungan seperti bank tempat Anda pernah bekerja. Pegawai yang demikian umumnya mengerjakan apa-apa yang disuruh/ditugaskan saja, dan biasanya awet bekerja sampai pensiun. Sebaliknya pegawai yang bekerja di lingkungan yang memungkinkan daya kreatif dan inovatifnya berkembang biasanya tidak lama menjadi pegawai. Umumnya kemudian menjadi pekerja lepas atau berwira-swasta. Dalam hal Anda belum menemukan jawaban tentang ‘usaha apa sebaiknya yang akan Anda jalankan’, bicarakanlah dengan teman-teman Anda yang sudah sepakat dengan Anda untuk menjalankan suatu usaha (bisnis). Mungkin salah seorang telah menemukannya, dan untuk sementara tetapkanlah itu dulu sebagai objek bisnis, atau dengan kata lain produk yang akan disediakan dalam menjalankan usaha (bisnis). Setelah itu ikutilah sistematika yang ada dalam buku ini seperti yang sekarang saya kerjakan untuk mengembangkan usaha yang sedang saya pimpin.” kata Danang menjelaskan panjang lebar meniru penjelasan yang pernah diperolehnya via telepon dari ‘M. A. Dani & Associates’. “Saya sangat berkeinginan menyelesaikannya sampai saya berhasil menyusun sebuah ‘Sistem Bisnis’ dengan tujuan agar saya dapat menyerahkannya kepada seorang eksekutif. Terus terang saya juga sudah capek rasanya merangkap menjadi eksekutif.” lanjutnya.
Anton masih terlihat garuk-garuk kepala sehingga akhirnya kata Danang, “Begini, minggu depan mungkin saya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengadakan pertemuan berikutnya. Saya melihat di antara kalian berempat sudah ada yang telah memahami tentang ‘menjadi pengusaha’ dan tentang ‘dua sisi dalam menjalankan usaha’, tinggal menyamakan tingkat pemahamannya. Jadi teruskan saja mengadakan pertemuan untuk membahas segala sesuatunya tentang sistematika ini, terserah kalian kapan dan dimana yang kalian bisa menyelenggarakannya, Oke?”
“Oke deh, Pak.” kata Anton, Nina, Boy dan Chris hampir serempak
“Kalau begitu pertemuan kita hari ini saya tutup sampai disini. Nina beritahukan kalau saya nanti masih diperlukan.” kata Danang menutup pertemuan.
“Kayaknya Bapak pasti masih diperlukan, Pak.” jawab Nina yakin.
***
TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1) Apa yang menjadi tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepadanya untuk mempercepat pencapaian tujuan?
2) Apa yang menjadi tujuan Anton dan Boy, apa bedanya dengan tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepada mereka untuk mempercepat pencapaian tujuan?
3) Siapa di antara Anton, Boy, Chris dan Nina yang dianggap paling siap untuk menjadi pengusaha dan indikasi apa yang mendukung anggapan itu?
4) Bila mereka, termasuk Danang, membentuk kelompok yang akan mendirikan dan kemudian menjalankan sebuah perusahaan, siapa-siapa di antara mereka yang akan menjadi anggota kelompok dan apa peranan atau kontrribusi masing-masing dari sejak mendirikan perusahaan sampai dengan menjalankannya nanti.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)