Friday, December 30, 2016

Free Web Counter
Free Counter

*‘PERANG PADRI’ VERSI LOKAL

Oleh: Dr. Emeraldy Chatra

Istilah Perang Padri diciptakan oleh Prof Veth, seorang orientalis Belanda yang tidak pernah berkunjung ke Sumatera Barat. Ia hanya mengandalkan laporan-laporan pegawai dan tentara kolonial yang berada di medan perang.
Padri itu julukan Prof Veth untuk kaum Islam di Minangkabau. Jelas ini pengistilahan yang sangat keliru, karena asal kata padri adalah padre (Spanyol) yang berarti pendeta. Kaum Islam di Minangkabau tentu bukan pendeta.
Selama ini kita menjadikan cerita Veth sebagai rujukan tentang perang yang berkobar mulai 1809 sampai 1837 itu. Selain terdapat pengistilahan yang keliru, jalan cerita yang dikarang Veth juga amburadul.
Tidak banyak diketahui, sebenarnya ada versi lain yang diceritakan turun temurun oleh orang Minangkabau, khususnya kaum penghulu. Saya dapat versi lain ini dari penghulu di Agam.
Versi lokal tidak menyebut perang itu Perang Padri, tapi PERANG CANDU. Mengapa? Karena peperangan itu dipicu oleh maraknya peredaran candu (bahan memabukan yang dihisap bersama tembakau memakai cangklong panjang) di Minangkabau.
Tidak hanya candu yang marak. Seiring dengan peredaran candu, orang Minang – tentu saja kebanyakan penghisap candu – juga suka berjudi sirambuang , minum tuak, dan mengadu ayam. Perzinahan pun sudah menjadi hal biasa.
Demikian rusaknya masyarakat Minang akibat maksiat, sehingga Tuanku Nan Renceh (TNR), seorang ulama muda dari surau Naqsabandiyah di Kamang sangat murka. Ia memimpin sebuah pasukan kecil untuk memerangi peredaran candu dan maksiat-maksiat ikutannya di seputar Kamang.
Inisiatif memerangi candu itu murni dari TNR. Gurunya sendiri, Tuanku Nan Tuo di Canduang tidak sepakat melakukan tindakan kekerasan sebagaimana dilakukan muridnya.
Siapa di belakang peredaran candu dan berbagai praktik maksiat di Minangkabau? Candu diimpor oleh Belanda dari India dan didistribusikan oleh tiga orang tokoh adat yang berdomisili di Tanah Datar. Dalam istilah sekarang, merekalah bandar besar narkotika yang dipelihara oleh Belanda.
Soal nama ketiga orang ini bagi saya masih perlu diverifikasi, karena itu tidak akan saya sebutkan. Bisa ribut orang Minang.
Kaki tangan ketiga tokoh adat itu bertebaran di seluruh wilayah Minangkabau. Jadi tidak semua penghulu adat terlibat dalam urusan candu. Bahkan banyak yang melawan, tapi tidak berhasil karena gerombolan pengedar candu sangat kuat. Pembakaran pasar Pandai Sikek oleh Haji Miskin yang dipicu oleh candu-judi-tuak melibatkan seorang penghulu terkenal dari Tanah Datar.
Gerakan TNR lebih tepat disebut sebagai gerakan surau. Boleh jadi TNR terinspirasi oleh gerakan Wahhabi karena sejatinya kaum Naqsabandi tidak menyukai jalan kekerasan, tapi tidak ada bukti bahwa beliau benar-benar Wahhabi. Istilah Wahhabi yang dilekatkan kepada Perang Padri juga berasal dari Prof. Veth.
Menurut versi lokal, tidak benar gerakan surau memerangi candu diinisiasi oleh Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin (nama lain dari Haji Pamansiangan). Sewaktu mereka pulang ke Minangkabau mereka sudah menemukan banyak kerusuhan yang disebabkan oleh gerakan surau-nya TNR. Kemudian mereka bergabung dengan TNR, membuat gerakan surau menjadi masif.
Akibat terdesak oleh gerakan surau TNR, ketiga gembong candu memobilisasi kekuatan dan meminta pertolongan kepada Belanda. Belanda pun ikut campur urusan orang Minangkabau, melahirkan perang besar.
Perang inilah yang dikatakan secara keliru oleh Prof Veth sebagai perang Kaum Wahhabi melawan Kaum Adat. Tapi kita maklum, orang Belanda memang sering salah menulis, kadang disengaja untuk tujuan mengadu domba.
Campur tangan Belanda tidak menyurutkan semangat Kaum Surau. Perang makin sengit karena para penghulu adat yang anti-candu bergabung dengan Kaum Surau.
Bergabungnya penghulu adat inilah yang kemudian melahirkan perang orang Minang melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol adalah murid TNR yang paling terkenal, paling kuat, tapi juga yang mengakhiri perlawanan terhadap Belanda setelah beliau ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Ambon, lalu ke Lotar, Sulawesi.

Wednesday, January 21, 2009

Free Web Counter


From: arief dani

SENYUMLAH...

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' di tempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka...

Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak2ku!"

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

CHEERS

Sunday, December 14, 2008

Sawahlunto, Mangangkat Wisata

Free Web Counter

PadangKini.com | Kamis, 14/8/2008, 20:08 WIB

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb

DALAM suasana peringatan Kemerdekaan RI ke-63, jika Anda ingin berwisata ke Kota Sawahlunto, ada baiknya berkunjung ke bangunan bawah tanah di bawah Masjid Agung Nurul Islam yang gampang mencarinya karena memiliki menara tertinggi di kota itu.

Bangunan ini memiliki nilai sejarah di masa perebutan kemerdekaan pada 1945. Ruang bawah tanah dari semen cor bekas pembangkit listrik tenaga uap zaman Belanda itu, saat itu digunakan para pejuang untuk bersembunyi, merakit senjata, dan sekaligus menyimpan senjata ketika melawan penjajah Jepang.

Bahkan tempat itu dikenal sebagai satu dari dua ‘pabrik senjata' di Sawahlunto waktu itu. Satu lagi, bengkel Perusahaan Tambang Batubara Ombilin.

Bangunan bawah tanah dengan banyak lorong dan pintu keluar, dan tidak terlihat dari luar karena rata dengan tanah itu, sulit diketahui keberadaannya oleh orang asing. Karena itu menjadi persembunyian yang aman di tengah kota.

Ketika ruang bawah tanah ini secara resmi dibuka Pemko Sawahlunto 5 Juni 2005, M. Kasim RM yang waktu itu sudah berumur 90 tahun, ikut masuk. Masuk dari belakang masjid yang berdiri di atas lorong-lorong itu, M. Kasim sesampai di dalam tak kuasa menahan derai air matanya.

"Hanya saya yang tinggal sekarang, teman-teman seperjuangan yang dulu sembunyi di sini sudah tidak ada lagi," ujar Kasim yang waktu itu teknisi dan anggota Gyu Gun.

M. Kasim sepertinya menganggap hari itu hari sangat bersejarah dalam hidupnya. Ia menyambutnya dengan mengenakan celana warna hansip, kemeja biru muda, dan topi pet berjumbai mirip topi tentara Jepang. Meski sudah tua ia masih ceria dan bicaranya masih jelas.

"Saya sudah sejak puluhan tahun lalu mengusulkan kepada Pemerintah Kota Sawahlunto untuk membuka ruangan ini, tapi baru sekarang dilakukan," ungkap Kasim.

Sebagai veteran pejuang 45 di Sawahlunto, Kasim merupakan satu-satunya saksi sejarah yang tersisa. Tempat itu, kata Kasim, sangat penting sebagai pabrik penyuplai senjata para pejuang untuk Sawahlunto dan sekitarnya.

Bom-bom yang panjangnya hingga 4 meter buatan Inggris, Jerman dan lain-lain disimpan di tempat itu, lalu dengan gagah-berani dijinakkan dan diambil pejuang mesiunya untuk dijadikan senjata.

Selama Indonesia merdeka, tak ada orang di Kota Sawahlunto yang tahu pasti bagaimana bentuk ruangan bawah tanah yang terletak di bawah Masjid Raya Agung Nurul Islam itu, kecuali M. Kasim RM yang sudah meninggal setahun kemudian.

Pada 5 Juni 2005 itu Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur memerintahkan aparatnya dari Kantor Dinas Pariwisata dengan didampingi polisi untuk membuka ruangan tersebut secara resmi, setelah sebagian besar ruangan di sana dibersihkan.

Di ruangan bawah tanah itu masih banyak ditemukan granat karatan.

Bangunan Belanda

Sebenarnya ruangan itu memiliki sejarah yang panjang. Jauh sebelum 1940-an. Ruangan itu dulunya adalah pusat pembangkit tenaga listrik (central electrich) yang dibangun pada 1894 oleh Bolonial Belanda. Tujuan utama pembangunan pembangkit listrik tenaga uap tersebut adalah untuk pendukung operasional perusahaan batubara yang dibuka pada 1891.

Menurut buku Sawahlunto: Dulu, Kini, dan Esok yang ditulis Wannofri Samry dkk (2005), pada saat didirikan, Central Electrich ini tercatat sebagai pembangkit listrik terbesar di Sumatera. Daya listrik yang dapat dihasilkan alat ini adalah 20.000 megawatt hoog spaning.

Bangunan itu dibangun para teknolog kolonial yang handal dan dikonstruksi dengan begitu terencana. Alat-alatnya, seperti besi, semen putih dan generatornya, didatangkan dari Jerman.

Mesin ini bekerja dengan menggunakan air Batang Lunto yang yang mengalir di samping bangunan. Air dialirkan dengan pipa-pipa besi ke dalam ruang bawah tanah di mana terdapat dapur (kitchen) berupa tangki untuk pemanasan agar memproduksi uap. Pemanasan dilakukan dengan membakar batubara. Sedangkan Sisa pembakaran dikeluarkan melalui cerobong asap dari semen setinggi 70 meter.

Bangunan bagian atas Central Electrich yang berupa kantor dua tingkat telah hancur ketika Belanda menghadapi Jepang pada 1942. Operasional pembangkit inipun terhenti.

Para pejuang kemerdekaan Indonesia memanfaatkan ruang bawah tanah itu. Ketika Indonesia merdeka pintu ruang bawah tanah itu ditutup dengan semen. Tak ada orang yang pernah masuk lagi ke dalamnya.

Pada 1955 di atas ruangan bawah tanah itu didirikan oleh masyarakat Sawahlunto sebuah masjid agung berukuran 60 X 60 meter. Pintu ruang bawah tanah yang telah ditutup tepat terletak di belakang masjid. Menara bekas cerobong asap Central Electrich dijadikan menara masjid dengan menambah kubah setinggi 10 meter.

Dua tahun lalu itu, baru seperempat ruangan bangunan dapat ditelusuri karena belum dibersihkan. Peralatan di dalam ruangan tak ada sama sekali. Tak ada mesin generator dan tangki pemanas. Kecuali pipa-pipa baja yang masih kokoh tertanam di beberapa bagian ruangan.

Sejumlah pintu dari besi tertutup rapat dan sejumlah lorong tertimbun tanah. Kekhawatiran masih adanya granat yang dapat meledak muncul, karena ditemukan dua buah granat tangan zaman perang mirip botol di salah satu lokasi. Karena itu, ukuran sesungguhnya ruangan bawah tanah itu belum dapat dipastikan.

Konon ruangan ini panjangnya hampir 150 meter dan lebarnya lebih 50 meter, artinya lebih lebar dari masjid agung ini. Untuk menggali semuanya Pemko Sawahlunto terpaksa meminta Polda Sumatera Barat untuk mengirimkan tim penjinak bom.

Pemko Sawahlunto menjadi bangunan itu situs sejarah dan terbuka untuk umum. "Seperti Lubang Jepang di Bukittinggi," kata Amran.**


Monday, August 18, 2008

Gusti Allah Tidak Ndeso

Gusti Allah Tidak "Ndeso"
Beragama yang Tidak Korupsi

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun,"
kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke
masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar
tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang
sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan
ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point
pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di mesjid,
melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan
mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau
engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau
menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau
memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana
dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca
al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan
mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat,
tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh
kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi
uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi
menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak
sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya
sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia
hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah
output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih,
kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya,
orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi
juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih
sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua
agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih
sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,
baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya,
kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat
bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin,
memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang
beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan
personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan
kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang
yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang
menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya
solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum
tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial
tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,
sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta
kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa
di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi
Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka." Hadis ini
memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.

Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada
lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai
tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal
ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan
intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat
dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh
status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci,
bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain
menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran
agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan
nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam
jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual
keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua
ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya,
agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang
intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh
kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada
kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan
lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-
ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis
dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit;
kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita
ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang
melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi
dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan
penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh
pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia
dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu
siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi
bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun
lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua
Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak
umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi
mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan,
dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa
banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas
sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit
dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara
keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat
melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah
ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung
beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji
berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut
karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik
mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

Sumber: Jalal Center

Tuesday, June 10, 2008

Sesal Ayah Sayang

ANAK YANG MENCORET MOBIL AYAHNYA

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak
tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena
sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas
buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di
halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret
lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya
terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi
pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka
coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan
sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin
menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan
maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan
ayahnya,gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya
mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh
si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat
mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih
lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus
menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya
merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali
lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan '
Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg
kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu
ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil
bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran
mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus
dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang
tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.
Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan
anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa
puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk
tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan
kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk
ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak
kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak
kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu.
Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu
juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.
Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja
membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya,
kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke
majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang
menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi
pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah
menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya
ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu
masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat
anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu
kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan
tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa
ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai
saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter
mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah
serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak
dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang
mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya
sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi
menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku
ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena
halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar,
tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air
mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat
persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius
yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga
keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya
muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia
mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan
menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah..
ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah
pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.",
katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa
sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak
akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan
nanti?...Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan
mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati
si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun
takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah
jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya
tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya
tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan
kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan
kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak
bertepi...,Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan
kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu
merindukan ayahnya..

(dikutip dari milis EMBA, dan debritto)

Wednesday, January 09, 2008

Lovely Flower

Friday, December 14, 2007

C R E A T E Y O U R `P O S I T I V E C O N D I T I O N I N G

Free Web Counter


C R E A T E Y O U R `P O S I T I V E C O N D I T I O N I N G'

"Joy, fun, or happiness are just the results of mind conditioning
already anchored in us. Create a new one that could push us to the
maximum performance"
- Sonny Vinn -

Bagi sebagian besar orang, membicarakan tentang `dunia lain' terasa
tabu, bahkan bisa menyebabkan bulu roma berdiri. Saya sendiri punya
seorang rekan yang lumayan penakut, dimana biasanya setelah menonton
film horor, jadi tidak berani untuk masuk ke kamarnya sendiri yang
gelap. Di lain peristiwa, ketika ada orang yang kebetulan membawa
makanan lewat di depan anda, bisa jadi air liur mengalir keluar lebih
banyak di dalam mulut anda, dan bisa saja tiba-2 perut terasa lapar.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam 2 contoh peristiwa tersebut ? Itu
adalah suatu `pengkondisian'

, yang oleh dunia psikologi sering disebut
dengan istilah Anchoring, atau sering dipopulerkan oleh Anthony
Robbins dengan "Neuro Associate Conditioning" – NAC.

Pengkondisian atau conditioning adalah suatu keadaan dimana emosi
kita akan berubah dengan seketika saat ada suatu stimulus yang masuk
ke dalam pikiran kita. Seperti contoh diatas, dalam kondisi normal,
lalu misalnya kita membicarakan tentang `dunia lain', tentang hal-hal
yang menyeramkan, maka otomatis stimulus ini bukan saja akan diterima
sebagai informasi biasa, tapi juga masuk ke dalam memory kita.
Informasi ini di dalam memory akan diolah sedemikian rupa, sehingga
apabila memang di dalam pikiran kita sudah tersimpan data bahwa `dunia
lain' berarti menyeramkan, maka pikiran kita akan mengirimkan sinyal-2
tertentu ke perasaan kita, sehingga kita menjadi takut. Sehingga
dapat dikatakan disini bahwa sebenarnya rasa takut seseorang terhadap
sesuatu hal, adalah hasil proses `pengingatan' kita akan suatu
peristiwa, dan berakhir dengan berubahnya emosi kita sesuai dengan
bagaimana ingatan kita diprogram pada awalnya.

Proses `pemrograman' conditioning seseorang biasanya terjadi pada
saat seseorang kecil hingga mencapai tingkat `kematangan' pada usia
17-18 tahun. Proses ini banyak sekali dipengaruhi oleh orang tua,
teman, dan lingkungan tempat seseorang bertumbuh. Diatas usia 18
tahun, sebenarnya hampir semua tingkah laku dan sikap kita, merupakan
bentuk pengulangan dari conditioning yang telah ditanamkan sebelumnya.
Jadi, apabila seseorang takut terhadap gelap misalnya, sebenarnya yang
terjadi adalah, orang tersebut pada waktu proses pertumbuhan hingga
usia 18 tahun, mungkin banyak menerima input negatif tentang gelap,
baik dari lingkungan maupun keluarganya secara terus menerus ;
sehingga akhirnya orang tsb menerimanya sebagai suatu pengkondisian
yang normal bagi dirinya.

Berita baiknya adalah, walaupun dikatakan bahwa pengkondisian
mencapai puncaknya pada saat kita berusia 17-18 tahun, ternyata
pengkondisian kita masih bisa diubah. Bahkan, kita pun masih bisa
menciptakan `conditioning' baru untuk hal-hal yang memang belum pernah
kita alami sebelumnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, untuk
mengubah `conditioning' kita, yaitu :

1. Kita SADAR bahwa kita mempunyai `conditioning' yang merugikan
kita

2. Kita punya keinginan untuk MERUBAHNYA

3. Mulai MENGHANCURKAN `conditioning' yang lama dengan cara
melakukan afirmasi. Misalnya, kita takut gelap, maka pada saat
gelap, cobalah justru MEMAKSA diri masuk ke ruangan gelap tsb,
dan mengatakan "Saya berani di dalam gelap, saya berani di
dalam gelap" berkali-kali

4. Apabila kita merasa kesulitan melakukan yang nomor tiga
diatas, ada baiknya minta bantuan dari orang lain sehingga ada
dorongan yang lebih kuat dari luar

5. Lakukan berulang-ulang langkah-2 diatas hingga akhirnya
`conditioning' kita mulai berubah menjadi lebih positif,
menjadi lebih baik.

Untuk conditioning yang memang belum pernah ada sebelumnya
justru lebih mudah, karena kita tidak perlu mengubah dari yang lama ke
yang baru. Justru disinilah kita bisa menciptakan `conditioning' baru
yang positf, yang bisa mendorong kita untuk mencapai prestasi puncak.
Namun tetap harus dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya menjadi
sebuah kebiasaan, sebuah `conditioning' akan akan membantu kita menuju
sukses lebih cepat

Sukses untuk anda !

SONNY VINN
Motivational Speaker, Penulis Buku

BANGGA

Free Web Counter

Lembang Alam
BANGGA

Betapa bangganya saya

Terlahir sebagai orang Minang

Bahkan lahir di kota sejuk di negeri yang elok itu

Negeri yang indah permai sungguhan itu

Negeri yang dari dulu bahkan sampai sekarang kini nangko

Masih seelok itu jua

Masih sebertuah itu jua

Negeri tempat terjadinya perang Paderi itu lho

Perang yang diprakarsai ulama-ulama yang ingin menegakkan syariat Islam

Semurni-murninya di Ranah Minang

Agar tak ada lagi kehidupan parewa

Agar tak ada lagi hampok dan tuak

Agar tak ada lagi sabuang ayam

Agar tak ada lagi kemusyrikan

Namun rupanya Allah Rabbul ʽalamiin berkehendak lain

Ulama-ulama yang teguh hati itu dikalahkan orang-orang kafir penjajah

Maka jadilah Ranah Minang termasuk bagian tanah jajahan

Tak sempat habis kehidupan parewa

Tak sempat habis hampok dan tuak

Tak sempat habis sabuang ayam

Tak sempat habis kemusyrikan

Bangga saya terhadap Minang masih begitu juga

Minang yang sarat dengan nilai-nilai lebih

Yang pernah melahirkan orang-orang cerdik pandai

Dari dulu bahkan sampai sekarang

Meski yang parewa tetap juga parewa seperti dulu

Meski yang bahampok masih juga bahampok seperti dulu

Entahlah kalau yang manyabuang ayam

Entahlah kalau yang musyrik

Saya tidak ingin menghitung-hitung

Orang-orang santiang yang pernah lahir di Minang sejak dulu sampai kini

Biarlah orang lain saja yang menghitung

Saya tidak ingin ikut-ikut berbangga-bangga karena orang-orang Minang yang santiang-santiang itu

Saya tidak mau merasa bertuah karena orang santiang yang manapun karena memang saya tidak ada urusan dengan mereka

Karena saya adalah saya, mereka adalah mereka

Dan kalau saya bangga jadi orang Minang bukanlah karena orang-orang santiang banyak di Minang

Saya hanya bangga jadi salah satu putera Minang, hanya itu

Saya bangga jadi orang Minang meskipun lebih separuh umur saya saya rentang di rantau di luar Minangkabau

Saya bangga, bukan sombong, waktu sejawat saya sejak dulu sampai sekarang mengenal saya ʽ oh bapak yang orang Padang ituʼ

Saya bangga, bukan sombong, waktu tetangga saya sejak dulu sampai sekarang mengenal saya ʽoh bapak yang orang Padang ituʼ

Saya bangga, bukan sombong, waktu jemaah mesjid dekat rumah saya sejak dulu sampai sekarang mengatakan ʽ beliau inikan orang Padangʼ

Tidak sedikitpun saya dirugikan karena ke Padangan Minang saya dan tidak ingin saya merugikan orang lain karena ke Minangan Padang saya

Saya bersyukur terlahir sebagai seorang Muslim

Saya bersyukur berada di lingkungan orang yang beriman kepada Allah azza wa jalla

Dan beriman kepada datangnya hari pembalasan

Saya merasakan inilah yang seindah-indahnya nikmat Allah

Dan saya bersyukur saya beriman dengan agama YANG LURUS ini

Agama yang telah, sedang dan akan membawa manusia yang mana saja asal dia mau, dari kegelapan ke pada terangnya Nur Illahi

Yang menjanjikan balasan kebajikan bagi setiap kebajikan yang disemai, nanti di sana

Yang mengancam balasan kesengsaraan bagi setiap kejahatan yang disemai, nanti di sana

Saya benar-benar yakin akan pembalasan itu

Sehingga saya tidak berani berolok-olok

Biarlah orang lain saja yang berolok-olok

Islam telah dengan nyata mencontohkan bahwa ianya adalah rahmatan lil ʽalamin

Sarat dengan bimbingan dan petunjuk

Selama setiap individu mau menjadikan ajarannya sebagai pedoman

Tidak ada sedikitpun alasan untuk mengatakan bahwa Islam membawa kepada kehancuran

Jelas tidak

Atau membawa kepada keterbelakangan

Jelas tidak

Atau membawa kepada kerugian

Jelas tidak

Namun masih banyak saja makhluk-makhluk ciptaan Allah bahkan yang mengaku Muslim yang tidak yakin dengan Islam

Tidak yakin dengan kebenaran yang disampaikan Islam

Bahkan berusaha mengecilkan arti dan nilai Islam

Alangkah kasihannya mereka itu

Yang tidak faham

Yang tidak tahu

Yang tidak mengerti

Tapi terlanjur membuat persepsi yang sangat keliru

Atau bahkan bergagah-gagah menyudutkan

Padahal Islam tidak akan pernah tersudutkan

Atau bahkan berkaok-kaok menghinakan

Padahal Islam tidak akan pernah terhinakan

Atau bahkan berberani-berani menghancurkan

Padahal Islam tidak akan pernah terhancurkan

Betapa bersyukurnya saya terlahir sebagai seorang Islam

Nikmat yang bukan alang kepalang besar yang diberikan Allah Subhanahu wataʼala

Dan saya tetap berdoa dalam shalat saya

Kiranya saya tetap terpelihara dalam petunjukNya

Menempuh jalan yang lurus

Jalan yang di tempuh mereka-mereka yang diberiNya nikmat

Bukan jalan mereka-mereka yang mendapat murkaNya karena ketekeburan, kesombongan, keongehan mereka

Serta bukan jalan mereka-mereka yang sesat

Karena saya yakin betul dengan janji Allah

ʽSeandainya kalian bersyukur, niscaya Kami tambahkan nikmat atas kalian

(Namun) seandainya kalian ingkari, (awas kalian) sesungguhnya azab Ku sangat pedihʼ



Wednesday, October 31, 2007

Lafal Allah di Api Ledakan Pipa Pertamina Lapindo

Free Web Counter


Jilatan api pipa Pertamina di Lapindo membentuk lafal Allah dan kuda laut

Surabaya - Allah Maha Besar! Ledakan pipa gas milik Pertamina di lokasi lumpur Lapindo, jalan Tol Porong-Gempol KM 38 22 November 2006 lalu yang menewaskan 13 orang masih menyimpan misteri. Ada yang mengejutkan sesaat api melumat tanggul di sekitar pusat semburan lumpur tersebut.

Seorang pekerja PU yang tergabung dalam Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo diam-diam berhasil mengabadikan jilatan api yang cukup mecengengangkan. Bagaimana tidak! Tanpa disadarinya, hasil bidikan fotografer amatir yang namanya dirahasiakan itu menunjukkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kok bisa? Api yang membubung setinggi hampir 1 kilometer itu ternyata sempat membentuk lafal Allah dalam tulisan Arab beberapa saat. Selain itu, api itu juga menunjukkan gambar logo lama perusahaan minyak negara, PT Pertamina: kuda laut.

Boleh percaya, boleh juga tidak. Yang jelas, wartawan detikcom yang menerima softcopy foto ini sempat terkejut menyaksikan foto yang selama ini dianggap biasa oleh Timnas itu.

Pengamatan detikcom, foto tersebut kemungkinan dibidik dari tanggul Desa Renokenongo yang berada di bagian utara pusat ledakan. Memang jika dilihat sekilas, foto itu terkesan biasa.

Namun jika foto itu dicermati dan diteliti lebih lama, terlihat jelas apinya membentuk lafal Allah dan kuda laut. Pertanyaan yang muncul apakah itu jilatan api yang membentuk lafal Allah ini kebetulan saja atau memang memuat pesan-pesan dari Allah? Wallau a'lam. (gik/asy)

Allah di Api Lapindo

Free Web Counter

14/12/2006 07:42 WIB
Api Ledakan Pipa Pertamina di Lapindo Berlafal Allah & Kuda Laut
Budi Sugiharto - detikcom


Jilatan api pipa Pertamina di Lapindo membentuk lafal Allah dan kuda laut

Surabaya - Allah Maha Besar! Ledakan pipa gas milik Pertamina di lokasi lumpur Lapindo, jalan Tol Porong-Gempol KM 38 22 November 2006 lalu yang menewaskan 13 orang masih menyimpan misteri. Ada yang mengejutkan sesaat api melumat tanggul di sekitar pusat semburan lumpur tersebut.

Seorang pekerja PU yang tergabung dalam Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo diam-diam berhasil mengabadikan jilatan api yang cukup mecengengangkan. Bagaimana tidak! Tanpa disadarinya, hasil bidikan fotografer amatir yang namanya dirahasiakan itu menunjukkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kok bisa? Api yang membubung setinggi hampir 1 kilometer itu ternyata sempat membentuk lafal Allah dalam tulisan Arab beberapa saat. Selain itu, api itu juga menunjukkan gambar logo lama perusahaan minyak negara, PT Pertamina: kuda laut.

Boleh percaya, boleh juga tidak. Yang jelas, wartawan detikcom yang menerima softcopy foto ini sempat terkejut menyaksikan foto yang selama ini dianggap biasa oleh Timnas itu.

Pengamatan detikcom, foto tersebut kemungkinan dibidik dari tanggul Desa Renokenongo yang berada di bagian utara pusat ledakan. Memang jika dilihat sekilas, foto itu terkesan biasa.

Namun jika foto itu dicermati dan diteliti lebih lama, terlihat jelas apinya membentuk lafal Allah dan kuda laut. Pertanyaan yang muncul apakah itu jilatan api yang membentuk lafal Allah ini kebetulan saja atau memang memuat pesan-pesan dari Allah? Wallau a'lam. (gik/asy)


© 2007 detikcom,


Wednesday, October 24, 2007

Law of Attraction vs Rasa Syukur

Free Web Counter

Law of Attraction vs Rasa Syukur
oleh: Yogi Yogayaza

Assalamualaikum wrwb.

Hukum Ketertarikan akan merespon getaran apapun yang anda pancarkan dengan mendatangkan getaran yang lebih banyak, tak peduli apakah getaran itu positif atau negatif. Hukum itu semata-mata hanya merespon getaran anda.

Itulah salah satu frase yang saya baca dan garis bawahi ketika membaca
edisi bahasa Indonesia dari buku Law of Attraction karya Michael J
lossier dari penerbit Ufuk Publishing house.

Buku yang sangat menarik. Orang - orang di barat sana ternyata
mempunyai ketertarikan yang sangat mendalam dan melakukan penelitian
secara ilmiah untuk mengakui adanya hukum ini yang saya rasa bertumpu
dari dalil "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs Ibrahim ayat 7).

Jadi, apapun yang kita terima saat ini pada dasarnya adalah hasil dari perbuatan kita.

Kembali kepada buku Law of Attraction nya michael J.Losier, ada
beberapa catatan dalam buku ini yang mudah-mudahan bisa bermanfaat:

"Definisi hukum Ketertarikan:

Segala sesuatu yang saya pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan
konsentrasi pikiran, baik hal yang positif maupun negatif, akan datang
ke dalam kehidupan saya."

"Entah positif atau negatif getaran yang anda pancarkan, Hukun
Ketertarikan akan mendatangkan getaran yang sama, yang lebih banyak
jumlahnya."

"Pada saat Anda berbicara dan kalimat anda mengandung kata-kata jangan,
tidak, atau dilarang, sebenarnya anda mencurahkan perhatian dan energi
penuh pada sesuatu yang tidak anda inginkan. Oleh sebab itu bertanyalah
pada diri anda sendiri : "JADI , APA YANG SAYA INGINKAN?"

"Ketika anda mulai memikirkan hal - hal yang anda inginkan, kata-kata
anda pun akan berubah. Jika kata-kata berubah, maka berubah pula
getarannya, padahal setiap kali anda hanya bisa memancarkan satu jenis
getaran saja."

"Untuk mengetahui apakah getaran yang anda kirimkan positif atau
negatif, lihat saja akibat yang ditimbulkan oleh getaran itu terhadp
kehidupan anda. Sesungguhnya akibat-akibat itu merupakan cerminan yang
sempurna ari getaran-getaran tersebut."

"Kenalilah hal-hal yang membuat anda senang dan jadikan itu sebuah kebiasaan."

"Hukum ketertarikan merespon apa yang anda rasakan terhadap ucapan ucapan dan pikiran anda"

"Kerelaan membiarkan hasrat menjelma nyata hanya bisa dilakukan dengan membuang getaran negatif (keraguan)."

"Kecepatan Hukum Ketertarikan mewujudkan keinginan anda berbanding lurus dengan besarnya Kerelaan anda."

"Jika getaran negatif dapat disingkirkan, kerelaan akan muncul.
Keraguan adalah getaran negatif, dan dia sering ditimbulkan oleh
keyakinan penghambat."

"Ada dua cara mengetahui bahwa anda sudah merelakan keinginan anda menjelma nyata:

Pertama, jika anda merasa lega dan berkata, "Ah, ini jauh lebih baik."

Kedua, jika anda melihat bukti-bukti terwujudnya keinginan anda di dalam kehidupan ini.

"Ingat, dengan hilangnya keraguan, keinginan anda akan lebih cepat terwujud."

"Ingat, Hukum Ketertarikan tidak pernah peduli apakah saat ini anda
sedang mengingat - ingat, berkhayal, merekayasa, mengeluh, atau sedang
mencemaskan sesuatu.

Dia semata-mata hanya merespon apa yang anda pancarkan di dalam
Gelembung Getaran anda. Oleh karenanya, carilah bukti itu, rayakan, dan
pancarkan sebuah getaran positif."

"Luangkanlah waktu untuk menghargai apa saja. Yang penting adalah
kualitas perasaan yang menyertai ungkapan penghargaan itu. Penghargaan
dan rasa syukur membantu anda memancarkan getaran-getaran positif yang
dahsyat."

"Ungkapan "banyak hal bisa terjadi" akan mengingatkan anda bahwa ada
kemungkinan yang tidak terbatas tentang kapan dan bagaimana keinginan
anda akan terwujud. Sesungguhnya banyak hal BISA terjadi. anda setuju,
bukan ?"

"Bukan tugas anda untuk memikirkan masalah yang rumit. Biarkan hukum Ketertarikan yang mencari jawabannya"

"Kemakmuran adalah sebuah perasaan. Sertakan getaran rasa makmur sejahtera ke dalam Gelembung Getaran anda."

"Jarak antara agetaran anda dan getaran orang lain setara dengan
kuatnya penolakan (negativitas) yang anda rasakan ketika anda
berdekatan dengan mereka."

Itulah oleh oleh yang saya dapatkan dari buku di atas. Untuk yang sudah
pernah membacanya, semoga tidak menjadi bosan. Untuk yang belum membaca
buku tersebut dan mempunyai ketertarikan, semoga ada manfaatnya.

Wallahu a'lam bishsawab

Yogi Yogayaza

Tuesday, October 23, 2007

Bardri


Free Web Counter

Free Counter

Tanggap Lingkungan: Harta Karun untuk Semua


Free Web Counter

Harta Karun untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: Stuff - The Secret Lives of Everyday Things . Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang- barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadi nya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.

Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota ? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun:
haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menj adi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menj adi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.
Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti harta karun , yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menj adi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dic arik an lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar.Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan .. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengenda lia n diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, Aduh , Wi . Kamu bikin hidup tambah susah saja. Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadi kan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.


Monday, October 22, 2007

SSM07

Free Web Counter

Saudagar Minang Komit Bangkit Menggebrak Usaha
Oleh; Elthaf

Berani, spirit dan berakal adalah tiga syarat mutlak sebagai seorang saudagar, sepertinya ketiga syarat itu sudah dicanangkan dan difasilitasi pada SSM 2007 yang berlangsung di Pangeran Beach Hotel Padang, 19-21 Oktober 2007, sekali gus sebagai tonggak sejarah dengan pencanangan saudagar Minang bertekad, bersatu, bergandeng tangan melangkah untuk berbuat, bersinergi dalam potensi dan dunia usaha

Tidak kurang dari 800 saudagar Minang dari pelbagai posisi dan jenis usaha tumpah ruah memadati SSM 2007 (Silaturahmi saudagar Minang) yang dibuka secara resmi oleh H. M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden yang juga adalah sumando Urang Minang, ibu Mufidah Kalla berasal dari Lintau, acara yang diliput secara luas oleh mass media cetak dan eletronik nasioanal dan lokal ini nampak sangat meriah.

Dalam amanatnya JK menyatakan bahwa Saudagar berasal dari bahasa Sangskerta yang artinya adalah SERIBU AKAL, Ketika orang Minang berbicara tentang saudagar, sama artinya dengan laut bagi orang Bugis dan Batik bagi orang Yogyakarta, yang artinya adalah sudah trade marknya masing-masing

Saudagar yang baik adalah dengan ilmu, kita tahu, semua tokoh minangkabau dulu hebatnya adalah karena ilmu, Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, M. Yamin, Asaat, Agus Salim, Hamka, semua adalah orang yang pintar dan punya brain yang cemerlang.
Berbicara tentang selera, yang bisa merobah selera orang Indonesia adalah orang Minang, lihat saja untuk selera makan, rang Minang merobah selera makan orang Indonesia dengan selera makan nasi Padang, semua orang menyukai makanan Minang, dimana-mana ada masakan Padang, kecuali di Padang sendiri, di Padang tidak ada rumah makan Padang, selera saja bisa dirobah oleh orang Minang apalagi yang lain kata JK yang disambut gemuruh tepuk tangan hadirin

Saudagar atau pengusaha punya harkat sangat tinggi, kalau dulu orang untuk memegang jabatan apa saja, masuklah AKABRI, mau jenderal, menteri gubernur, anggota Dewan, bupati, kalau sekarang jadi pengusahalah, tujuh dari 10 gubernur di Sumatera adalah pengusaha, gubernur Sumut, Riau, Sumsel, Bengkulu, Jambi dan Kepri.
Di Kabinet juga banyak yang dari pengusaha, termasuk saya, kata JK, yang penting untuk jadi pegusaha adalah kebanggaan sebagai pengusaha, spirit , berakal dan networking. Pengusaha disebut sebagai saudagar karena punya seribu akal, jadi harus berakal, Menurut Wapres, tidak ada sekolah untuk jadi pengusaha atau saudagar, misalnya masuk fakultas ekonomi untuk jadi pengusaha, tidak ada aturannya itu.

Ketika ditanyakan kepada orang yang belum bekerja kenapa dia mau sebagai saudagar, katanya ya timbang-timbang nganggur, menunggu panggilan kerja yang lamarannya sudah dimasukkan, itu kan namanya pelecehan terhadap saudagar itu, kata Jk sambil bersiloroh yang disambut galak gadang hadirin.

Di kesempatan itu Jk sempat menyentil tantang pelabuhan Teluk Bayur yang begitu kotor, JK heran dimana Erni Johan menyanyinya lagu Selamat Tinggal Teluk Bayur Permainya itu, kok bisa Teluk Bayur permai itu, seloroh JK, yang disambut ketawa hadirin.
Melihat dari waktu pelaksanaan SSM 2007 nampak sekali panitia sangat pintar dan cerdas dalam memanfaatkan waktu, karena bertepatan dengan cuti panjang hari raya Iedul Fitri yang mana para perantau Minang pulang lebaran dan tentunya biayanya sangat irit karena ongkos pulang adalah sudah merupakan agenda tahunan keluarga, sambil menengok keluarga juga mengikat silaturahmi antar saudagar Minang, sungguh satu penetapan waktu yang hebat, kata JK. Tapi coba kalau dilakukan di provisi lain tentu akan butuh biaya lagi dan itu akan sangat besar karena tidak saja biaya transportasi juga biaya penginapan dan akomodasi lainnya. Yang ini sangat membuat decak kagum hadirin karena begitu hebatnya panitia mengambil momen pulang kampuang ini untuk SSM 2007, Acara pembukaan tadi malam diawali dengan dengan pembacaan ayat-ayat suci al Quran, sari tilawah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya
Mengawali kata sambutannya, Pak Firdaus HB sebagai Ketua Umum Panitia melaporkan secara panjang lebar awal diadakannya SSM 2007, latar belakang acara SSM ini diadakan, yaitu untuk membangkitkan kesaudagaran urang Minang, bersilaturahmi, berdialog dan membuat jejaring bisnis yang kuat diantara saudagar Minang guna menghadapi persaingan global yang makin ketat, serta memperkokoh karakteristik saudagar Minang yang kreatif, inovatif, ulet dan berkepribadian, seperti kita lihat sendiri spirit dagang orang Minang makin lama makin menurun, Persaingan bisnis di era globalisasi saat ini makin kompetitif, peran kelompok sangat berperan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan tersebut, sementara itu semangat membentuk jejaring. Network sesama saudagar Minang masih rendah dan belum terlihat, malah berdasarkan survey menyatakan 74 % lulusan PT ingin menjadi pegawai negeri.
Kenyatan yang perlu dan patut disyukuri dimanapun perantau Minang berada terutama kelompok saudagar Minang berkiprah, pada umumnya memliki kesamaan dalam kepedulian dan kecintaan kepada ranah Minangkabau.

Lebih lanjut kata ketua panitia, "Bagaimana Bang Fahmi Idris (menteri Perindustrian dan Perdagangan RI) sebagai ketua Penggagas memberikan kesempatan yang luas kepada pantia yang semua muda-muda, lebih lanjut Firdaus sebelumnya telah mensosialisaskan acara SSM ini ke seluruh urang Minang di rantau dan di ranah, termasuk kegiatannya Pak Firdaus berdua dengan Pak Solichin Kalla Dt. Rajo Penghulu, putra JK yang beristerikann urang Payakumbuh, berangkat menemui Wakil Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato' Sro Mohd Najib bin Tun Haji Abdul Razak, yang juga adalah sumando urang Minang, sayangnya dua hari yang lewat paduka Timbalan PM Malaysia karena tugas negara yang tak bisa ditinggalkan tidak bisa hadir malam ini. Tapi ini tidak mengurangi semaraknya acara karena secara tidak langsung beliau memberikan dukungan yang luas dan penuh.

Lebih lanjut Firdaus HB menyatakan bahwa acara malam ini tidak pakai Even Organizer tapi adalah murni karajo sacaro basamo-samo. Tentunya secara santun Firdaus mengucapkan terimakasih yang tak berhingga kepada Wakil Presiden, para tokoh Minang dan semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu yang telah mendukung acara ini, dengan harapan SSM 2007 menghasilkan apa yang menjadi keinginan kita bersama yaitu membangkitkan kesaudagaran Minang dan menguatkan networking diantara saudagar dan urang awak.
Sambutan Ketua Gebu Minang, (Gerakan Eknomi dan Budaya Minang), Letjen TNI (Purn) Asril Tanjung SIP, menyatakan bahwa SSM 2007 juga adalah salah satu program pengampu Gebu Minang, dan merupakan hasil Mubes Gebu Minang IV di Sawahlunto tahun 2005, dengan tujuan sebagai ajang pertemuan pengusaha / saudagar Minang serantau dan untuk mendaftarkan, inventarisasi, menyusun, memfasilitasi, dan menggerakkan jejaring kerjasama professional antara sesama pengusaha / saudagar Minang untuk meningkatkan daya saing.
Sambutan dari Perantau diwakili oleh Pak H. Syahrial Oesman Tuangku Bagindo Basa Nan Kayo, SH, MM yang juga adalah sumando Urang Minang, isteri beliau berasal dari Lubuak Jantan Lintau, mengakui bahwa saudagar Minang itu pintar dan hebat, di Sumsel mereka sudah berbaur dan sudah bagian dari masyarakat dan banyak memberikan kontribusi bagi Sumsel, dan beliau menawarkan SSM selanjutnya atau SSM 2008 diadakan di Palembang dan Sumsel siap sebagai tuan rumah. Malah kita lihat dalam paket tas yang dibagikan ada buku proposal Silaturahmi Saudagar Minang tahun 2008, lengkap dnegan susunan kepantiaan, sebagai ketua adalah pak Ir. H. Syamsumar Dahlan Chaniago MBA., Pak Ir. H. Mulyadi Dt. Marah Bangso sebagai ketua Bidang Humas dan promosi. Selanjutnya pak Gubsumsel yang mengakui sebagai sumando Niniak mamak banyak memberikan sambutan yang baik dan mengakhiri dengan pantun-pantunnya dengan bahasa dan logat Minangkabau. Yang membanggakan sumando awak ko sangat mengagumi kecantikan urang minang, itu dilihat dari pantun beliau yang sangat rancak serancak anak gadihnyo..

Ketua Umum Kadin RI, Pak MS. Hidayat dalam pidato tanpa teksnya ikut merasa bangga dengan diadakan SSM 2007 dan melihat ini sangat positif, Bagaimana bisa menjadi pemain global dan bisa menyikapi fenomena usaha global, malah beliau menyatakan SSM 2007 bukan saingan bagi KADIN daerah tapi adalah sebagai mitra dan saling mendukung.
Sambutan dari Gubernur Sumatera Barat, Pak Gamawan Fauzi dengan pepatah Minang yang pasih dan hangat menyampaikan motivasi urang Minang pergi merantau, yaitu menuntut ilmu, mencari harta dan mencari pangkat, kemudian membeberkan tentang tantangan Sumatera Barat kedepan dengan APBD yang kecil, pernah beliau bertanya kepada sahabatnya yang Gubernur Sumsel tentang APBD Sumsel, betapa Sumsel punya APBD 1 T ditambah dengan Royalti dari Migas adalah 1 T, kemudian Riau dengan APBD Riau saja 4,5 T, APBD Kabupaten Bengkalis 2,5 T, dan tiap kabupaten/ kota di Riau yang hampir sama jumlah APBD-nya, bandingkan dengan APBD satu kabupaten di Sumatera Barat yang hanya 400 M, kita bisa hitung dalam waktu 10 tahun betapa ketinggalan dan kecilnya APBD Provinsi dan Kabupaten/ kota di Sumatera Barat.

Kemudian fenomena dari keinginan para tamatan PT yang berdasarkan survey 74 % ingin menjadi Pegawai Negeri, mudah-mudahan dengan SSM 2007 ini akan ada langkah konkrit ranah sebagai producer dan rantau sebagai pasar.
Istilah Karatau madang dahulu di ranah babuah balun itu bisa jadi cambuk bagi kita, alam takambang jadi guru adalah sebagai acuan bagi kita untuk cerdik melihat peluang,
Sedikit Gubernur menyentil tanggapan dari rantau tentang dunia pendidikan di Sumbar, ketika rangking pendidikan Sumbar jatuh menjadi 12 dari 33 provinsi semua perantau teriak, tetapi tahun 2006 rangking pendidikan di Sumatera Barat naik menjadi rangking 7 dari 33 Provinsi, perantau diam, tidak ada apresiasi, begitu pula Pak Gamawan menyentil sifat dari urang Minang yang ingin menjadi komandan semua, dari pada menjadi pegawai staff biarlah menjadi komandan PKL, yang penting jadi Manager Satu Kotak, kalau itu tetap dipertahankan kapan ada staff, kapan ada pelaksana lapangan, main set ini harus dirobah kata gubsumbar, hal itu disambut dengan ketawa yang meriah oleh hadirin dan ini kayaknya akan ada tekad untuk merobah. Jadi tidak ada lagi istilah " Orang Minang dalam berbisnis dua langkah lebih maju dari Cina, maksudnya orang Minang berdagang dua langkah maju dari kedai cina setelah kedai cina tutup, menjual rokok, aqua, korek api, the botol, tissue, he.he..

Selanjutnya pak Gamawan menshare tentang DAMI, Dana Abadi Minang Internasional, diharapkan nanti DAMI akan digunakan untuk SDM Sumbar, batangnya tidak disinggung, yang akan digunakan adalah bunga dan ranting dari DAMI.
Sebelum acara dibuka dengan resmi oleh Wapres dengan memukul gong, diadakan penandatanganan MOU antara Pemda Sumbar dnegan Dirut Telkom, Pak Rinaldi Firmasyah yang juga adalah putra Minang, untuk ringback tone dengan lagu Minangkabau, selesai penandatangan yang disaksikan oleh Komisaris Telkom Pak Tantri Abeng, mantan Menteri BUMN yang juga adalah Sumando Urang Minang. Diteruskan dengan percobaan oleh Dirut Telkom menelpon Gubernur Sumbar, terdengar instrumental lagu Minangkabau, Minangkabau, tanah nan den cinto , pusako bundo, nan dahulunyo, Rumah gadang, nan sambilan ruang, Rangkiang baririk dihalamannyo, Bilo den kana, hati den taibo-taibo, tabayang-bayang di ruang mato.

Yo sabana mandayu-dayu, spontan ciloteh gubernur Sumbar yang disambut riuhnya ketawa hadirin. Diharapkan nantinya Ring Tone ini akan menambah jumlah kocek DAMI, jadi mari kita gunakan ring tone ini yang secara langsung akan mengalir ke DAMI (Dana abadi Minang Int).
Pembukaan SSM 2007 dilakukan dengan resmi oleh Wapres Pak Jusuf Kalla,disaksikan oleh ribuan hadirin yang memadati Hall hotel Pangeran Beach, hadir putra Minang yang berkecimpung di level nasional, seperti Menteri Sosial, Pak Bachtiar Chamsah, Putra Bayua, Wakil DPD RI, Pak Irman Gusman, iko konco Pak Edu Syamsurizal (Land Mater) ko waktu si SMA 2 Padang, Pak Abdul Gani, mantan Dirut Garuda dan Bank Duta, Kasdam Bukit Barisan, Kapolda Sumbar, Bupati dan Wali kota se Sumbar, Wali Kota Jakarta Selatan, Pak Syahrul Efendi yang urang Kurai. Dllnya urang Minang yang eselon 2 serta banyak jadi pejabat penting, beberapa CEO, beberapa jenderal purnawirawan, Pak Yanuar Muin dsbnya..
Setelah acara rehat, makan siang, shalat, rombongan Wapres kembali ke Jakarta, acara siangnya diteruskan dengan sesi pertama dialog interaktif, tampil sebagai nara sumber Menteri Perindustrian dan Perdagangan Pak Fahmi Idris, urang Minang, Menteri Negara BUMN, Pak Syofyan Jalil, Gubernur yang diwakili oleh Asisten Dua, Surya Darma Sabirin, dengan moderator Rektor Unand Prof. Musliar Kasim.

Menteri perindustrian menyatakan, perhatian yang begitu besar dari pemerintah kepada IKM, (Indutri Kecil dan menengah), karena bisa menyerap tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran, tahun 2006 jumlah IKM mencapai 3.217.506 unit usaha, atau 99 % dari jumlah industri nasional, kenyataan inilah yang menjadikan pemerintah serius memperkuat dan mengembangkan IKM ini. Kata Menteri yang juga membawa beberapa dirjen di kementrian Perindustrian yang juga adalah orang Minang., dari Balingka.
Sementara Menteri Negara BUMN lebih menekankan perlunya daya kreativitas dalam mengembangkan usaha dalam era saat ini, BUMN tidak akan maju jika tidak didukung oleh pihak lain. Dia mencontohkan urang cina yang mendidik berdagang sejak kecil dengan konsep berdagang , sikap hati-hati, jujur dan mau maju., Kita mengharapkan investor mau menanamkan uangnya di Sumbar, kalaulah ada saudagar Minang yang ingin menanamkan uangnya di Sumbar itu akan sangat membantu. Diskusi panel ini juga penuh dengan tanya jawab dari hadirin dan berlangsung sangat hidup dan konstruktif.

Sesudah shalat Asyar dilanjutkan dengan dialog interaktif sessi ketiga yang menampilkan Succes history dan para pengusaha dan Profesional minang yang sukses, menampilkan, Basrizal Koto, Owner sekali gus President Director MCB Group. Pengusaha dari Riau, pemilik Minang Plaza di Padang, Koran Riau Mandiri, Radio FM Mandiri (Smart FM Pekanbaru), Agen Chevrolet, cheria ziko, dan sekarang sedang mengembang peternakan sapi yang insya Allah akan menjadi farm terbesar di Aia Tenggara yang berlokasi di Pekanbaru., Ramal Saleh, pengusaha Sukses dari Padang, Sumbar, Johnny Suwandi Syam, Dirut Indosat, Aswin pengusaha Minang dari Malaysia, dan sebagai penelaah Pak Basril Jabar, pemilik Harian Singgalang dan Sosiolog kondang Prof. DR. Muchtar Naim.

Kita mengikuti bagaimana maju mundurnya mereka dalam berusaha dan meniti karir sampai beliau seperti sekarang ini, maka tidak salah apa yang dikatakan oleh pak Fahmi sebelum berusaha yang penting dilihat dulu untuk diri sendiri adalah: Kelemahan, kelemahan, kelemahan dan kekuatan. Begitu pula melihat lawan, lihat dulu : kelemahan, kelemahan, kelemahan dan kekuatan.

Malamnya setelah shalat magrib dan Isya, dialog interaktif sessi ketiga diadakan dengan narasumber: Semua adalah orang Minang kecuali Mohammad Safei Antonio, pakar ekonomi Syariah yang beliau ini adalah sumando Orang Minang, ipar dari Bupati Darmasraya, Pak Marlon.

Para nara sumber yaitu Pak Emirsyah Satar, Dirut Garuda Indonesia, putra Sulik Aia, Asril Das, Saudagar Buku di Bandung, Hasan Basri, Ketua APPSI DKI., Pedagang Sukses Tanah Abang, Fikri Bareno, Pedagag Sukses di Tanah Abang, Pak Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika. Pak Romeo, Kepala Bank Indoensia Sumut dan Aceh, Pak M. Safei Antonio, Pakar Ekonomi Syariah yang telah sukses mengislamkan 14 buah Bank menjadi Bank Syariah, tapi belum dapat mengislamkan Bank Nagari menjadi Bank Syariah, Bertindak sebagai moderator Pak Rainal Rais, Pengusaha Minang terkaya di Jakarta. Pak A. Latief, pemilik Pasar Raya yang juga sumando Orang Minang nggak sempat hadir. Pak Rainal, sebagai tokoh tua yang sangat baik dan dekat dengan anak muda membuak dialog dnegan kocak dan hangat.

Dirut Garuda dalam pemaparannya dengan judul Merealisasikan Potensi Pariwisata Sumatera Barat memulai dengan fakta parawisata sekarang adanya koneksi nonstop/ direct dari luar negeri diambil alih oleh budget air line-> indikasi pergeseran dari wisman Eropa/ Jepang ke wisman regional., Layanan penerbangan domestic didominasi budget airline -> penurunan daya beli pengunjung., dan pertumbuhan pasar yang lambat.. Kemudian adanya potensi yang menjanjikan , namum momentum realisasi harus menjadi perhatian, terdapat 466 obyek wisata alam di Sumbar, 282 wisata budaya, 24 wisata khusus, 448 obyek sejarah, yang tersebar di 12 kabupaten dan 7 kota di Sumbar. Kenyataan baru sedikit yang terkelola secara professional, : Nuansa Maninjau Resort, Anai Resort, Beach Resort di Sikuai dan Cubadak., masih banyak kesempatan yang laus, seperti Danau Singkarak, Maninjau, Diatas-Dibawah, Taman Hutan Raya Bung Hatta dan Rimbo Panti, Lembah Harau, Istano Pagaruyuang, Perkampungan Minangkabau, Beach Resort di Mandeh dan mentawai, dsbnya.
Wisata Nusantara amat menjanjikan: tahun 2002 sebanyak 563.000 orang, 2.7 hari/ kunjungan, pengeluaran rata-rata Rp. 175k / hari. Tahun 2006, 4,5 juta orang, 2,9 hari, Rp. 262k/ Hari.

Kemudian Pak Emirsyah melanjutkan dnegan Referensi Pengunjung Mancanegara yang perlu diperhatikan, Sebagai destinasi, Sumatera Barat bejuang kearah citra seperti destinasi lain, Peluang perbaikan agar Sumbar masuk pilihan tujuan wisata, serta langkah-langkah berikutnya.
Tak lupa beliau menyampaiakn perlunya Email Addres, jadi kalau ada makalah dalam SSM 2007 tidak perlu hard copynya, cukup soft copynya dikirimkan oleh panitia SSM 2007 ke Email masing-masing, kalau harus bawa cetakan, pulangnya nanti udah menjinjing sekopor tas, hal init telah ditangkap oleh panitia SSM 2007 seperti adanya website www.saudagarminang.

com yang memuat begitu banyak informasi, saya sendiri telah manyigoknyo, yo sabana santiang, konon ini hasil karya member Rantau net, add. Ronald Chandra., penulis melihat Firdaus mencari Ronald untuk memngnalkan Ronald untuk sedikit menginfokan sedikit tentang website ini.

Diteruskan oleh penyampaian oleh para panelis lain yang membicarakan begitu besar potensi yang bisa ditangkap oleh Saudagar Minang. Juga disampaikan oleh Pak Hasan Basri Ketua APPSI DKI yang "curhat" tentang kebijakan pasar di Tanah Abang yang sangat meluluh lantakkan para pedagang pasar urang Minang., seperti adanyak Mall, Super Market, Hypermart, kemudian juga beliau menerangkan tentang adanya produk impor yang menguasai pasar tradisional dan moderen, Adanya marginalisasi dan ketimpangan, sepertinya perlu disikapi oleh Pemda secara arif, kemudian beliau melanjutkan tentang peremajaan pasar tradisional dan terakhir perlunya kekompakan pedagang Minang.
Sementara nara sumber lain, pak Asril Das menyampaikan tentang jasa pendidikan , tentang percetakan, tentang toko buku.

Selanjutnya Pak Aizirman Djusan, tampil, beliau memperkenalkan diri beliau lahir di Bkt, ibu dari Tanah Datar, ayah dari Padang Panjang dan yang membanggkan beliau dengan bangga menyatakan beliau alumni SMA 1 Bukittinggi tanpa tambahan keterangan kelanjutan pendidikan beliau.

kita melihat selama even ini tidak ada penonjolan Gelar Akademis yang ditulis di Topi pet, di ID Card, di Tas, dalam pengenalan diri waktu dialog interaktif dsbnya, , Sepertinya semua kita bisa menilai dari substansi, pemikiran, brain, communication skillnya, dari sikap, attitudenya dan dari cara seseorang memperlakukan orang lain akan merefleksikan tingkat pendidikan seseorang, Gimana orang percaya kita punya SIM B 2 Umum sementara "manggantuang Kopleng" saja nggak becus.

Maaf, saketek malenceng, kembali nara sumber Kanda Aizirman, beliau memaparkan tentang Strategi Penguasaan Peluang Usaha Melalui Pemenuhan Kebutuhan SDM TIK Sumbar. Beliau memulai dengan adanya kesepakatan Internasional, dengan adanya MDG (Millinium Development Goals), WSIS (World Summit On The Information Society) dan WTO (World Trade Org). kemudian peran Informsi di era Global, sebagi factor produksi penting diluar 4 M (Money, Man, Material dan Machine), Collective knowledge, Inter-relationship medium,, dan kecendrungan global. Seterusnya belkiau melanjutkan tentang ICT Mapping in Indoensia, dan terakhir roadmap menuju masyarakat informasi Indonesia 2015. yang lebih hangat ketika Uda Aizirman, alumni SMA 1 Bkt ank. 1972, menyampaikan tentang Mewujudkan Science Park di Ranah Minang, tentu ada pertanyaan, what is Science Park. Science Park is a property-based intiative wich has formal operational links with an university or other higher educational or research institution.

Di akhir penyampaian beliau mengunci dengan Key Factor and Enabler : SDM merupakan Key Factor dalam pembangunan ekonomi, SDM harus memliki kompetensi dan standar yang sesuai dnegan pasar global serta TIK merupakan "key enabler" dalam mendudkung proses pendidikan dan untuk mengembangkan kapasitas bangsa, khususnya ranah (Red).
Dalam sesi QA, seorang peserta panel diskusi, yaitu seorang Pelukis Potret (Oil on Canvas) yang juga panjojo lukisan, Elthaf, menyapaikan concern-nya dan mengencourage Customer Satisfaction, kalau istilah Pak Antonio adalah Service Excellence di kalangan usaha yang dikelola urang minang, secara attitude kita jauh kalah dengan saudagar Cina, apa lagi kalau sudah menyakut on time, komitmen, focus dan konsisten. hal ini mendapat tanggapan yang luas dari Direktur Utama Garuda dan juga Para panelis lainnya, karena ini adalah kunci bisnis itu sendiri.
Acara ini berlangsung sampai jam 24:00, dan selanjutnya adalah acara Networking antar saudagar.

Karena mata nggak bisa diajak lagi kompromi, karena saya mengikuti setiap pembicaraan setiap kata per kata dan sering memberikan aplaus dan belum lagi salam kanan kiri yang siang dan malam itu banyak sekali ketemu dengan teman-teman. Sehingganya saya cepat minta izin pulang dan saya menompang pulang ke rumah dengan uda Prof. dr. H. K. Suheimi, SPOG, Dokter ahli kandungan top, pengusaha sukses, ustadz, Penulis produktif yang selalu mengakhiri tulisan beliau dnegan ayat-ayat al Quran dan juga dengan adapt Minang, Pemilik RS Bunda Padang dan RS PMC di Pekanbaru serta SPBU. Lucunya, diskusi kami berdua berlanjut setelah sampai di rumah kakak saya di Padang, kami lanjutkan diskusi ini berdua di depan rumah, diskusi yang cukup panjang tentang bisnis, tentang Saudagar Muhammad yang Padang Ekspres merasa perlu menerbitkan pada Koran Padeks hari Jumat, 19 Oktober dan mendapat sambutan yang hebat di maliling list Rantau Net. Saudagar Muhammad ini beliau adopsi menjadi Saudagar Minang, apakah mungkin, semoga deh, kata beliau, kita menuju bagaimana Nabi besar Muhammad berdagang.

Pagi, Minggu ini, saya diharapkan hadir dalam launching MAPPAS yang diketuai oleh Pak Brigjen TNI (Purn) DR. Pak Saafruddin Bahar dan Sekretaris Ibu Nuraini B. Prabdanu, Marketing manager Hotel Mercure Jakarta. Sekali gus pelantikan MAPPAS Sumatera barat, tapi saya juga harus menghadiri acara baralek di Pekanbaru sorenya, jadilah saya pagi itu jam 7 sudah di rumah urang gaek di Biaro, terus maota lamak dnegan Zulkifli, teman di SMA 1 Bkt yang sudah 27 tahun nggak ketemu di kadai katupek di Bkt, jam 10:00 barayo ke rumah Nandes di Lambah, ketemu uda Israr, jam 5 sore saya sudah sampai di pekanbaru untuk menghadiri resepsi pernikahan anak teman.
Informasi lainnya, Pak Nofrin yang adalah Sekjen MPKAS nggak bisa hadir karena sedang di Paris, perancis, tapi beliau malam itu beberapa kali meng SMS saya tentang KA di Sumbar, tapi siangnya saya sempat ketemu sohib beliau Pak Wilfred, seorang Photografer kondang dari Ibu Kota.

Dari rentang panjang usaha yang dilakukan panitia SSM 2007 dan bagaimana saya melihat secara langsung kehadiran Pak Firdaus bersama Pak Azwar Anas, Pak Basril Jabar, Pak Rainal Rais para Kadinda Sumbar, para Panitia seperti Ronald Chandra dll di Pekanbaru mensosialisakan SSM 2007 kepada orang Minang di Riau tanggal 8 September 2007 dan seringnya saya berteleponan dengan Add. Firdaus, nampak sekali begitu bertungkus lumusnya Pak Firdaus dan team pantia bekerja untuk suksesnya acara yang merupakan tonggak sejarah karena ini baru pertama diadakan dan bayangkan kalau SSM 2007 gagal, lalok pinanglah awak sadonyo...,

Begitu pula saya melihat foto-foto dokumentasi di Buku Panduan SSM 2007 nampak banyak foto add. Firdaus dengan para penggagas yang juga adalah tokoh-tokoh Minang di Jakarta serta panitia SSM 2007 berfoto bersama dengan Wapres di kediaman Wapres juga di Rumah kediaman menteri Bang Fahmi dllnya, Nampak sekali begitu profesionalnya acara ini dikemas tak kurang Pak Harun Zain, mantan Menteri Tenaga Kerja, pak Letjen TNI Purn Azwar Anas mantan Menko Kesra, Pak Hasan Basri Durin turun aktif, malah Pak Azwar Anas sampai malam minggu jam 00:00 pakai tongkat beliau masih energik mengikuti dialog interaktif, sepertinya beliau ingin mengawal acara ini berjalan dengan sukses, juga dibagikan Buku Merah Kebangkitan Saudagar Minang setebal 400 halaman yang dibagikan secara gratis kepada peserta SSM 2007

Sehingga ada pikiran bagi kita kalau toh masih ada yang menanyakan "kok kini diadoan, kanapo indak dulu, atau tahun 2009, 2011" dsbnya, saya melihat pertanyaan terlalu naïf dan sepertinya kurang manyimak atau terlalu asyik baciracau di sudut sana sehingga informasi yang didapat hanya didapat sepotong-potong., kalau akan ada pahlawan kesiangan, diharapkan bisa diakomodir dengan baik, toh masih belum pahlawan kemalaman.
Saya melihat pada dialog interaktif ada yang sedikit balabiah-labiah-an atau bakalabihan, tapi saya melihatnya positif saja, mungkin over spirit lah, toh masih dalam range, he..he..
Biasalah, setiap sesuatu kerja uyang mulia akan ada ganjalan, tergantung kita mengkomodirnya saja, Aturable saja, (Diatur se lah) he..he.., semua kita punya kelebihan dan kekurangan, dan setiap kekurangan perlu seribu akal untuk memolesnya, nasi yang sudah bubur saja bisa jadi enak, khan ada Cak kue, Saus tomat dsbnya, Acara SSM 2007 betul-betul sebagai mengulang dan membuhul silaturrahim bagi saya, Benang merah sudah direntang oleh SSM 2007, kita tinggal menterawangkan dengan rancak dan smart saja lagi, ada yang sudah beberapa tahun nggak ketemu ketemu lagi di SSM, dan ada yang selama ini kenalan di E-mail, sudah kopi darat dan malah baru kenal karena teman dari teman saya.

Waktu saya ketemu Koordinator keamananan SSM 2007, Pak Drs. Kombes Mishar, Direktur Samapta Polda Sumbar, yang adalah kawan sajak ketek dan kawan seperjuangan di Magelang tahun 1980, beliau langsung infokan kalau Ajudan Wapres adolah kawan kito waktu di Magelang tahun 1980 dulu, saya langsung mencari Pak Kolonel AU Asnam Muhidir, ajudan Wapres, setelah sedikit basa basi, kami langsung akrab karena pernah seperjuangan dulu di Lembah Tidar Magelang tahun 1980, beliau juga adalah putra pegawai Caltex Rumbai. Tentunya bakodak ciek jo ajudan Wapres, Evidence dong, tanda pernah basuo, he..he..
Waktu jalan di depan Restoran, seseorang melambai, wah ternyata Andi, pengusaha Minang yang sukses dari Malaysia yang membuka jaringan yang kuat di China, dialah yang membawa saya City tour di KL sampai ke Genting Highland, dia membangun mesjid sendiri di kampuang, selagi maota lamak dengan Andi, lewat pak Djasril Marin, Mayor jenderal, mantan DANPUSPOM TNI dnegan pak Bustamam, orang Lintau Pemilik Restoran Sederhana yang menggurita cabangnya sampai ke negara tetangga, karena Andi kenal dengan pak Djasril dan pak Bustamam jadilah kami duduak sameja selama setengah jam maota lamak, kemudian ikut bergabung Pak Kombes Mishar, tentunya bakodak ciek, evidence dooong.
Ketika lewat di Lobby ketemu pak Bupati Agam, dan malah beliau nanya, "Thaf mana ketua IKLA Riau", saya bilang beliau sedang di Amerika, beliau juga bilang, "Jaan sampai ndak datang pulo angku tanggal 4 nov, karena ambo ado hajat ko ha". Kemudian dengan beberapa alumni SMA 1 Bkt yang sebelumnya sudah dekat dan sering bersilaturahim, seperti dengan Uda Aizirman Djusan, Add. Firdaus HB, Ketua SSM 2007, juga sempat ketemu dengan Uni Tati, alumni 1976 da samo rang IV Angkek Canduang, suami Uni Tati adalah isteri pak walikota Jakarta Selatan, saya jadi ingat waktu ada silaturrahim alumni dnegan Isteri Gubernur Sumbar, alumni SMA 1 Bkt angk., 1976 dan juo sakampuang di Hotel Ibis Pekanbaru tahun 2006. tapi ndak sempat bakodak doh, he..he.., juga ketemu dan salaman dengan Dirut PT Semen Padang, isteri beliau teman seangkatan di SMA 1 Bkt, dengan Wali Kota Bukittinggi, alumni SMA 1 Bkt 1965. juga ketemu John Sakur ank, 80

Yang sangat mengembirakan adalah bisa bersilaturrahim dengan sanak keluarga besar Rantau Net, saya dengan sohib ambo di Pakanbaru Pak Zainul Akhir mencari rang RN dan bakodak basamo-samo, seperti dnegan Pak Firdaus HB, Ketua panitia SSM 2007, Add. Hadi Saputra, Ibu Nuraini, Sanak Ronald, Sanak Bobby Lukman, Pak Brigjen Purn Saafruddin, Komnas HAM, pak Chaidir, 80 tahun, Pak K. Suheimi, pak M. Syahreza, pak Herman Jambak, Uni Djan, dll anggota Rantau net, Cuma dengan Pak Aslim Nurhasan nggak sempat ketemu karena beliau sibuk di secretariat.

Saya jadi ingat IKMR juga membangun jejaring yang bagus di Riau, apalagi banyak ketua partai adalah sumando urang Minang, seperti ketua Umum PAN Riau, Ketua Umum PKS Riau, Ketua Umum PPP Riau, Ketua Umum PDIP Riau, malah mantan Gubernur Riau sebelumnya juga adalah sumando Minang.

Tentunya selama SSM 2007, kami dari Riau selalu berkordinasi dan berdiskusi sampai larut malam, Sambil makan siang saya sempat bersdiskusi dengan Pak Marjoni Hendri, Ketua Penyalur Pupuk Riau, yang kuda pacunya ikut pacu kudo di Bukittinggi senin ini, Pak Syamsul Hidayah Kahar, pengusaha dan anggota DPRD Riau, Pak Seno Andri, Akademisi dan mantan agt DPRD Riau, Pak Dino Prima, Bappeda Riau, Wasek IKMR Riau, Pak Fauzi Gani, AKLI Riau, Pak Sudirman, Swasta di Riau, sementara Pak Basrizal koto hilir mudik melihat kami basitagang sambil galak gadang.

Oh ya, waktu acara ini saya sudah siapkan jas dan juga batik, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya saya memakai kostum gaya Bill Clinton, yaitu Levi's 501 dan baju kotak-kotak halus, busana khas saya, sehingganya saya bisa nyelinyap di antara wartawan dekat dengan objek pemotretan, dan bisa dekat dengan stage tempat pidato, malah ada panitia yang mengundang saya untuk hadir pada konfrensi Pers, tapi setelah dia tahu saya, kami langsung ketawa ngakak, ei da Elthaf mah yooo teriaknya diantara kerumunan wartawan.

Liputan ini saya tulis di Padang, Bukittinggi dan Pekanbaru dengan semangat ikut membuhul silaturahim urang awak di rantau dan ranah.
Mohon maaf kalau nggak berkenan, oh ya, ntar ya..., saya simpan name card beliau-beliau ini dulu ya..., sudah tu ambo ka cigin pulang ciek dulu, udah sore nih..., jam 4 lewat.